Perintah Mengerikan dari Atasan yang Mengubah Hidupku Selamanya
VOXBLICK.COM - Malam itu, lampu-lampu kantor sudah diredupkan. Hanya aku, monitor yang berpendar redup, dan suara detik jarum jam yang memecah keheningan. Aku sudah terbiasa lembur, namun malam itu berbeda. Ada sesuatu yang membekas di udara, seolah-olah bayangan gelap mengintai dari balik kubikel. Aku seharusnya pulang, tapi pesan singkat dari atasanPak Suryamenghentikan langkahku.
"Jangan pulang dulu. Aku ingin kau kerjakan sesuatu. Tunggu di ruang meeting lantai tiga. Sendiri." Begitu tulisnya. Tidak ada emoji, tidak ada tanda tanya. Hanya perintah dingin yang membuat bulu kudukku berdiri.
Tanganku bergetar ketika menekan tombol lift. Lantai tiga selalu kosong setelah jam enam sorearsip, ruang meeting, dan satu lorong panjang tanpa jendela. Saat pintu terbuka, hawa dingin langsung menyergap.
Lampu lorong hanya menyala sebagian, seakan menyorot bagian-bagian tertentu saja, meninggalkan sudut-sudut gelap seperti mulut ternganga yang menunggu mangsa. Aku berjalan perlahan, langkah kakiku bergema, suara detak jantungku terasa begitu keras.
Perintah yang Tak Terucapkan
Di atas meja ruang meeting, ada sebuah map merah tua. Tidak ada siapa-siapa di sana. Aku menunggu, mencoba mengatur napas. Lalu Pak Surya muncul, seolah-olah keluar dari kegelapan.
Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya, matanya menatapku tajam namun kosong.
Tanpa basa-basi, dia menyorongkan map itu ke hadapanku. "Kau harus lakukan ini malam ini juga. Jangan ada yang tahu. Kalau gagal, kau tahu akibatnya." Ucapannya lirih, tapi mengandung ancaman yang jelas. Tanganku gemetar saat membuka map itu:
- Masuk ke ruang arsip lama pukul 01.00.
- Ambil kotak kayu bertuliskan No. 44 di rak paling ujung.
- Jangan menyalakan lampu.
- Jangan bicara apapun, apapun yang terjadi.
Aku menatap Pak Surya, berharap ini hanya semacam tes loyalitas atau lelucon sarkastis. Namun, senyum tipis di sudut bibirnya lebih mirip luka daripada guratan bahagia.
Ia berbalik tanpa kata, meninggalkanku sendirian bersama map dan perintah mengerikan itu.
Ruang Arsip dan Bisikan Malam
Menunggu hingga jam satu pagi menjadi siksaan sendiri. Kantor semakin sunyi, suara pendingin ruangan seperti desisan ular di telinga. Aku melangkah ke ruang arsip sesuai instruksi, menahan napas setiap kali lantai berdecit di bawah kakiku.
Ruangan itu gelap gulita, hanya cahaya dari layar ponsel yang membimbingku.
Di rak paling ujung, aku menemukan kotak kayu kecil bertuliskan No. 44. Namun, sebelum aku sempat mengambilnya, suara bisikan pelan terdengar dari belakang. "Jangan diambil... jangan diambil...
" Suara itu seperti berasal dari balik dinding, mengalun lirih namun jelas.
Aku menahan napas, mengingat perintah Pak Surya: jangan bicara apapun, apapun yang terjadi. Tapi bisikan itu semakin keras, berubah menjadi rintihan, lalu jeritan, lalu tawa kecil yang menggema di sudut ruangan.
Aku memejamkan mata, meraih kotak itu dengan tangan yang nyaris beku.
Misteri Kotak Kayu No. 44
Kotak terasa lebih berat dari ukurannya, permukaannya kasar dengan goresan-goresan aneh. Saat aku melangkah pergi, suara langkah kaki lain terdengar di lorongcepat, berlari, mendekat. Aku membeku, berharap itu hanya halusinasi.
Namun, dari sudut mataku, aku melihat bayangantinggi, kurus, bergerak tanpa suara, menempel di dinding seperti noda hitam.
Aku berlari, hampir saja menjerit, tapi menahan suara sekuat tenaga. Sampai di depan ruang meeting, pintunya terbuka sedikit.
Di dalam, Pak Surya sudah menunggu, wajahnya kini benar-benar berbedalebih tua, mata cekung, dan bibirnya mengucapkan sesuatu yang tidak kupahami.
- Dia mengulurkan tangan, meminta kotak itu.
- Di belakangnya, bayangan tadi bergerak, membesar, menutupi seluruh ruangan.
- Pak Surya tersenyum, namun matanya dipenuhi ketakutan.
Perubahan yang Tak Pernah Kembali
Aku menyerahkan kotak itu, tangan kami bersentuhan. Seketika, rasa dingin menusuk tulang, dunia seperti berhenti sejenak.
Di detik berikutnya, lampu ruang meeting padam, dan aku hanya bisa mendengar napas Pak Surya yang memburuatau mungkin itu napasku sendiri.
Semuanya gelap. Lalu... suara jeritan. Bukan hanya satu, tapi banyak, bertumpuk-tumpuk. Aku ingin berlari, tapi kakiku seolah tertanam. Seseorangatau sesuatumenyentuh bahuku, berat dan menekan. Aku menoleh, namun hanya mendapati kegelapan pekat.
Aku terbangun di meja kerjaku, keringat dingin membasahi tubuh. Map merah tua sudah tidak ada, ruang meeting pun tampak seperti biasa. Tapi setiap malam, jam satu pagi, aku masih bisa mendengar bisikan lirih dari ruang arsip lama.
Dan setiap kali aku bertemu Pak Surya, matanya menatapku lamaseakan menunggu sesuatu yang belum selesai.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0