Ofcom Temukan Lebih Sedikit Dewasa UK Aktif Posting Media Sosial

Oleh VOXBLICK

Rabu, 08 April 2026 - 18.30 WIB
Ofcom Temukan Lebih Sedikit Dewasa UK Aktif Posting Media Sosial
Lebih sedikit posting di media sosial (Foto oleh Viralyft)

VOXBLICK.COM - Regulator komunikasi Inggris, Ofcom, melaporkan adanya penurunan jumlah orang dewasa yang aktif memposting konten di media sosial. Temuan ini muncul dari riset terbaru yang menunjukkan porsi responden yang mengaku aktif mengunggah atau mempublikasikan konten turun signifikan dibanding tahun sebelumnyasekaligus memperlihatkan bagaimana kekhawatiran publik terkait teknologi digital, termasuk penggunaan AI, ikut memengaruhi perilaku online.

Laporan Ofcom menempatkan perubahan ini dalam konteks kebiasaan digital masyarakat Inggris: meskipun platform sosial tetap ramai untuk konsumsi konten, aktivitas “aktif memposting” cenderung melemah.

Riset mencatat 49% responden aktif memposting, turun dari 61% pada tahun sebelumnya. Artinya, lebih sedikit orang dewasa yang berkontribusi secara rutin melalui unggahan, komentar, atau publikasi konten dibanding periode sebelumnya.

Ofcom Temukan Lebih Sedikit Dewasa UK Aktif Posting Media Sosial
Ofcom Temukan Lebih Sedikit Dewasa UK Aktif Posting Media Sosial (Foto oleh RDNE Stock project)

Berita ini penting karena menandai pergeseran yang bisa berdampak pada ekosistem platform, iklan, dan cara kebijakan digital disusun.

Bagi pembacaterutama mereka yang berkecimpung dalam bisnis, komunikasi publik, atau pengambilan keputusanindikasi penurunan kontribusi pengguna aktif dapat menjadi sinyal awal perubahan perilaku, dinamika komunitas, serta ekspektasi terhadap transparansi dan keamanan di ruang digital.

Apa yang ditemukan Ofcom

Ofcom menyajikan data yang menyoroti perbedaan antara aktivitas mengonsumsi konten dan aktivitas memproduksi/ memposting konten.

Dalam laporan risetnya, regulator mencatat bahwa proporsi orang dewasa yang aktif memposting mengalami penurunan dari 61% menjadi 49%. Penurunan ini tidak sekadar statistikia menggambarkan perubahan nyata pada pola keterlibatan pengguna: lebih banyak orang mungkin memilih untuk “menonton” tanpa ikut mengunggah, atau menunda publikasi karena pertimbangan tertentu.

Selain angka utama tersebut, riset juga menunjukkan adanya peningkatan kekhawatiran di tengah tren penggunaan AI dalam ekosistem digital.

Kekhawatiran ini relevan karena AI kini terlibat dalam berbagai aktivitas platform: rekomendasi konten, moderasi, personalisasi feed, hingga produksi konten yang dimediasi atau dipercepat oleh teknologi generatif. Ketika pengguna merasa ada risikomisalnya terkait privasi, manipulasi informasi, atau kualitas/keaslian kontenmereka cenderung lebih berhati-hati sebelum berkontribusi.

Siapa yang terlibat: Ofcom dan pengguna media sosial

Dalam konteks ini, Ofcom berperan sebagai pengawas dan penyedia kerangka pemantauan terhadap layanan komunikasi dan ekosistem digital di Inggris. Risetnya berfungsi sebagai “termometer” perilaku pengguna sekaligus input bagi diskusi kebijakan.

Sementara itu, yang terdampak langsung adalah orang dewasa di Inggris sebagai pengguna media sosial.

Perubahan dari 61% ke 49% berarti bahwa jutaan orang dewasa potensial mengurangi frekuensi posting, mengubah jenis konten yang mereka publikasikan, atau lebih banyak membatasi ekspresi publik mereka. Perubahan ini juga dapat memengaruhi bagaimana komunitas online terbentuk: ketika jumlah kontributor aktif menurun, distribusi percakapan dan keberagaman suara bisa ikut bergeser.

