Ketika Santa Datang Dua Kali dan Membawa Teror

Oleh VOXBLICK

Jumat, 16 Januari 2026 - 04.30 WIB
Ketika Santa Datang Dua Kali dan Membawa Teror
Santa misterius di malam Natal (Foto oleh KoolShooters)

VOXBLICK.COM - Malam Natal selalu jadi momen yang kutunggu-tunggu sejak kecil. Tapi tahun itu, sesuatu yang tak pernah kubayangkan terjadi di kota kecilku, sebuah kejadian yang mengubah arti Natal selamanya. Aku masih ingat, salju turun tipis, lampu-lampu di sepanjang jalan berpendar lembut, dan aroma kayu manis dari dapur tetangga menguar ke mana-mana. Kota kami seolah berada dalam pelukan hangat Natal yang damai. Namun, damai itu hanya bertahan sampai Santa datang kedua kalidan membawa teror bersamanya.

Pertama Kali Santa Datang

Semua dimulai dengan biasa saja. Malam itu, aku dan adikku, Alma, sudah memakai piyama, duduk di lantai ruang keluarga, menunggu suara lonceng Santa seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ayah kami mengetuk jendela dari luar, berusaha meniru suara tawa Santa yang penuh ceria. Kami tertawa, Alma bahkan meloncat kecil, dan pintu pun terbuka. Di sana berdiri Santakostumnya merah terang, janggut putih lebat, mata bulat penuh kehangatan. Ia membagikan hadiah, mengelus kepala kami, dan mengucapkan, “Selamat Natal, anak-anak yang manis.”

Ketika Santa Datang Dua Kali dan Membawa Teror
Ketika Santa Datang Dua Kali dan Membawa Teror (Foto oleh Elias Lindström)

Kami tidak pernah tahu, kedamaian itu hanya sementara. Malam itu, setelah Santa pergi dan kami hampir tertidur, suara lonceng terdengar lagilebih berat, lebih lambat, seolah menggema dari kedalaman bumi.

Kedatangan Kedua: Santa Pembawa Teror

Pertama, aku mengira itu hanya lelucon ayah, ingin menambah keseruan malam. Tapi aku tahu itu bukan dia ketika langkah berat terdengar di beranda, diikuti aroma besi tua dan tanah basah yang menyengat.

Pintu depan bergetar, seolah ada sesuatu yang memaksanya terbuka. Aku menahan napas, Alma bersembunyi di balik selimut, dan ibu menggenggam tanganku erat-erat.

Santa ituatau apapun yang memakai baju Santamasuk ke ruang keluarga. Kostumnya masih merah, tapi kini ternoda lumpur dan bercak gelap, janggutnya kusut, matanya kosong tanpa cahaya.

Ia menatap kami satu per satu, senyumnya aneh, bibirnya sobek hingga pipi. Suaranya parau, “Kau sudah mendapatkan hadiahmu. Sekarang, giliranku.”

  • Ketika aku menatap matanya, ada bayangan anak-anak lain, wajah-wajah pucat dengan mata kosong, seolah memohon tolong.
  • Langit di luar tiba-tiba gelap, angin menjerit menampar jendela, dan lampu-lampu Natal meredup satu per satu.
  • Ibu membisikkan doa, Alma mulai menangis, dan ayah berlari ke arah Santa, mencoba menghalangi, tapi tubuh Santa tak bergerak sedikit punseperti patung raksasa yang hidup.

Malam yang Tak Pernah Usai

Ketika Santa mendekat, aku bisa merasakan napas dinginnya di leherku. Ia mengangkat satu jari, kuku hitam melengkung seperti sabit. “Tahun lalu, kau lupa meninggalkan kue untukku,” bisiknya. Aku membeku.

Ia mengulurkan kantung lusuh, dan aku melihat sesuatu bergerak di dalamnyatangan-tangan kecil, seperti milik anak yang tak pernah pulang.

Ayah berteriak, cahaya lampu terakhir padam, dan Santa menghilang di balik bayangan, meninggalkan bau besi dan darah. Kami terdiam, panik, menunggu pagi. Tapi ketika matahari terbit, tak ada jejak Santa, tak ada hadiah kedua.

Hanya bekas lumpur hitam di lantai, dan di jendela, bekas tangan berlumpur yang membentuk tulisan: “Aku akan kembali.”

Jejak Teror yang Membekas

Sejak malam itu, tak seorang pun di kota kecilku berani menunggu Santa sendirian. Tak ada lagi pesta Natal meriah, tak ada suara lonceng yang menggembirakan.

Setiap ada yang mengetuk pintu di malam Natal, kami saling berpandangan cemas, bertanya-tanyaSanta yang mana yang datang malam ini?

Bahkan kini, bertahun-tahun kemudian, setiap kali salju mulai turun dan aroma kayu manis memenuhi udara, aku masih terbangun di tengah malam, mendengar suara lonceng berat ituseolah mengingatkan, teror Santa yang kedua belum benar-benar usai.

Mungkin, Natal berikutnya, dia akan datang lagi. Dan kali ini, hadiah yang dibawanya bukanlah kebahagiaan, melainkan sesuatu yang jauh lebih gelap.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0