Aku Membawa Saudara Kembali Tapi Sosok Itu Bukan Dia
VOXBLICK.COM - Malam itu, hujan turun tanpa ampun. Angin menderu, mengguncang jendela tua di rumah pusaka keluarga kami. Aku duduk terpaku di lantai ruang tengah, menatap cahaya lilin yang gemetar, seolah-olah api itu tahu betapa gentingnya malam ini. Di hadapanku, sebuah foto lama berbingkai kayuwajah saudara laki-lakiku, Arya, yang telah tiada tujuh hari lalu.
Rasa kehilangan menorehkan lubang hitam di dadaku. Ibuku hanya menangis diam-diam di kamarnya, sedangkan ayah bahkan tak kuat lagi menatapku.
Dalam keputusasaan, aku teringat bisikan seorang nenek tua di pasar: tentang ritual kuno yang bisa membawa kembali orang yang pergi. Tidak ada yang benar-benar percaya, kecuali mereka yang benar-benar hancur oleh duka. Seperti aku malam itu.
Aku menyiapkan segala yang dibutuhkan: tanah dari makam Arya, potongan rambutnya yang diam-diam kusembunyikan, dan darah segar dari jari telunjukku sendiri. Aku bergumam pelan, membaca mantra yang setengah aku mengerti, setengah aku takutkan.
Setiap kata terasa seperti paku yang menancap di udara, dan udara di sekelilingku tiba-tiba jadi lebih dingin.
Bayangan di Balik Pintu
Tepat ketika lilin terakhir padam, suara langkah kaki terdengar dari arah lorong. Aku membeku. Tidak ada seorang pun di rumah ini kecuali aku dan ibuku yang masih terisak di kamar.
Suara itu semakin dekat, berat dan terseret, seperti seseorang yang baru belajar berjalan kembali setelah lama tidur.
"Arya?" panggilku, suaraku nyaris tak terdengar. Tak ada jawaban, hanya suara napas berat dan aroma tanah basah yang tiba-tiba memenuhi ruangan.
Sosok itu muncul di ambang pintu. Wajahnya memang wajah Arya, tapi matanyamatanya kosong, hitam seperti lubang tanpa dasar.
Kulitnya pucat dengan bercak tanah, dan bibirnya bergerak-gerak seolah berusaha mengucapkan sesuatu yang tak bisa kupahami.
Ketakutan yang Mengendap
Malam-malam berikutnya bukanlah malam yang penuh kehangatan seperti dulu. Aryaatau apapun yang kembali bersamaku malam ituberjalan di rumah tanpa suara.
Ia hanya berdiri diam di sudut gelap, mengawasi, kadang menggumam dalam bahasa yang tidak pernah kudengar.
- Ibuku mulai bermimpi buruk, setiap malam berteriak menyebut nama Arya.
- Benda-benda di rumah sering berpindah tempat tanpa sebab.
- Burung-burung berhenti berkicau di halaman, bahkan anjing tetangga tak berani melintas di depan rumah kami.
Aku mulai sadar, apa yang kembali bukanlah Arya. Ia meniru cara bicara, meniru senyumnyatapi ada sesuatu yang sangat salah. Setiap kali ia menatapku, aku merasa ada bagian dari diriku yang perlahan direnggut.
Aku mencoba bicara padanya, bertanya mengapa ia kembali, tapi ia hanya tersenyumsenyum lebar yang aneh, terlalu lebar untuk wajah manusia.
Rahasia Ritual Terlarang
Aku mencari nenek tua yang memberiku petunjuk tentang ritual itu. Tapi tak ada seorang pun yang mengaku mengenal namanya, bahkan para pedagang di pasar hanya menggeleng ketika kusebutkan ciri-cirinya. Seolah-olah ia menguap bersama kabut pagi.
Aku mulai membaca buku-buku tua di loteng, mencari tahu apa yang salah dengan ritual itu. Satu kalimat yang kutemukan membuat darahku membeku:
"Apa yang kembali dari kematian bukanlah manusia, melainkan bayangannya."
Aku menutup buku itu, tubuhku gemetar. Malam itu, suara langkah kaki kembali terdengar di lorong. Kali ini bukan satu, melainkan dua, tiga, lalu empat... Seolah-olah bayangan Arya telah memanggil sesuatu yang lain dari balik gelap.
Teror Tak Pernah Usai
Kini, setiap malam di rumah ini dipenuhi suara-suara aneh. Bisikan di bawah tempat tidur, ratapan di balik dinding, dan ketukan-ketukan samar di jendela. Ibuku semakin pucat, ayah mulai berbicara sendiri dalam tidurnya.
Aku tak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan di sini.
Kadang aku berpikir untuk pergi, meninggalkan semua ini. Tapi setiap kali aku mencoba membuka pintu depan, Arya berdiri di sanadiam, dengan mata hitam itu. Ia tersenyum, lalu berbisik: "Jangan pergi. Kita keluarga, selamanya…"
Malam ini, aku mendengar langkah-langkah baru. Bukan hanya satu, tapi banyak. Mereka datang untukku. Aku menyesal pernah membangkitkan saudara kembali. Tapi sekarang, pintu itu telah terbukadan tidak ada yang bisa menutupnya lagi.
>Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0