Mengapa perubahan ini penting untuk diketahui pembaca

Penurunan aktivitas posting bukan hanya soal “orang makin pasif”. Ada beberapa alasan mengapa pembaca perlu memperhatikan data ini:

  • Dampak pada ekosistem konten: lebih sedikit posting berarti berpotensi menurunkan volume konten baru, mengubah pola viralitas, dan menggeser siapa yang paling sering muncul di feed.
  • Perubahan strategi komunikasi: bagi brand, organisasi, dan pembuat konten, penurunan kontributor aktif dapat mengubah efektivitas kampanye berbasis komunitas dan engagement.
  • Indikasi kekhawatiran publik: riset menyebut peningkatan kekhawatiran terkait tren AI. Ini relevan untuk literasi digital, keamanan informasi, serta kepercayaan terhadap konten online.
  • Implikasi terhadap moderasi dan regulasi: ketika perilaku pengguna berubah, regulator biasanya perlu menilai apakah aturan perlindungan, transparansi, dan tata kelola konten sudah memadai.

AI dan kekhawatiran yang ikut memengaruhi partisipasi

Ofcom mengaitkan perubahan perilaku dengan meningkatnya kekhawatiran publik seiring berkembangnya penggunaan AI.

Walau riset ringkas yang dirujuk di laporan ini tidak selalu merinci setiap jenis kekhawatiran secara detail dalam cuplikan data, pola kekhawatiran yang umum di ruang publik biasanya mencakup:

  • Keaslian konten: pengguna bisa khawatir bahwa konten yang beredar dimanipulasi, disintesis, atau tidak merepresentasikan realitas.
  • Privasi dan jejak digital: semakin banyak proses otomatis yang membaca perilaku pengguna, semakin besar kebutuhan transparansi.
  • Risiko disinformasi: AI dapat mempercepat produksi konten dalam skala besar, sehingga pengguna lebih waspada terhadap informasi yang tampak meyakinkan.
  • Kontrol dan moderasi: pengguna ingin tahu bagaimana sistem AI memengaruhi apa yang muncul di feed dan bagaimana kesalahan dapat dikoreksi.

Dalam situasi seperti ini, wajar bila sebagian pengguna memilih untuk mengurangi postingmisalnya karena ingin meminimalkan risiko salah konteks, penyalahgunaan, atau konsekuensi dari konten yang mereka unggah.

Dampak dan implikasi lebih luas bagi industri dan kebijakan

Penurunan jumlah orang dewasa yang aktif memposting di media sosial membawa konsekuensi yang dapat diukur untuk beberapa pihak.

  • Industri platform: platform mungkin perlu menyeimbangkan kebutuhan pertumbuhan audiens dengan upaya menjaga kepercayaan pengguna. Jika pengguna makin berhati-hati, metrik engagement berbasis posting bisa berubah, sehingga strategi rekomendasi dan moderasi perlu lebih transparan.
  • Pemasaran dan komunikasi: brand yang mengandalkan “komunitas aktif” harus menyesuaikan pendekatan. Ketika kontribusi pengguna menurun, kampanye yang menargetkan partisipasi aktif mungkin membutuhkan format yang lebih menarik, lebih aman, dan lebih jelas konteksnya.
  • Kebijakan dan regulasi: data Ofcom dapat menjadi dasar evaluasi regulasi terkait perlindungan pengguna, transparansi penggunaan AI, serta mekanisme penanganan konten berisiko. Regulator biasanya memerlukan bukti perubahan perilaku untuk menyusun langkah yang proporsional.
  • Literasi digital masyarakat: ketika kekhawatiran terhadap AI meningkat, kebutuhan edukasimisalnya cara menilai keaslian konten, memahami rekomendasi algoritmik, dan mengelola privasimenjadi makin penting.

Dengan kata lain, temuan Ofcom bukan hanya statistik tentang aktivitas online, tetapi sinyal bahwa hubungan pengguna dengan teknologi digital sedang bergeser.

Platform, pembuat kebijakan, dan pelaku industri perlu membaca sinyal ini sebagai kebutuhan untuk memperkuat kepercayaan, transparansi, dan tata kelolaterutama saat AI semakin terintegrasi dalam pengalaman pengguna.

Riset Ofcom menunjukkan bahwa porsi orang dewasa di Inggris yang aktif memposting konten turun dari 61% menjadi 49%.

Di tengah tren penggunaan AI dan meningkatnya kekhawatiran publik, perubahan ini memberi gambaran tentang bagaimana masyarakat menyesuaikan perilaku online mereka. Bagi pembaca, memahami data ini membantu menilai arah perkembangan media sosialbukan hanya dari sisi fitur platform, tetapi dari sisi kepercayaan, keamanan, dan dinamika partisipasi warga di ruang digital.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0