Aku Menyaksikan Teman-temanku Digantikan Makhluk Peniru di Kota Ini
VOXBLICK.COM - Kota ini selalu terasa asing bagiku, bahkan sebelum malam-malam aneh itu tiba. Ada sesuatu yang berubah di antara jalanan sunyi dan lampu-lampu kuning yang meremang. Tapi perubahan sejati baru terasa ketika aku mulai kehilangan teman-temankubukan karena mereka pergi, melainkan karena mereka tetap tinggal, namun bukan lagi mereka yang kukenal.
Aku masih ingat malam ketika semuanya bermula. Hujan turun deras, membuat trotoar berkilau seperti cermin retak. Aku dan Rina menunggu di halte bus, berbicara soal hal-hal sepele, tertawa kecil.
Namun saat aku menoleh, matanya matiseolah-olah jiwanya telah menguap dan yang tersisa hanya cangkang. Rina tetap bicara, namun kata-katanya dingin, terlalu sempurna, tanpa jeda gugup khas dirinya. Tanganku gemetar, dan sejak saat itu, aku tahu ada sesuatu yang salah.
Pergantian yang Sunyi
Sejak malam itu, aku memperhatikan setiap gerak-gerik orang di sekitarku. Teman-temanku satu per satu berubah.
Wajah mereka masih sama, suara mereka tak berubah, tapi ada yang aneharoma tubuh yang berbeda, cara mereka tertawa yang terlalu terkontrol, dan tatapan kosong yang sesekali menembus tubuhku seperti aku hanya ilusi di hadapan mereka.
Di kantor, Anton yang biasanya cerewet tiba-tiba menjadi pendiam. Ia menyapaku dengan senyum lebar, namun matanya tak pernah benar-benar menatapku.
Ketika aku bertanya kabar keluarganya, ia melirik ke arah jam dinding sebelum menjawab, "Mereka baik-baik saja," dengan nada monoton. Aku merasakan bulu kudukku meremang.
- Teman yang dulu hangat, kini terasa asing.
- Percakapan menjadi datar, tanpa emosi.
- Mereka mulai berkumpul di lorong-lorong gelap, membisikkan sesuatu yang tak kupahami.
Malam di Tengah Kota yang Membisu
Setiap malam, aku berjalan pulang lebih cepat, menolak ajakan ngopi atau makan bersama. Aku hanya ingin sampai di rumah, mengunci pintu, berharap rasa takutku akan reda. Namun, rasa aman itu pun perlahan terkikis.
Di luar jendela, aku sering melihat sosok-sosok berdiri menatap ke kamarku. Mereka diam, tak bergerak, seperti menungguku melakukan kesalahan.
Rina, atau apapun yang kini tinggal di tubuh Rina, sering mengirim pesan. Ia mengajakku bertemu, katanya ingin membicarakan sesuatu yang penting. Aku selalu menolak, mencari alasan, tapi ia tak pernah menyerah.
Suatu malam, ia menuliskan sesuatu yang membuatku tak bisa tidur:
"Kamu tak bisa bersembunyi selamanya. Kami menunggumu."
Sejak saat itu, suara langkah kaki di koridor apartemenku semakin sering terdengar. Suara ketukan pelan di pintu, disusul bisikan samar yang seolah berasal dari dalam kepalaku sendiri.
Aku menyalakan semua lampu, namun bayangan di sudut ruangan tetap tak mau pergi.
Rahasia di Balik Wajah yang Familiar
Suatu sore, aku memutuskan untuk mencari tahu. Aku membuntuti Rinaatau makhluk yang menyerupai dirinyahingga ke sebuah gedung tua di pinggir kota. Dari celah pintu, aku melihat mereka berkumpul.
Wajah-wajah teman-temanku, semuanya menunduk, berbaris rapi dalam lingkaran. Cahaya remang membuat kulit mereka tampak pucat, hampir transparan.
Seseorang berbicara dalam bahasa yang tak pernah kudengar. Tubuhku membeku. Tiba-tiba, seluruh kepala menoleh ke arahku. Puluhan pasang mata kosong menatap, dan saat itu aku tahu: mereka tahu aku ada di sana.
Aku berlari, napasku tercekat, suara tawa mereka mengikutiku hingga ke rumah. Sejak saat itu, aku tak pernah benar-benar sendiri.
Siapa yang Bisa Dipercaya?
Hari-hari berikutnya menjadi mimpi buruk tanpa akhir. Aku mulai meragukan semua orangteman, keluarga, bahkan diriku sendiri. Setiap pagi, aku menatap cermin, mencari tanda-tanda perubahan di wajahku.
Aku takut suatu saat aku akan bangun, dan bukan lagi aku yang melihat dari balik cermin.
- Rina menghilang, tapi handphone-nya terus mengirimi pesan.
- Anton kini mengajakku bertemu tanpa alasan jelas.
- Ibuku menelepon setiap malam, suaranya terdengar seperti diputar ulang.
Kota ini berubah mencekambukan karena bayang-bayang di malam hari, tapi karena ketidakpastian di balik wajah-wajah yang selama ini kukenal. Aku tak tahu lagi siapa yang bisa dipercaya. Mungkin, pada akhirnya, aku pun akan menjadi bagian dari mereka.
Malam ini, terdengar ketukan di pintuku. Suara Rina memanggil namaku dengan nada yang terlalu lembut, terlalu sempurna. Aku menahan napas, membeku di balik tirai.
Tapi saat aku mengintip keluar, yang kulihat di lubang intipadalah diriku sendiri, tersenyum, menunggu aku membuka pintu.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0