Saudaraku Kembali Dari Pegunungan Tapi Bukan Lagi Dirinya

Oleh VOXBLICK

Selasa, 06 Januari 2026 - 03.20 WIB
Saudaraku Kembali Dari Pegunungan Tapi Bukan Lagi Dirinya
Saudara kembali berubah (Foto oleh Marek Piwnicki)

VOXBLICK.COM - Langit malam di desa kami selalu tampak lebih gelap ketika seseorang belum pulang dari pegunungan. Malam itu, aku menunggu saudaraku, Dimas, yang katanya akan kembali setelah tiga hari mendaki bersama dua temannya. Ibuku memasak sup hangat, ayah mengisi waktu dengan menajamkan parang di beranda. Suasana rumah dipenuhi kecemasan, seperti ada sesuatu yang berat menggantung di udara. Aku mencoba menghibur diriku, membayangkan Dimas pulang dengan tawa dan cerita petualangannya, tapi yang datang justru rasa dingin yang merayap makin dalam ke tulang.

Tepat setelah lonceng mushollah berbunyi menandakan pukul sembilan malam, suara langkah kaki berat terdengar di teras. Aku berlari membuka pintu, dan di sanalah Dimas berdiri. Tapi segera aku tahu, ada yang salah.

Ia menunduk, bajunya kotor dan sobek, kedua matanya sayu, napasnya beratbukan seperti Dimas yang kukenal. Ia hanya berdiri diam, menatapku seolah menunggu sesuatu. Ayah dan ibu menyambutnya dengan pelukan, tapi aku merasakan hawa asing yang menyelusup diam-diam ke dalam rumah kami.

Saudaraku Kembali Dari Pegunungan Tapi Bukan Lagi Dirinya
Saudaraku Kembali Dari Pegunungan Tapi Bukan Lagi Dirinya (Foto oleh eberhard grossgasteiger)

Bayang-Bayang Pegunungan yang Mengikutinya

Malam itu, Dimas tidak banyak bicara. Ia menolak makan malam, menolak mandi, bahkan tidak menjawab ketika ibu bertanya apa yang terjadi selama di gunung.

Ia hanya duduk di sudut ruang tamu, menatap kosong ke arah jendela yang menghadap ke pekarangan gelap. Aku memperhatikan kuku-kukunya yang hitam, dan bau tanah basah yang aneh keluar dari tubuhnya. Ketika aku mencoba mendekat, ia menoleh cepat sekali, matanya merah seperti habis menangis. Tapi aku tahu, itu bukan air mata manusia.

Setiap malam setelah itu, aku mendengar suara-suara aneh dari kamar Dimas. Kadang seperti suara gumaman, kadang seperti ia berbicara sendiri dalam bahasa yang tak pernah kudengar. Ada saatnya ia tertawa pelan, lalu tiba-tiba menangis.

Aku mencoba mengintip dari celah pintu, dan kulihat ia duduk di bawah ranjang, membelakangi pintu, menggoyangkan tubuhnya maju mundur. Setiap kali aku menanyakan tentang kedua temannya yang ikut mendaki, ia hanya menunduk dan berkata, “Mereka sudah di bawah. Aku yang pulang.”

Rahasia di Balik Mata Gelap

Pagi hari ketiga setelah kepulangan Dimas, ibu menemukan sesuatu yang aneh di halaman belakang. Jejak kaki berlumpurpanjang, dalam, dan anehnya, berjari enam.

Jejak itu berputar-putar di sekitar sumur tua, lalu menghilang begitu saja di bawah pohon beringin. Dimas yang melihat itu hanya tersenyum tipis, lalu masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Sejak itu, ia semakin sering mengurung diri, dan bau tanah basah itu semakin menyengat, merembes keluar dari celah-celah kayu kamar.

Beberapa kejadian aneh mulai terjadi di rumah kami:

  • Burung-burung yang biasanya ramai di pagi hari tiba-tiba menghilang.
  • Bunga-bunga di kebun ibu layu dan membusuk dalam semalam.
  • Ayam peliharaan mendadak mati dengan luka gigitan kecil di leher.

Ayah yang khawatir akhirnya memanggil Pak Karto, tetua desa yang dikenal bisa “melihat lebih jauh”. Setelah mengamati Dimas dari luar jendela, Pak Karto hanya menggeleng pelan dan berbisik pada ayah, “Yang pulang bukan hanya dia.

” Malam itu, aku bermimpi berdiri di puncak gunung berkabut, melihat Dimas berjalan di tepi jurang, diikuti oleh bayangan besar hitam tanpa wajah. Aku terbangun dengan peluh dingin, dan samar-samar dari kamar Dimas terdengar suara nyanyian anehlirih, namun menusuk telinga.

Malam Terakhir yang Membekas

Suatu malam, aku tak tahan lagi. Aku menggedor pintu kamar Dimas, memaksa masuk. Di dalam, kulihat ia duduk bersila di tengah lingkaran tanah basah, matanya kosong, bibirnya bergerak cepat tapi tanpa suara.

Di dinding, bayang-bayang bergerak sendiri, membentuk sesuatu yang tak bisa kugambarkan. Dimas menoleh perlahan, dan untuk pertama kalinya aku melihat tatapan yang sepenuhnya asingdingin, hitam, dan seolah menembusku.

“Kamu bukan Dimas,” bisikku, suara gemetar.

Ia tersenyum. Senyum yang terlalu lebar untuk wajah manusia. “Aku sudah lama di sini. Tapi kamu baru sadar sekarang.”

Sejak malam itu, Dimas menghilang. Tak ada jejak, tak ada suara, seolah ia ditelan bumi. Tapi kadang, di malam-malam ketika kabut turun dari pegunungan dan suara burung hantu terdengar di kejauhan, aku mencium bau tanah basah yang familiar.

Dan aku tahu, apa pun yang pulang dari pegunungan waktu itu, masih belum pergi dari rumah kami.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0