Jangan Pernah Main di Warnet Malam Hari Jika Takut Halusinasi

Oleh VOXBLICK

Rabu, 03 Desember 2025 - 00.30 WIB
Jangan Pernah Main di Warnet Malam Hari Jika Takut Halusinasi
Misteri horor warnet malam (Foto oleh Zura Modebadze)

VOXBLICK.COM - Jam digital di pojok kanan layar menampilkan pukul 01.37. Di luar, hujan rintik-rintik membasahi trotoar, membuat malam itu semakin sepi dan lembap. Aku duduk di bilik nomor tujuh, hanya ditemani suara kipas komputer yang berderik dan dentingan keyboard para pelanggan yang tersisa. Warnet ini terkenal dengan suasananya yang suram, namun murah meriah untuk semalam suntuk bermain game online. Aku pikir, malam itu hanya akan diisi tawa, teriakan, dan ketegangan karena kalah menang di dunia maya. Ternyata aku salah besar.

Malam itu, aku tidak sendirian. Dua temanku, Raka dan Andri, ikut serta. Kami sudah terbiasa main hingga larut, memburu rank, dan saling ejek bila ada yang mati konyol di game. Tapi entah kenapa, suasana malam itu berbeda.

Lampu-lampu neon di langit-langit memantulkan bayangan aneh di dinding, dan sesekali aku merasa seperti ada mata yang mengawasi dari sudut-sudut gelap ruangan.

Jangan Pernah Main di Warnet Malam Hari Jika Takut Halusinasi
Jangan Pernah Main di Warnet Malam Hari Jika Takut Halusinasi (Foto oleh Tima Miroshnichenko)

Ketika jam menunjukkan pukul 02.10, tiba-tiba layar komputerku berkedip. Aku mengira itu hanya masalah jaringan, tapi tidak. Di balik pantulan layar hitam loading, aku melihat sosok perempuan berdiri di belakangku.

Wajahnya pucat, rambutnya panjang menutupi sebagian besar mukanya. Aku menoleh cepat, namun di ruangan hanya ada kami bertiga dan mas penjaga warnet yang tertidur di meja kasir.

Permainan yang Berubah Menjadi Mimpi Buruk

Andri tiba-tiba menepuk pundakku. "Lu lihat itu enggak?" bisiknya. Aku mengangguk tanpa suara. Raka yang duduk di ujung ruangan mulai gelisah, matanya menatap kosong ke layar, seolah tak benar-benar bermain.

Kami saling berpandangan, namun tak ada yang berani bicara lebih lanjut. Suasana warnet berubah udara menjadi semakin dingin, dan aroma lembab bercampur bau besi karatan memenuhi hidung.

Tak lama kemudian, chat in-game kami dipenuhi pesan dari user tak dikenal: "Kalian main bertiga, tapi ada yang keempat. Siapa dia?" Aku mengetik cepat, bertanya siapa pengirimnyatak ada jawaban.

Monitor Andri tiba-tiba menampilkan layar hitam, lalu muncul gambar seseorang berdiri di lorong warnet, persis seperti sudut tempat kami berada.

  • Suara langkah kaki terdengar di lorong, padahal tak ada siapa pun.
  • Bayangan hitam melintas di kaca bilik, padahal di luar hanya temaram lampu jalan.
  • Setiap mengetik, huruf-huruf di keyboard berubah jadi kalimat aneh yang tak kami pahami.

Dialog yang Tak Pernah Ada

Raka akhirnya berdiri, hendak keluar. "Gue enggak kuat, ini enggak bener," katanya dengan suara bergetar. Namun ketika ia berjalan ke pintu, pintu itu terkunci.

Kami mencoba membangunkan mas penjaga warnet, tapi tubuhnya dingin seperti es, napasnya berat dan matanya terpejam rapat. Di layar komputer, chat misterius itu muncul lagi: "Jangan pergi. Permainan baru saja dimulai."

Andri panik, memukul-mukul monitor hingga layarnya retak. Dari balik retakan itu, samar terdengar suara bisikan, seperti ratusan orang berbicara bersamaan.

Aku menutup telinga, namun suara itu justru semakin jelas di kepala: “Jangan pernah main di warnet malam hari jika takut halusinasi… karena kadang, yang kamu lihat bukan hanya sekadar bayangan.”

Ketika Realita dan Halusinasi Menjadi Satu

Kami bertiga akhirnya terkurung dalam ketakutan. Setiap detik berlalu seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan. Komputer terus menyala, meski lampu warnet mulai padam satu per satu.

Aku mencoba menghubungi siapa pun lewat ponsel, tapi layar hanya menampilkan wajah perempuan tadi, menatapku lekat-lekat, bibirnya merekah menunjukkan senyum ganjil.

Aku tak tahu pasti kapan aku akhirnya bisa keluar dari warnet itu. Yang aku ingat, ketika fajar menyingsing, pintu warnet terbuka sendiri dan kami berhamburan keluar tanpa menoleh ke belakang.

Sejak malam itu, aku tak pernah berani menginjakkan kaki di warnet mana pun selepas tengah malam.

Tapi kadang, saat aku menutup mata, suara bisikan itu masih terdengar. Dan di sudut mataku, aku selalu merasa, ada seseorang yang masih memperhatikanmenunggu permainan dimulai lagi.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0