Kisah Horor di Kantor Bosku Meminta Hal yang Mengerikan
VOXBLICK.COM - Lampu-lampu neon di langit-langit kantor masih menyala terang, meski waktu sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Aku duduk di meja kerjaku, menatap layar komputer yang penuh dengan spreadsheet tak berujung. Kantor terasa semakin sunyi. Hanya suara pendingin ruangan dan langkah sepatu hak tinggi yang kadang terdengar dari koridor. Aku yakin hanya aku dan Pak Bram, bosku, yang masih bertahan di lantai ini. Atau… itukah kenyataannya?
Suasana Mencekam di Malam Lembur
Sore tadi, para rekan satu tim sudah pulang lebih awal. Sementara aku masih harus menyelesaikan revisi laporan untuk Pak Bram. Laki-laki paruh baya itu memang dikenal perfeksionis dan, entah mengapa, malam ini ia tampak lebih gelisah dari biasanya.
Dari ruangannya yang berdinding kaca, aku bisa melihat ia mondar-mandir, sesekali menatap ke arahku dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Aku hampir selesai, ketika tiba-tiba pesan muncul di layar ponselku: “Ke ruanganku sekarang.” Aku meneguk ludah. Ada rasa malas, tapi juga ketakutan aneh yang tak bisa kujelaskan.
Suara detak jam di dinding seolah menjadi semakin keras saat aku berjalan ke ruangannya.
Permintaan Tak Masuk Akal dari Sang Bos
Pintu ruang Pak Bram terbuka sedikit, membiarkan cahaya lampu mengintip ke luar. Aku mengetuk pelan, lalu masuk. Ia berdiri membelakangiku, meneliti sesuatu di jendela yang menghadap ke pekarangan belakang kantor.
“Duduk,” katanya tanpa menoleh. Suaranya berat, nyaris berbisik. Aku duduk dengan hati-hati di kursi di depannya. Ia akhirnya berbalikwajahnya pucat, mata berkantung, dan ada luka goresan kecil di pipinya yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Aku butuh bantuanmu malam ini,” katanya. Tangannya gemetar saat menyerahkan sebuah amplop coklat tebal. “Ambil ini, dan… bawa ke basement. Taruh di loker nomor 13, lalu kunci. Jangan buka, apapun yang terjadi.”
Basement Kantor dan Misteri Loker 13
Aku ingin bertanya, tapi tatapan Pak Bram membuat suaraku tercekat. Ia menatapku seolah sedang mengancam, atau mungkin meminta belas kasihan. Dengan tangan gemetar, aku mengambil amplop itu.
Rasanya berat, dan dari dalamnya seolah terdengar bunyi gesekan lembutseperti sesuatu yang bergerak perlahan.
Aku berjalan menuju lift, menekan tombol ke bawah. Lantai basement adalah tempat yang jarang sekali kudatangi. Lantai keramiknya dingin, lampu-lampu di sana berkedip-kedip.
Aku melewati deretan loker berdebu, hingga menemukan loker nomor 13. Nomor yang selama ini sering disebut-sebut dalam bisik-bisik rekan kerjakatanya, tidak boleh ada yang membukanya setelah pukul dua belas malam.
- Basement kantor sangat dingin dan gelap, hanya satu lampu yang menyala redup.
- Loker nomor 13 berada di sudut, berkarat dan tampak lebih tua dari yang lain.
- Suara aneh terdengar dari balik loker, seperti napas berat atau desahan lirih.
Aku menempelkan amplop itu ke loker, mencoba menahan rasa takut yang semakin menusuk. Saat kunci diputar, tiba-tiba ponselku bergetar. Pesan baru dari Pak Bram: “Jangan menoleh ke belakang, apapun yang kau dengar.”
Rahasia Gelap di Balik Pintu Ruang Kerja
Suasana makin menegangkan. Aku mendengar langkah kaki menyeret di belakangku, padahal aku yakin tak ada siapa-siapa di basement. Aroma anyir tiba-tiba menguar, dan suhu ruangan turun drastis. Jantungku berdegup kencang.
Aku menahan napas, memaksakan diri untuk tetap fokus pada loker di depanku.
Ketika aku hendak pergi, sesuatuentah apamenyentuh bahuku. Dingin, lembab, dan berat. Aku membeku. Lalu, suara Pak Bram terdengar dari arah pintu basement, namun suaranya terdengar aneh, seperti bergema di dua dunia berbeda.
“Terima kasih, kamu telah membantu. Tapi, sekarang giliranmu…”
Aku berbalik, dan melihat sosok Pak Bram berdiri di ambang pintu, namun matanya kosong tak berwarna, dan senyumannya perlahan membelah lebar hingga ke telinga.
Di belakangnya, bayangan lain muncul, samar-samar menyerupai tubuh manusia, tapi jauh lebih tinggi, dan… wajahnya meniru wajahku sendiri.
Malam Tanpa Akhir di Kantor Itu
Langkah kaki itu kini mendekat, menciptakan gema aneh di lorong basement. Aku ingin berteriak, tapi suara tercekat di tenggorokan. Amplop itu kini sudah tidak ada di tangankuentah sejak kapan.
Loker nomor 13 perlahan bergetar, pintunya bergerak sendiri, mengeluarkan suara yang menembus ke relung terdalam ketakutanku.
Lampu mulai padam satu per satu. Aku berlari ke arah lift, tapi pintunya terkunci. Dari ujung koridor, suara Pak Bramatau makhluk yang menyerupainyapelan-pelan mendekat, berkata dengan nada menyeramkan, “Tugasmu selanjutnya sudah menunggu…”
Entah bagaimana, aku mendapati diriku duduk lagi di meja kerjaku. Layar komputer masih menyala, spreadsheet masih terbuka, tapi jam di sudut bawah layar menunjukkan waktu yang sama seperti tadi, ketika semuanya bermula.
Suara langkah kaki kembali terdengar, dan pesan baru masuk ke ponselku: “Ke ruanganku sekarang.”
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0