Suara Mengerikan di Hutan Memburu Sang Pemburu
VOXBLICK.COM - Udara malam di hutan selalu membawa bisikan rahasia, namun malam itu, bisikan seolah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan penuh ancaman. Aku, seorang pemburu yang telah menaklukkan banyak rimba di Pulau Jawa, menyesap embun dingin di antara pepohonan raksasa. Biasanya, hewan buruan sudah terbiasa dengan kehadirankutetapi kali ini, entah mengapa, semesta terasa menahan napas. Bahkan, angin pun enggan berbisik.
Tiga hari sudah aku mendirikan kemah di tengah rimbunnya hutan, berharap mendapatkan gambar harimau jawa yang katanya masih tersisa di sini. Kamera DSLR dengan night vision selalu tergantung di leher, jari-jariku siap menekan shutter kapan saja.
Namun setiap malam, suara-suara aneh mulai muncul. Awalnya samar, seperti ranting patah atau dedaunan yang diinjak. Tapi malam ini, suara itu berubah menjadi raungan yang tidak pernah kudengar sebelumnyaserak, dalam, dan nyaris tak manusiawi.
Bayangan di Balik Pepohonan
Pada malam ketiga, aku duduk sendirian di depan api unggun, mataku terus mengawasi kegelapan. Kamera sudah siaga, tetapi setiap kali kuarahkan ke sumber suara, lensa hanya menangkap kekosongan.
Lampu flash berkali-kali menyapu semak, tapi tak ada apa-apahanya kabut tipis yang menari di antara batang kayu.
Aku mencoba menenangkan diri. Namun, rasa dingin di tulang belakangku semakin menjadi ketika suara itu tiba-tiba lebih dekat, seolah-olah sesuatu mengintai dari balik pohon besar di seberang tenda.
Aku nyaris bisa merasakan tatapan dari kegelapan, namun ketika kamera kugunakan untuk merekam, layar hanya menampilkan statis hitam. Tidak ada jejak, tidak ada bayangan. Hanya suara berat dan napas terengah-engah yang menggantung di udara.
Teror yang Tak Terlihat
Jam sudah hampir menunjukkan pukul dua dini hari. Aku berusaha tetap terjaga, namun rasa lelah mulai menekan kelopak mata.
Tiba-tiba, suara ranting patah terdengar sangat dekat, diikuti oleh suara seretan seperti sesuatu yang berat diseret di atas tanah basah. Aku meloncat, menyalakan senter, dan berlari ke arah suara, berharap setidaknya bisa menangkap apa pun dengan kameraku. Tapi lagi-lagi, tidak ada apa-apa. Hanya kabut yang membeku, dan bayangan pohon yang tampak seolah bergerak pelan mengikuti langkahku.
- Kamera tidak pernah menangkap apa pun selain kabut tebal.
- Suara mengerikan itu semakin sering terdengar setiap malam, seolah-olah memangsa keberanianku sedikit demi sedikit.
- Setiap aku mencoba keluar dari tenda, suara itu tiba-tiba menghilang, hanya untuk kembali saat aku putus asa dan kembali masuk ke dalam.
Dialog di Tengah Kegelapan
Pada malam keempat, aku sudah setengah gila. Aku menyalakan recorder dan mulai berbicara, berharap bisa merekam suara itu. “Siapa di sana?” tanyaku dengan suara bergetar. Tidak ada jawaban, hanya keheningan yang menusuk.
Namun tiba-tiba, dari balik semak-semak, terdengar bisikan lirih, nyaris seperti suara anak kecil, “Mengapa kau di sini?”
Jantungku berhenti sejenak. Aku menoleh, tapi tidak ada siapa-siapa. Hanya suara nafas berat, lalu suara ketukan pelan di batang pohon di belakangku. Aku berlari kembali ke tenda, menutup rapat pintu kain, berharap malam segera berlalu.
Tapi suara itu kini berputar-putar di sekitar kemah, seolah-olah mengejek, memburu sang pemburu yang kini tak berdaya.
Malam Tanpa Akhir
Ketika fajar akhirnya menyingsing, aku menemukan kameraku tergeletak di tanah, lensanya retak. File di dalamnyasemuanya kosong, hanya ada rekaman suara berbisik samar: “Kau belum boleh pulang.
” Di luar tenda, jejak kaki aneh yang tak pernah kulihat sebelumnya mengelilingi kemah, seolah-olah sesuatu telah mengamatiku semalaman.
Hari itu, aku berkemas dan meninggalkan hutan dengan langkah tertatih. Namun, malam-malam berikutnya, suara itu masih terus terdengar, meski kini aku sudah jauh dari hutan.
Seakan-akan, sesuatu telah terbawa pulang, dan kini memburu sang pemburu di tempat yang seharusnya paling amanrumahku sendiri.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0