Aku Bermimpi Masuk Dimensi Ibu dan Bertemu Tuhan

Oleh VOXBLICK

Sabtu, 10 Januari 2026 - 01.30 WIB
Aku Bermimpi Masuk Dimensi Ibu dan Bertemu Tuhan
Mimpi menembus dimensi ibu (Foto oleh Mo Eid)
<>

VOXBLICK.COM - Malam itu, hujan turun tanpa suara. Aku terjaga di antara sisa-sisa mimpi, tapi ada sesuatu yang anehseolah-olah aku terlempar ke dalam dunia lain. Dinding kamarku berubah menjadi kabut tipis berwarna kelabu, tirai melayang tanpa angin, dan udara terasa berat seperti direndam dalam air. Aku menahan napas, menunggu sesuatu terjadi. Lalu, suara samar memanggil namaku. Suara seorang wanita, lembut, namun penuh desakan. "Pulanglah, Nak. Sudah waktunya."

Aku melangkah tanpa kendali, mengikuti suara yang seolah berasal dari segala arah. Setiap langkahku menenggelamkan kaki ke lantai yang tidak lagi padatlebih mirip lumpur dingin daripada keramik. Aku tahu aku tidak sedang bermimpi biasa.

Ini adalah dimensi lain, dimensi yang disebut orang-orang sebagai "ibu": tempat di mana jiwa-jiwa tersesat mencari makna, dan waktu seolah berhenti berputar.

Aku Bermimpi Masuk Dimensi Ibu dan Bertemu Tuhan
Aku Bermimpi Masuk Dimensi Ibu dan Bertemu Tuhan (Foto oleh KoolShooters)

Langkah-Langkah Menuju Dimensi Ibu

Segalanya di sekitarku berubah menjadi asing. Foto-foto di dinding menampilkan wajah-wajah yang tak kukenal, namun mereka semua menatapku dengan mata kosong. Aroma tanah basah dan bunga melati memenuhi udara.

Aku bisa mendengar bisikan-bisikan, bercerita dalam bahasa yang seakan pernah aku dengar di masa kecil. Aku mencoba berbalik, tapi lorong yang kulalui terus memanjang, seolah-olah rumah itu menelanku perlahan.

  • Bayangan panjang melayang di antara ruang tamu, menghalangi cahaya samar dari lampu gantung.
  • Jam dinding berdetak mundur, detik-detiknya seolah menggerogoti usiaku sendiri.
  • Dari jendela, kulihat sosok perempuan berdiri di bawah hujan, tubuhnya tembus cahaya, matanya kosong namun menangis darah.

Aku ingin lari, tapi kakiku terpaku ke lantai. Tiba-tiba, tangan-tangan dingin menyentuh pundakku. "Sudah waktunya bertemu Tuhan," bisik suara itu di telingaku, kali ini lebih jelas, lebih tegas.

Pertemuan Tak Terduga dengan Tuhan

Aku dibawa ke sebuah ruangan tanpa pintu, tanpa jendela. Cahaya putih menyilaukan, tapi di tengah ruangan itu, ada sosok yang hanya bisa kuterjemahkan sebagai "Tuhan.

" Tidak berbentuk manusia, tidak juga makhluklebih seperti siluet yang menyerap seluruh cahaya di sekitarnya. Aku tidak bisa melihat wajahnya, namun aku tahu, ia sedang menatap langsung ke dalam jiwaku.

"Kenapa aku di sini?" suaraku sendiri terdengar jauh, seperti berasal dari dalam sumur.

Sosok itu tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ribuan suara berbisik di kepala: pengakuan, penyesalan, doa, dan tangisan yang seolah berasal dari jutaan jiwa.

Aku merasa tubuhku tercerabut, ingatan-ingatan masa kecil mengalir derassaat aku memeluk ibu, saat aku menangis di pelukannya, saat aku berjanji tak akan pernah melupakan namanya. Tapi semuanya terasa kabur, seperti mimpi buruk yang terlalu nyata.

Rahasia Dimensi yang Membeku

Aku mencoba melawan, tapi semakin aku berontak, semakin dalam aku tenggelam dalam dimensi ibu. Aku melihat kilasan-kilasan:

  • Sosok ibuku berdiri di ambang pintu, wajahnya bersinar namun matanya kosong.
  • Bayangan hitam bergerak cepat di sudut mataku, berbisik tentang rahasia yang tak boleh aku tahu.
  • Sebuah cermin retak menampilkan bayanganku sendiri, namun wajahku berubah menjadi wajah ibudan bibirnya tersenyum aneh.

Semakin lama, aku menyadari satu hal menakutkan: setiap jiwa yang pernah masuk ke dimensi ini, tidak pernah sepenuhnya kembali. Mereka meninggalkan sebagian dari dirinya, terjebakmenjadi bagian dari bisikan dan bayangan yang mengisi rumah itu.

Antara Nyata dan Tidak Pernah Kembali

Aku memohon, berteriak, memanggil nama ibu, berharap aku bisa keluar dari mimpi buruk ini. Tapi cahaya itu menelanku, suara-suara semakin membungkam hatiku. Terakhir kali aku mendengar suara Tuhan itu, ia berbisik pelan di telingaku:

"Semua anak akan kembali ke ibu. Semua jiwa akan pulang. Tapi tidak semua dapat membawa pulang dirinya sendiri."

Aku terbangun dengan tubuh basah oleh keringat. Kamarku tampak biasa sajanamun di cermin kecil di meja, aku melihat bayangan lain tersenyum di belakangku. Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa.

Tapi aroma tanah basah dan melati masih menguar di udara, dan di luar, suara hujan masih bergema. Apakah aku benar-benar telah kembali, atau hanya sekadar terbangun di dimensi yang berbeda?

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0