Aku Satu-Satunya yang Diselamatkan dari Pulau Itu Namun Bukan Satu-Satunya yang Kembali
VOXBLICK.COM - Hanya aku yang duduk di kursi kayu ruang isolasi ini. Mereka bilang aku satu-satunya yang diselamatkan dari pulau itu. Tapi malam-malam belakangan, aku mulai meragukan segalanyatentang pulau itu, tentang siapa yang sebetulnya kembali ke daratan, dan tentang suara-suara yang kini selalu berbisik di sekitarku. Aku menulis ini, bukan untuk meminta pengampunan, melainkan untuk memberi peringatan. Sungguh, aku berharap aku memang satu-satunya yang pulang. Tapi kenyataannya, aku tidak sendiri.
Pemanggilan yang Tak Bisa Dijelaskan
Namanya Pulau Sagara Sunyi. Tidak ada di peta, tidak pernah diceritakan oleh siapa pun, kecuali para nelayan tua yang kini lebih sering bicara dengan angin daripada manusia.
Enam bulan lalu, aku dan tiga temankuBima, Raka, dan Intanmemutuskan untuk menjelajah ke sana. Kapal sewaan, GPS, dan rasa penasaran yang membutakan, itulah bekal kami. Hutan mangrove menyambut kami dengan sunyi, seolah pulau itu sendiri menahan napas, menunggu sesuatu yang buruk terjadi.
Malam pertama, kami menyalakan api unggun dan saling bertukar cerita seram, tertawa-tawa di bawah langit tanpa bintang. Namun saat malam semakin larut, suara tawa kami berubah menjadi bisikan-bisikan asing.
Ada bau amis yang menusuk, seperti darah tua. Lalu Intan berbisik, “Kalian dengar itu?”
Malam-malam yang Mengikis Kewarasan
Keesokan harinya, Bima menghilang. Tak ada jejak, tak ada suara. Hanya sisa sandal di tepi rawa. Kami mencari hingga matahari jungkir balik di balik kabut, tapi pulau itu terasa makin menelan kami ke dalam perutnya yang gelap.
Setiap malam, suara langkah kaki di luar tenda semakin dekat, dan suara Bima memanggil dari balik pepohonan, “Bantu aku…”. Tapi ketika aku keluar, hanya gelap dan bayang-bayang pohon kaku yang menyambut.
Intan mulai bicara sendiri, matanya kosong menatap laut. Raka mencoba menenangkan, tapi tak lama kemudian, dia juga menghilang. Malam itu, aku sendirian. Atau setidaknya, aku ingin percaya aku sendirian.
Penyelamatan yang Tak Pernah Benar-benar Selesai
Tiga hari kemudian, kapal nelayan menemukan aku tergeletak di pinggir pantai, kotor, tubuh penuh luka cakaran, dan suara serak, terus-menerus menggumamkan nama-nama teman yang hilang. Mereka membawaku pulang.
Orangtuaku menangis, media menyebutku “korban selamat satu-satunya dari pulau terlarang”. Tetapi, sejak malam pertama di rumah, aku sadar: ada sesuatu yang ikut bersamaku. Sesuatu yang tidak pernah benar-benar meninggalkan Sagara Sunyi.
- Setiap malam, ada suara langkah kaki di lorong kamar.
- Bayangan tubuh kurus muncul sekilas di sudut cermin.
- Bisikan “bantu aku…” kini terdengar dari bawah ranjang.
- Dan setiap pagi, jejak kaki berlumpur mengotori lantai ruanganku.
Bukan Satu-Satunya yang Kembali
Keluarga mulai bertingkah aneh. Ayah sering berbicara sendiri di ruang tamu, Ibu mulai melupakan namaku.
Dan suatu malam, aku melihat Intan berdiri di pojok kamar, rambutnya menutupi wajah, tubuhnya bergetar, dan dia berbisik, “Bukan hanya kau yang pulang.” Aku terdiam, tubuhku membeku. Ketika aku berani menoleh lagidia sudah tak ada. Hanya bau amis yang tertinggal, menusuk sampai ke tulang.
Sejak saat itu, malam-malamku tak lagi sendiri. Seseorangatau sesuatuselalu menatap dari balik gelap, menunggu waktu untuk menunjukkan wajah aslinya.
Aku mencoba menulis ini sebagai pengakuan, atau mungkin permohonan maaf pada yang tertinggal di pulau itu. Tapi semakin lama aku menulis, semakin jelas suara mereka di telingaku. Bima, Raka, Intan, dan… entah siapa lagi yang ikut menyeberang bersama kami pulang.
Pagi ini, aku menemukan pesan di kaca kamar, tertulis dengan jari-jari berlumpur: “Giliranmu.”
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0