Suara Putriku yang Sudah Mati Menghantuiku di Malam Pembalasan
VOXBLICK.COM - Langit malam itu menggantung berat di atas kepalaku, seperti kain kafan yang menutup seluruh kota. Aku berjalan perlahan di lorong sempit antara dua deretan rumah tua, lampu jalan yang remang-remang hanya menambah ketegangan dalam dadaku. Tanganku bergetar, bukan karena dingin, tapi karena amarah yang sudah lama membara. Malam itu, segala perhitungan akan diselesaikan. Aku akan membalaskan kematian putriku, bagaimanapun caranya, kepada orang yang telah merenggut hidupnya.
Namun, sebelum semuanya dimulai, aku mendengar sesuatu yang membuatku membeku. Suara itu lembut, nyaris seperti bisikan angin, namun tak salah lagiitu suara putriku. “Ayah…” panggilnya lirih, seperti gema yang terjebak di lorong waktu.
Tubuhku mematung. Jantungku berdebar tak karuan, antara rindu yang menyesakkan dan ketakutan yang membakar.
Bisikan yang Mengoyak Malam
Suara itu datang dari arah gang buntu, tempat jasad putriku ditemukan beberapa bulan lalu. Aku menahan napas, berusaha menepis kemungkinan bahwa pikiranku mulai rusak akibat duka. Namun suara itu terdengar lagi.
“Ayah… jangan…” Kali ini lebih jelas, seolah-olah ia berdiri di belakangku, hanya beberapa langkah saja.
Dengan gemetar, aku menoleh. Tak ada siapa-siapa. Hanya bayangan hitam yang menari di tembok, dan aroma anyir yang tiba-tiba menyergap hidungku. Aku menelan ludah, keraguan mulai menggerogoti tekadku.
Malam pembalasan yang telah lama kunanti, kini terasa seperti jebakan. Tetapi aku tak bisa mundur. Dendam telah membakar seluruh sisa nurani di dalam dada.
Langkah-Langkah Bayangan
Setiap langkah yang kuambil menuju rumah pembunuh putriku, suara itu mengikuti. Terkadang ia tertawa pelan, terkadang menangis, dan terkadang hanya diam, menunggu.
Aku mulai kehilangan orientasi lorong-lorong ini serasa melengkung, seperti menuntunku pada sesuatu yang tak kasat mata.
- Langkahku terasa berat, seolah ada tangan-tangan kecil yang menarik pergelangan kakiku dari bawah tanah.
- Bayangan di dinding sesekali membentuk siluet gadis kecilputriku, mengenakan gaun putih favoritnya.
- Udara menjadi semakin dingin, napasku membeku di udara.
Setiap kali aku mencoba menenangkan diriku, suara itu kembali, kali ini lebih tegas. “Ayah, jangan lakukan itu… jangan jadi seperti dia.” Kata-katanya menusuk. Aku berhenti, menengadah, berharap menemukan wajahnya di antara bintang-bintang.
Tapi langit hanya menatapku dengan kosong, seolah menertawakanku.
Di Ambang Dendam dan Kematian
Aku sampai di depan pintu rumah orang itu. Tanganku sudah siap menggenggam besi tua yang kupersiapkan sejak pagi. Tapi suara itu, suara putriku, kini terdengar seperti jeritan.
“Ayah, pulanglah…” Suara itu meraung, bergetar, dan tiba-tiba seluruh lampu di sekitar padam.
Dalam kegelapan, aku merasa ada sesuatu yang menyentuh pundakku. Dingin, basah, dan berat. Nafasku tercekat. Aku ingin berbalik, ingin melihat apakah benar itu putriku. Tapi tubuhku tak bisa bergerak.
Kakiku menancap di tanah, seolah akar-akar tak kasat mata menahanku. Dari balik kegelapan, kulihat sepasang mata kecil berkilat, menatapku dengan kesedihan tak terperi.
- Suara napas berat di belakangku.
- Tangan mungil mencengkeram bajuku.
- Bisikan: “Ayah, jangan tambah dosa…”
Detik berikutnya, suara langkah kaki mendekat dari dalam rumah. Seseorang membuka pintu, cahaya samar menyembul. Aku berdiri di antara dua dunia: dendam dan penyesalan, hidup dan kematian.
Suara putriku terus memanggil, semakin parau, semakin jauh, hingga akhirnya menghilangmenyisakan keheningan yang menakutkan.
Malam Tak Pernah Berakhir
Kini setiap malam, setiap aku mencoba memejamkan mata, suara itu kembali. Kadang memanggil namaku, kadang hanya menangis di sudut kamar.
Aku tak pernah tahu apakah malam pembalasan itu benar-benar terjadi, ataukah aku yang kini terjebak dalam lingkaran dendam dan penyesalan yang tak berujung.
Suara putriku yang sudah mati, kini menjadi penunggu sepi di setiap malamku. Dan aku masih berdiri di depan pintu itu, tak pernah benar-benar berani masuk, tak pernah benar-benar bisa pulang.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0