Pengalaman Mengerikan Saat Membantu Pindahan di Rumah Tua

Oleh VOXBLICK

Jumat, 07 November 2025 - 04.40 WIB
Pengalaman Mengerikan Saat Membantu Pindahan di Rumah Tua
Rumah tua penuh misteri (Foto oleh Juan Felipe Ramírez)

VOXBLICK.COM - Malam itu, udara terasa berat. Aku, seorang pekerja pindahan, menerima panggilan mendadak dari seorang wanita paruh baya yang meminta bantuan mengangkut barang-barang dari rumah tuanya. Katanya, ia harus segera meninggalkan rumah itu sebelum tengah malam. Permintaan yang aneh, tapi kebutuhan akan uang membuatku mengabaikan firasat tidak enak di dada. Bersama dua teman, Bima dan Rio, kami tiba di depan rumah tua itu tepat pukul delapan malam.

Rumah itu berdiri megah, namun kusam, di tengah pekarangan yang dipenuhi pohon tua. Lampu gantung di teras hanya menyala redup, menyoroti dinding yang dipenuhi retakan dan bayang-bayang aneh.

Tak ada suara selain derit ranting yang digoyang angin malam. Pemilik rumah menyambut kami dengan tatapan lelah, namun buru-buru. “Ambil barang-barang di lantai atas. Jangan buka kamar di ujung lorong. Tolong, jangan!” katanya, hampir berbisik. Kata-katanya menusuk, membuat bulu kudukku berdiri.

Pengalaman Mengerikan Saat Membantu Pindahan di Rumah Tua
Pengalaman Mengerikan Saat Membantu Pindahan di Rumah Tua (Foto oleh Strange Happenings)

Ruangan-ruangan di dalam rumah tua itu terasa seperti lorong waktu. Setiap langkah menimbulkan derit lantai kayu yang menggema seperti bisikan. Aku dan Rio naik ke lantai dua, sementara Bima membantu mengangkut kotak di bawah.

Di atas, suasana semakin mencekam. Lampu-lampu temaram, dan udara seolah membeku. Aroma apek dan sesuatu yang amis samar-samar tercium.

Suara-Suara Tak Terjelaskan

Saat mengangkat lemari tua, kami mendengar suara langkah kaki di lorong. Ketika kuintip, lorong itu kosong. Lampu di ujung berkedip-kedip, seolah ada sesuatu yang bergerak cepat di balik bayangan.

Rio menelan ludah, “Kamu denger tadi, kan?” Aku hanya mengangguk, mencoba tetap rasional meski ketakutan mulai merayap di tengkuk.

Kami mempercepat pekerjaan, namun suara-suara aneh terus muncul:

  • Ketukan tiga kali dari kamar yang dilarang dibuka.
  • Bisikan samar yang memanggil nama kami dari balik dinding.
  • Bayangan hitam melintas cepat di cermin tua.

Bima yang di bawah juga mulai gelisah. “Tadi aku lihat ada orang lewat di tangga,” katanya pelan, wajahnya pucat pasi.

Lorong Gelap dan Kamar Terlarang

Pekerjaan hampir selesai, tapi rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutku. Aku berjalan pelan ke ujung lorong, ke arah kamar terlarang. Gagang pintunya berkarat, namun entah bagaimana, pintu itu sedikit terbuka.

Dari celah tipis, kulihat sekelebat bayangan putih duduk membelakangi, rambutnya panjang menutupi wajah. Bau anyir semakin terasa. Jantungku berpacu aku mundur perlahan, tapi pintu tiba-tiba terbuka lebar dengan bunyi berderit panjang.

Rio menjerit, “Ayo turun! Sekarang!” Kami berlari menuruni tangga, membawa kotak terakhir. Di ruang tamu, pemilik rumah menunggu dengan mata merah sembab. Ia tak berkata apa-apa, hanya mengangguk dan menyodorkan amplop berisi uang.

Kami keluar, tapi sebelum menutup pintu mobil, aku menoleh ke jendela lantai dua.

Di sana, sesosok bayangan berdiri menatapku. Rambutnya panjang, wajahnya buram. Ia mengangkat tangannya, seolah melambai. Degup jantungku berhenti sejenak, udara membeku. Rio menarik lenganku, “Ayo pergi!”

Malam yang Tak Pernah Sama

Sepanjang perjalanan pulang, tak ada yang bicara. Hening. Di dalam mobil, aroma anyir itu masih melekat. Saat membuka amplop pembayaran, kami terkejut.

Isinya bukan uang, melainkan potongan-potongan foto lama, memperlihatkan tiga orang yang sangat mirip dengan kami, berdiri di depan rumah tua itudengan bayangan putih di jendela, menatap tajam ke arah kamera.

Sejak malam itu, aku sering terbangun tengah malam. Di sudut kamar, kadang terdengar bisikan lirih memanggil namaku. Rumah tua itu sudah kosong, tapi ada sesuatu yang ikut pulang bersama kamidan menolak pergi.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0