Anak-Anak Hilang Misterius Usai Gempa Mengguncang Kota Kami
VOXBLICK.COM - Langit malam itu seperti retak, menahan isak yang tak mampu didengar siapa pun. Setelah gempa dahsyat mengguncang kota kami, ketakutan menempel di dinding-dinding rumah yang retak dan di sudut-sudut jalanan yang luluh lantak. Namun, yang lebih menakutkan dari getaran bumi adalah kenyataan bahwa anak-anak mulai menghilang satu per satu tanpa jejak. Setiap malam, satu nama lagi hilang dari daftar, meninggalkan keluarga yang terisak dan tetangga yang bisu karena ketakutan.
Aku ingat betul malam pertama ketika Dita, gadis kecil berambut kuncir dua dari blok sebelah, tidak pulang ke rumah. Ibunya berteriak memanggil-manggil namanya, suaranya menggema di antara reruntuhan.
Pencarian dilakukan, namun hanya menemukan boneka kain yang terkoyak di bawah pohon beringin tua. Sejak saat itu, seolah-olah udara malam menjadi lebih berat, membawa bisikan-bisikan aneh yang hanya terdengar saat lampu-lampu padam.
Malam yang Tak Pernah Tenang
Sehari setelah Dita hilang, tubuh kota kami berubah. Semua orang menahan napas, takut membiarkan anak-anak mereka keluar malam meski hanya untuk sekadar mengambil air dari sumur. Namun, entah kenapa, setiap malam tetap saja ada yang hilang.
Aku sendiri melihat Rian, anak tetangga sebelah, berjalan sendirian di lorong gelap menuju reruntuhan sekolah. Aku memanggilnya, tapi dia sama sekali tidak menoleh, seolah-olah ada suara lain yang lebih kuat memanggilnya dari kegelapan itu.
Suara-suara aneh mulai sering terdengar saat malam tiba. Ada yang berkata mendengar suara anak-anak bernyanyi di tengah reruntuhan, padahal semua pintu telah dikunci rapat.
Beberapa orang dewasa mengaku melihat bayangan kecil berlarian di antara puing-puing, lalu menghilang begitu saja ketika didekati. Ketakutan berubah menjadi paranoia tak ada yang benar-benar tidur nyenyak lagi di kota kami.
Bisikan dari Reruntuhan
Suatu malam, aku nekat mengikuti suara tawa kecil yang samar dari arah gereja tua yang hancur sebagian. Hatiku berdegup keras saat kaki gemetar melangkah mendekati bangunan itu.
Dalam remang cahaya senter, aku melihat sekelebat sosok kecil berlari di balik tembok yang nyaris roboh. Aku berbisik memanggil namanya, “Rian, itu kamu?” Tapi hanya ada keheningan yang menjawab, diselingi desir angin yang membawa bau tanah basah dan debu reruntuhan.
- Pintu-pintu rumah diganjal kursi dan lemari tiap malam.
- Orang tua saling menjaga, saling mengawasi, tapi tetap saja anak-anak hilang.
- Tak satu pun jejak kaki ditemukan, seolah mereka ditelan bumi bersama gempa.
Aku dan beberapa warga mencoba berjaga, duduk melingkar di ruang tamu dengan senter dan parang. Tapi selalu saja ada rasa mengantuk yang tiba-tiba menyerang, dan ketika kami terbangunsatu anak lagi telah tiada.
Seseorang berkata, mungkin ada sesuatu di balik gempa, sesuatu yang lapar dan hanya bisa dikenyangkan dengan tawa dan tangis anak-anak.
Misteri yang Membekas di Hati
Pagi itu, aku menemukan sesuatu di depan pintu rumahku: sebuah mainan kayu kecil, milik adikku yang kini juga telah menghilang. Tak ada suara, tak ada jejak, hanya mainan itu yang tergeletak di antara sisa-sisa getaran malam.
Aku menatap langit yang mulai cerah, tapi di sudut kota, bayangan-bayangan kecil masih menari di antara reruntuhan, seolah menunggu giliran berikutnya.
Hingga hari ini, aku masih bisa mendengar suara tawa samar di antara bisikan angin malam. Setiap malam, aku mendengar langkah-langkah kecil di luar jendela, dan setiap pagi, satu nama lagi menghilang dari daftar.
Kota kami kini bukan hanya dihantui oleh gempa, tapi juga oleh misteri anak-anak hilang yang tak pernah kembali. Dan entah kapan semuanya akan berakhiratau apakah aku yang akan menjadi nama berikutnya yang lenyap tanpa jejak.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0