Jangan Pernah Masuk ke Kabin Tua Saat Badai Mengamuk

Oleh VOXBLICK

Minggu, 11 Januari 2026 - 00.15 WIB
Jangan Pernah Masuk ke Kabin Tua Saat Badai Mengamuk
Kabin Tua Saat Badai (Foto oleh Craig Adderley)

VOXBLICK.COM - Suara petir menggelegar di kejauhan, seolah langit malam ingin merobek tanah desa. Aku masih ingat malam itu, saat badai mengamuk dan angin menerpa pohon-pohon tua di sekitar lembah. Jalanan berlumpur di bawah kakiku, sepatu sudah basah kuyup, dan hanya ada satu hal yang terlintas di benakku: mencari tempat berteduh, secepat mungkin.

Tanpa sadar, aku melewati jalan setapak yang jarang kulewati sebelumnya.

Di tengah gulita, di antara hembusan angin dan percikan hujan, aku melihatnyakabin tua yang berdiri di sudut hutan, atapnya miring, jendelanya gelap, dan aura dingin merambat di antara dindingnya yang lapuk. Aku tahu cerita tentang kabin itu. Semua orang di desa telah memperingatkanku untuk menghindarinya. Tapi malam itu, badai lebih besar daripada ketakutanku.

Bayangan di Balik Jendela

Ketika kilat menyambar, aku melihat sekilas bayangan melintas di balik jendela kabin. Lututku lemas, tapi terpikir olehnya mungkin itu hanya bayanganku sendiriatau hewan liar yang mencari perlindungan.

Aku mendorong pintu berat yang berderit pelan, berharap menemukan kehangatan di dalamnya. Aroma kayu basah dan debu tua langsung menusuk hidung. Dinding-dindingnya dipenuhi noda hitam, bekas terbakar, seolah-olah pernah terjadi sesuatu yang tak ingin diingat siapa pun.

Jangan Pernah Masuk ke Kabin Tua Saat Badai Mengamuk
Jangan Pernah Masuk ke Kabin Tua Saat Badai Mengamuk (Foto oleh Toni Tan)

Di sudut ruangan, kulihat kursi tua yang bergoyang pelan, padahal semua jendela tertutup rapat. Ada suara bisik-bisik lirih, samar, lalu menghilang saat aku mendekat. Aku mencoba menyalakan senter, namun tiba-tiba baterainya habis.

Gelap kembali menelan segalanya. Hanya suara hujan dan detak jantungku yang terdengar nyata.

Peringatan yang Terlambat

Kabin tua itu tidak pernah benar-benar sunyi. Jika kau dengarkan baik-baik, ada suara langkah-langkah lembut di loteng, seolah-olah seseorang sedang berjalan mondar-mandir di atas kepalaku.

Aku menahan napas, takut suara itu akan menyadari kehadiranku. Tanganku meraba dinding mencari penyangga, dan tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin, seperti tangan tanpa daging, menggenggam pergelangan tanganku. Aku menjerit, tapi suara itu lenyap ditelan raungan badai di luar.

  • Jendela tiba-tiba terbuka lebar, angin menerjang masuk membawa bau busuk yang menusuk.
  • Bayangan hitam melintas cepat, berdiri di sudut ruangan, menatap tajam ke arahku.
  • Kursi tua berayun makin kencang, seperti ada yang duduk di sana tanpa wujud.

Dalam kepanikan, aku berusaha keluar, tapi pintu seolah menolak dibuka. Dari luar, suara bisikan berubah menjadi teriakan. Aku mendengar namaku dipanggil, berulang-ulang, dengan suara parau yang tak kukenal.

Lantai kayu di bawahku bergetar, seakan ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam tanah. Aku menutup telinga, memejamkan mata, berharap semua ini hanya mimpi buruk.

Jangan Pernah Kembali

Ketika aku akhirnya terlempar keluaraku bahkan tak tahu bagaimana caranyahujan sudah reda. Kabin itu tampak kosong, sunyi, dan terlalu gelap. Aku berlari secepat mungkin tanpa menoleh ke belakang. Sejak malam itu, tak ada yang percaya pada ceritaku.

Tapi aku tahu apa yang kulihat dan kurasakan di dalam kabin tua itu.

Beberapa hari kemudian, saat aku melewati hutan itu lagi, aku melihat sesuatu yang membuat darahku membeku. Ada jejak kaki basah di tanah, jejak yang sangat mirip dengan jejakku malam itu.

Tapi jejak itu berakhir di depan pintu kabin, dan tak pernah keluar lagi. Kabin itu masih berdiri, menunggu badai berikutnya, menunggu seseorang yang cukup nekat untuk masuk ke dalamnya.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0