Peringatan Putriku tentang Pria Tanpa Wajah yang Terlupakan

Oleh VOXBLICK

Minggu, 18 Januari 2026 - 02.00 WIB
Peringatan Putriku tentang Pria Tanpa Wajah yang Terlupakan
Peringatan pria tanpa wajah (Foto oleh Julia Hym)

VOXBLICK.COM - Angin malam kembali merambat lewat celah-celah jendela tua rumahku, membawa aroma tanah basah dan bisikan yang tak kukenali. Aku duduk membisu di kursi rotan, menatap jam dinding yang bergerak lamban. Putriku, Lira, sudah beberapa hari terakhir terlihat murung dan ketakutan. Setiap malam ia menolak tidur di kamarnya, selalu meminta tidur di sampingku. Tapi malam itu, aku terlalu lelah untuk menuruti keinginannya.

“Ayah, jangan biarkan dia masuk ya,” bisiknya pelan sebelum menutup pintu kamar. Aku hanya mengangguk, menganggap itu sekadar mimpi buruk anak-anak. Tapi, sorot matanya yang memohon membuatku sedikit gelisah.

Aku mencoba menepis rasa khawatir itu dengan berpikir, siapa yang bisa masuk ke rumah kami di tengah kampung kecil seperti ini?

Peringatan Putriku tentang Pria Tanpa Wajah yang Terlupakan
Peringatan Putriku tentang Pria Tanpa Wajah yang Terlupakan (Foto oleh Ahmed akacha)

Suara di Balik Jendela

Malam semakin larut ketika aku terbangun oleh suara ketukan pelan di jendela. Rasanya seperti ada kuku yang menggaruk kaca, berulang-ulang. Aku diam, menahan napas, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya angin atau ranting pohon yang tertiup.

Tapi suara itu terus berlanjut, semakin keras, seolah-olah sesuatuatau seseorangberusaha masuk. Samar-samar, aku mendengar Lira menangis dari kamarnya.

Dengan langkah berat, aku berjalan menuju kamar Lira. Ketika aku membukakan pintu, ia langsung berlari memelukku. “Ayah, dia sudah di luar. Jangan lihat ke jendela, Ayah. Jangan pernah lihat!” Bisikannya membuat bulu kudukku berdiri.

Aku ingin menenangkan, tapi lidahku kelu. Di luar, ketukan itu berubah menjadi hentakan, menggema di seluruh rumah.

Wajah yang Tak Pernah Bisa Diingat

Perasaan takut merayap perlahan saat aku melirik jendela. Di antara kabut tipis, aku melihat sosok tinggi berdiri di luar. Tubuhnya seperti bayangan wajahnya... wajahnya seolah-olah tidak ada. Hanya permukaan datar, kabur, dan kosong.

Sekilas, aku merasa telah melihatnya di suatu tempat, tapi semakin aku berusaha mengingat, semakin hilang dari ingatan.

  • Ketukan di kaca berubah menjadi suara mencakar, seperti kuku-kuku tajam menyeret-nyeret permukaan tipis.
  • Lira berulang kali memohon agar aku menutup mata, menolak untuk menatap makhluk itu.
  • Semua lampu di rumah tiba-tiba meredup, menyisakan bayangan panjang yang menari di dinding.

Dalam detik-detik mencekam itu, aku teringat ucapan Lira “Ayah, jangan biarkan dia tahu kalau Ayah melihatnya. Ayah akan lupa, Ayah akan lupa... seperti yang lain.” Tanganku gemetar.

Makhluk itu mendekat, wajah tanpa fitur menempel di kaca, seolah menantangku untuk mengingat atau melupakan.

Pergulatan dalam Kegelapan

Ketika suara ketukan berhenti, keheningan justru terasa lebih menusuk. Aku menahan napas, berusaha meyakinkan diri bahwa semua hanya ilusi. Namun, suara Lira yang memanggil namaku dengan nada putus asa memaksaku kembali ke kenyataan.

Aku mencoba meraih ponselku, tapi layar kosongsemua kontak, foto, pesan... hilang begitu saja. Seperti ada bagian hidupku yang terhapus.

Ketika aku berbalik, Lira sudah tidak ada di sampingku. Hanya boneka kecil miliknya yang tergeletak di lantai, menatapku kosong dengan mata kaca. Aku mencari ke seluruh rumah, memanggil namanya, tapi hanya gema suaraku sendiri yang kembali.

Di jendela, bayangan itu kini sudah menghilang, menyisakan embun dingin yang membentuk pola aneh seolah-olah menulis sesuatu yang tak bisa aku baca.

Akhir yang Menggantung di Ambang Ingatan

Keesokan harinya, aku duduk di kursi yang sama, menatap ke luar jendela. Rumah ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Ada sesuatu yang hilang, tapi aku tak tahu apa. Nama putriku, wajahnya, bahkan suaranyasemua mengabur di kepalaku.

Hanya rasa hampa yang menjerat, dan ketukan samar di kaca, terkadang masih terdengar di malam hari.

Setiap kali aku mencoba mengingat, hanya ada wajah kosong yang terbayang. Dan entah mengapa, aku merasa... dia belum benar-benar pergi.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0