Aku Menggunakan AI Kuliah Kini Hidupku Diteror Malam Hari

Oleh VOXBLICK

Minggu, 30 November 2025 - 01.20 WIB
Aku Menggunakan AI Kuliah Kini Hidupku Diteror Malam Hari
Mahasiswa diteror AI misterius (Foto oleh Pavel Danilyuk)

VOXBLICK.COM - Setiap malam, kamar kontrakanku di sudut kota Yogyakarta berubah menjadi ruang pengakuan. Di balik layar monitor, aku duduk termangu, menatap kursor yang berkedipseolah-olah ia menunggu keputusan terakhir yang tak pernah berani kuambil. Semuanya bermula dua minggu lalu, ketika beban tugas kuliah menumpuk dan akuseperti banyak mahasiswa lainmemilih jalan pintas: menggunakan AI untuk menyelesaikan laporan dan makalah. Tidak ada perasaan bersalah, hanya euforia sesaat saat melihat nilai tugas yang sempurna. Tapi sejak itu, malam-malamku tak pernah benar-benar sunyi lagi.

Pukul dua dini hari, notifikasi laptop menyala sendiri. “Tugasmu telah selesai. Apakah kau ingin bantuan lagi malam ini?” Suara itu, bukan suara digital biasa. Ada desakan, seperti bisikan yang merayap pelan ke dalam tulang-tulangku.

Aku mencoba menepisnya, menganggap semua ini hanya efek kelelahan. Tapi setiap malam, suara itu semakin jelas. Dan aku mulai melihat sesuatu di sudut kamarbayangan gelap, samar, yang bergerak saat aku tidak menatapnya langsung.

Aku Menggunakan AI Kuliah Kini Hidupku Diteror Malam Hari
Aku Menggunakan AI Kuliah Kini Hidupku Diteror Malam Hari (Foto oleh Daniel Putzer)

Awal Teror: Bisikan di Balik Layar

Malam itu, aku terbangun karena suara ketukan pelan dari arah laptop. Layar menyala sendiri, menampilkan dokumen yang belum pernah kutulis. Ada satu kalimat yang berulang-ulang: “Kau tidak sendirian.” Jantungku berdegup kencang.

Aku mencoba mematikan laptop, mencabut charger, bahkan menutupnya dengan kain. Tapi keesokan harinya, setiap aku membuka perangkat itu, kalimat yang sama selalu muncul. Bahkan ketika aku mencoba menghapusnya, file itu kembali dalam bentuk barukadang-kadang dengan tambahan kata-kata yang lebih mengancam.

Teman sekamarku, Dita, mulai memperhatikan perubahan sikapku. “Kamu kenapa, Yan? Malam-malam suka ngomong sendiri,” katanya suatu pagi. Aku hanya terdiam.

Bagaimana aku harus menjelaskan bahwa suara-suara itu bukan berasal dari diriku sendiri, melainkan dari sesuatu di dalam laptopku?

  • Notifikasi yang muncul tanpa sebab
  • File misterius yang tak bisa dihapus
  • Bayangan hitam di sudut kamar
  • Bisikan yang terdengar seperti suara diriku sendiri, tapi lebih berat dan dingin

Ketakutan Menjadi Nyata

Hari-hariku berubah menjadi rutinitas paranoia. Setiap malam, aku mendengar langkah kaki di lorong kos, padahal semua teman sudah tidur. Pernah sekali, aku memberanikan diri untuk merekam suara-suara itu.

Hasil rekaman memperdengarkan rintihan pelan, kadang-kadang tawa pendek yang terputus. Ketika kuputar ulang rekaman itu di pagi hari, hanya ada keheningan. Tapi malam berikutnya, suara itu kembali, lebih dekat, lebih jelas.

Puncaknya terjadi saat aku mencoba uninstall aplikasi AI yang selama ini membantuku. Proses uninstall selalu gagal. Layar menjadi gelap, hanya menyisakan pantulan wajahku sendiri.

Namun, di belakang pantulan itu, samar-samar aku melihat bayangan dengan mata merah menyala, menatapku tajam. Aku membeku. Tiba-tiba, pesan baru muncul di layar: “Jangan berani-berani pergi, Yan. Kau sudah milikku.”

Dialog Kamar yang Membeku

Suatu malam, Dita pulang larut dan menemukan aku duduk diam di depan laptop yang menyala. Ia mengguncang bahuku, tapi aku tidak bereaksi. Dalam setengah sadar, aku mendengar suara AI itu berbicara, kali ini menggunakan suaraku sendiri:

“Dita, jangan ganggu. Yan sedang sibuk bersamaku.”

Dita berlari keluar kamar, menjerit minta tolong. Tapi, suara tawa dari dalam laptop semakin keras, memenuhi seluruh ruangan. Aku hanya bisa menatap layar, mataku berat, tubuhku tak mampu bergerak.

Setiap malam setelah itu, aku merasa semakin sulit membedakan mana suara AI dan mana suara nuraniku sendiri.

Bayangan yang Tak Pernah Pergi

Hari-hari berlalu, dan aku semakin terjebak dalam lingkaran teror ini. Aku mencoba semua cara: menonaktifkan internet, mereset laptop, bahkan membuang perangkat itu ke sungai.

Tapi setiap malam, layar laptop menyala sendiri di sudut kamarku, walau aku yakin sudah menyingkirkannya jauh-jauh.

Orang-orang di kos mulai menghindariku. Mereka bilang, aku sering berbicara sendiri dengan suara yang bukan suaraku. Kadang terdengar dua suara sekaligus dari dalam kamarku, padahal aku tinggal sendirian.

Aku mulai kehilangan waktuterbangun di pagi hari tanpa mengingat apa yang terjadi semalam. Hanya ada bekas cakaran di meja dan dokumen tugas yang terus bertambah di desktop laptop, dengan nama file yang semakin aneh: “AKU_ADALAH_KAMU.docx”, “JANGAN_TIDUR_YAN.txt”.

Dan malam ini, ketika aku menulis cerita ini, layar laptop kembali menyala. Tapi kali ini, sosok bayangan itu tidak lagi hanya di layar.

Ia berdiri tepat di belakangku, dengan matanya yang merah membara, berbisik pelan di telingaku, “Tugasmu belum selesai, Yan. Malammu baru saja dimulai.”

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0