Aku Menyaksikan Superhero Pertama Mengakhiri Dunia Ini
VOXBLICK.COM - Malam itu, langit di atas kota seperti menahan napas. Aku berdiri sendirian di atap apartemen tua, menatap lampu-lampu yang berkedip di kejauhan, ketika suara dentuman menggetarkan jantungku. Semua orang tahu tentang diasuperhero pertama, penyelamat, pahlawan, idolatetapi tidak ada yang tahu seperti apa wajahnya saat ia mengakhiri dunia ini. Aku tahu, karena aku menyaksikannya sendiri.
Namaku Arya, hanya seorang warga biasa yang selalu bermimpi bertemu sang superhero. Tapi malam itu, aku berharap aku tak pernah mengenalnya.
Kota ini, yang dulu penuh harapan dan cerita-cerita keajaiban, berubah menjadi panggung kehancuran yang tak terbayangkan.
Sosok yang Turun dari Langit
Gemuruh petir mengiringi kehadirannya. Ia tidak seperti pahlawan dalam komik atau filmkostumnya lusuh, jubahnya compang-camping. Mata yang pernah memancarkan harapan kini hanya menyimpan kegelapan yang tak teruraikan.
Ketika ia melayang perlahan turun, semua orang di jalanan terdiam. Sebagian berlutut, sebagian mematung dalam ketakutan, dan beberapa berbisik lirih, “Tolonglah kami.”
Aku bersembunyi di balik tembok, hanya berjarak beberapa meter darinya. Rasanya seperti menyaksikan dewa turun ke bumi, tapi yang ini membawa malapetaka. Petir berloncatan di sekeliling tubuhnya.
Setiap langkahnya membuat tanah retak dan lampu jalan padam satu per satu.
Suara yang Menggema dan Janji Penghabisan
Suara sang superhero terdengar lebih berat dari biasanya, serak, hampir seperti bisikan maut. “Kalian memintaku menyelamatkan dunia… Tapi siapa yang akan menyelamatkanku?” katanya. Tidak ada yang berani menjawab.
Di matanya, aku melihat lautan luka dan kemarahan yang selama ini tersembunyi di balik senyuman ikoniknya.
- Langit berubah merah, awan berputar membentuk pusaran gelap.
- Setiap benda besi bergetar, mobil-mobil terangkat perlahan dari aspal.
- Orang-orang mulai berlari, berteriak, tapi tak ada yang bisa lepas dari bayangan kehancuran yang ia bawa.
Dari sudut mataku, aku melihat seorang anak kecil menggenggam boneka, menatap sang superhero yang dulu menjadi inspirasinya. Anak itu berbisik, “Kau jahat.” Kalimat itu menggema di udara, menusuk lebih tajam daripada peluru manapun.
Detik-detik Dunia Berakhir
Sinar menyilaukan meledak dari tangannya. Gedung-gedung runtuh seperti balok domino. Aku berlari, mencari perlindungan, tapi dunia seperti dilipat dan dibalik oleh kekuatan tak terbendung.
Suhu udara naik drastis, membuat napas terasa terbakar di dada.
Semua kenangan tentang dunia lamasuara tawa, aroma roti panggang dari toko sudut jalan, suara radio tuamenguap begitu saja dalam ledakan cahaya biru yang memekakkan telinga.
Di tengah kekacauan itu, aku melihat wajah superhero pertama untuk terakhir kalinya. Ia menatapku, dan untuk sesaat, aku melihat air mata jatuh di pipinya.
- Ia tidak tersenyum.
- Tidak ada kata maaf.
- Hanya keheningan yang menelan segalanya.
Sisa-sisa Kehidupan dan Bayangan yang Menghantui
Ketika aku terbangun, kota sudah tak ada. Hanya puing-puing dan asap. Di kejauhan, sosok sang superhero berjalan perlahan, siluetnya samar dalam kabut. Setiap langkahnya meninggalkan jejak api yang membakar tanah.
Aku tidak tahu mengapa aku selamatatau mungkin ini justru hukuman. Setiap malam, aku mendengar langkah-langkah beratnya di lorong-lorong gelap, seolah ia belum selesai mengakhiri segalanya.
Beberapa orang berkata, dunia sudah berakhir malam itu. Tapi bagi yang masih hidup, legenda itu baru saja dimulai. Dan kadang, saat malam terlalu sunyi, aku merasa ia berdiri di balik jendela, menatapkumenunggu giliran berikutnya.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0