Pengalaman Mencekam Dokter IGD Saat Serangan Panik Tengah Malam
VOXBLICK.COM - Malam itu, ruang Instalasi Gawat Darurat terasa lebih sunyi dan dingin dari biasanya. Hanya suara detak jam dinding dan sesekali dengusan napas pasien yang terdengar samar. Aku, seorang dokter jaga IGD, sudah terbiasa menghadapi malam-malam seperti ini. Namun, ada sesuatu yang berbedasebuah firasat aneh yang menusuk tulang belakang, membuat setiap helaan napas terasa berat.
Jam menunjukkan pukul 02.17 dini hari ketika suara langkah kaki samar terdengar dari lorong gelap. Aku menoleh, hanya menemukan ruangan kosong dengan lampu neon yang berkedip lemah di ujung koridor.
Kupikir mungkin itu hanya perasaanku saja, efek kelelahan setelah menangani pasien tanpa henti sejak sore tadi. Namun, perasaan tercekik perlahan merayap, menyesakkan dada. Jantungku berdegup tak karuan, telapak tangan berkeringat dingin. Inikah yang disebut serangan panik?
Ketika Sunyi Menjadi Ancaman
Aku mencoba berdiri dan berjalan ke ruang perawat. Namun, setiap langkah terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahanku. Lampu-lampu redup di sepanjang lorong tampak lebih suram.
Suara detak jam kini bercampur dengan bisikan pelan, samar namun jelas memanggil namaku. Aku membeku di tempat, menunggu suara itu berlalu. Tapi bisikan itu semakin keras, seperti memenuhi seluruh ruang IGD.
Beberapa detik berlalu sebelum aku menyadari: tak ada seorang pun di sana. Semua perawat sedang tertidur di ruang istirahat, dan pasien-pasien telah terlelap. Aku menahan napas, berharap suara itu hanya ilusi akibat kelelahan dan stres.
Namun, rasa panik semakin menyesakkan. Tiba-tiba, monitor vital sign di ruang sebelah berbunyi nyaring, menandakan adanya sesuatu yang tidak beres.
Ruang IGD yang Menjadi Saksi
Dengan langkah gemetar, aku memeriksa ruangan satu per satu. Setiap pintu kubuka perlahan, berharap menemukan jawaban. Tapi yang kutemukan hanyalah kekosongan. Suara detak jantungku sendiri mengalahkan suara mesin monitor.
Di salah satu sudut ruangan, kulihat bayangan hitam melintas cepat, nyaris tak kasatmata. Aku menahan teriakan, berusaha menjaga kewarasan.
- Monitor tiba-tiba mati, lalu hidup kembali dengan suara statis aneh.
- Telepon IGD berdering, namun saat kuangkat, hanya terdengar napas berat di seberang sana.
- Salah satu lampu ruang resusitasi padam, meninggalkan kegelapan total di ujung lorong.
Jantungku semakin berdebar, napas terasa makin pendek. Aku tahu, ini bukan sekadar serangan panik biasa. Ada sesuatu di balik malam itu, sesuatu yang tidak kasatmata namun kehadirannya begitu nyata.
Aku mencoba menelepon perawat, namun sinyal hilang seketika. Suara bisikan itu kembali, kali ini sangat dekat di telingaku: “Jangan tinggalkan mereka…”
Antara Realita dan Halusinasi
Ketegangan memuncak saat pintu ruang gawat darurat tiba-tiba terbuka sendiri, menimbulkan suara berderit yang menusuk. Angin dingin menerpa wajahku, membawa aroma antiseptik yang bercampur anyir darah.
Di tengah kekacauan itu, aku mendengar suara langkah kaki, perlahan namun pasti semakin mendekat. Aku berbalik, namun lorong tampak kosong. Refleks, aku menekan tombol alarm, tetapi tidak ada respon. Semua terasa hening, kecuali detak jantungku yang makin tak terkendali.
Aku terpaku, mencoba membedakan antara kenyataan dan ilusi. “Tenang, ini hanya efek kelelahan,” pikirku, memaksa diri untuk tetap rasional. Tapi setiap usaha menenangkan diri justru memperburuk keadaan.
Pandangan mulai berkunang-kunang, dan suara bisikan itu kini terdengar seperti jeritan yang menggema di seluruh IGD.
Jejak Malam yang Tak Berakhir
Malam terasa semakin panjang. Aku tak tahu berapa lama aku berdiri di sana, terjebak antara panik dan teror yang tak kasatmata. Ketika akhirnya perawat datang menghampiri, wajah mereka tampak pucat.
“Dok, tadi kami dengar suara orang menangis dari IGD, tapi semua pasien masih tidur. Apa dokter juga mendengarnya?” tanya salah satu dari mereka, suaranya bergetar.
Aku hanya bisa menatap mereka, tidak sanggup berkata apapun. Di luar jendela, langit masih pekat. Suara bisikan itu lenyap begitu saja, meninggalkan lubang hitam di dada.
Namun, satu hal yang pasti: malam itu, IGD bukan hanya menjadi saksi serangan panik seorang dokter, tapi juga saksi bisu sesuatu yang tak pernah benar-benar pergisesuatu yang masih menunggu di sudut-sudut gelap, siap datang lagi kapan saja. Dan hingga hari ini, aku masih bertanya-tanya: malam itu, apa aku benar-benar sendirian?
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0