Aku Sendirian di Rumah Tapi Merasa Ada yang Lain

Oleh VOXBLICK

Selasa, 13 Januari 2026 - 03.45 WIB
Aku Sendirian di Rumah Tapi Merasa Ada yang Lain
Merasa diawasi di rumah (Foto oleh mikoto.raw Photographer)

VOXBLICK.COM - Malam telah mencapai puncaknya. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, dan keheningan menyelimuti seluruh rumah. Di luar, hanya suara jangkrik yang memecah kesunyian, sementara di dalam, aku hanya ditemani oleh dengung AC yang samar dan cahaya rembulan yang menyelinap masuk melalui celah gorden. Aku sendirian di rumah, sebuah fakta yang seharusnya memberiku rasa damai dan kebebasan. Namun, malam ini, kebebasan itu terasa seperti sebuah jebakan, dan kedamaian itu berangsur-angsur terkikis oleh sesuatu yang tak kasat mata.

Awalnya, itu hanya perasaan. Perasaan aneh, seolah-olah ada mata yang mengawasiku dari balik kegelapan lorong. Aku mengabaikannya, menganggapnya sebagai imajinasi belaka akibat terlalu banyak menonton film horor.

Aku mencoba fokus pada buku di tanganku, tetapi huruf-huruf itu mulai menari-nari di depan mataku, dan setiap kali aku membalik halaman, suara gemerisik kertas itu terdengar terlalu keras, terlalu ganjil dalam keheningan yang mencekam. Sebuah sensasi dingin tiba-tiba merambat di punggungku, seolah ada seseorang yang berdiri tepat di belakangku, mengembuskan napas dingin di tengkukku.

Aku Sendirian di Rumah Tapi Merasa Ada yang Lain
Aku Sendirian di Rumah Tapi Merasa Ada yang Lain (Foto oleh Aa Dil)

Bisikan dari Kegelapan

Aku menoleh cepat, jantung berdebar. Tidak ada siapa-siapa. Hanya bayangan lemari pakaian yang menjulang tinggi, terlihat lebih menyeramkan di bawah pantulan cahaya rembulan.

Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa itu hanya angin, atau mungkin kelelahan yang mulai menyerang. Tapi kemudian, aku mendengarnya. Sebuah bisikan. Sangat samar, hampir tidak terdengar, seperti desiran daun kering yang tersapu angin malam. Namun, tidak ada jendela yang terbuka, dan tidak ada angin yang bertiup di dalam kamar yang tertutup rapat ini.

Bisikan itu terdengar seperti namaku. Atau mungkin itu hanya imajinasiku lagi, yang mencoba membentuk suara-suara acak menjadi sesuatu yang familiar dan menakutkan. Aku menahan napas, mencoba mendengarkan lebih saksama.

Keheningan kembali meraja, kali ini terasa lebih berat, lebih pekat. Lalu, bisikan itu muncul lagi, lebih jelas kali ini, datang dari sudut ruangan yang paling gelap. Kali ini, tidak hanya namaku, tapi juga serangkaian kata-kata yang tidak bisa kupahami, seperti bahasa kuno yang diucapkan dengan nada merengek dan memohon. Bulu kudukku berdiri.

Bayangan di Sudut Mata

Aku mematikan lampu baca, berharap kegelapan akan menyamarkan apa pun yang mungkin ada di sana, atau setidaknya membuatku merasa lebih aman dalam selimut. Namun, justru sebaliknya. Kegelapan justru memperkuat rasa takutku.

Setiap bayangan kini terasa hidup, setiap sudut ruangan menyimpan potensi ancaman. Aku mulai melihatnya. Bayangan-bayangan bergerak di sudut mataku, cepat dan tak terdefinisi. Ketika aku menoleh langsung, mereka menghilang, meninggalkan kekosongan yang dingin.

Apakah itu hanya kelelahan? Atau mungkin mataku yang mulai berhalusinasi? Aku menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Apakah aku menguncinya? Aku tidak ingat. Rasanya aku sudah melakukannya. Tapi keraguan itu menggerogoti pikiranku.

Aku merasa seperti ada sesuatu yang mengawasiku dari balik celah pintu, atau bahkan dari bawah tempat tidur. Aku menarik kakiku ke atas, memeluk lututku erat-erat. Aku tidak berani bergerak, takut jika sedikit saja gerakan akan memprovokasi entitas lain yang berbagi ruang denganku ini.

Sentuhan Dingin yang Nyata

Kini, sensasi dingin itu bukan lagi sekadar perasaan. Udara di dalam kamar terasa turun drastis, jauh lebih dingin dari suhu AC yang kupasang. Aku bisa melihat napas samar-samar keluar dari mulutku. Lalu, aku merasakannya. Sentuhan.

Ringan, dingin, seperti ujung jari es yang menyentuh pergelangan kakiku yang menjuntai di tepi kasur. Aku menjerit, suara tertahan di tenggorokanku, dan menarik kakiku secepat kilat. Aku gemetar hebat, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Ini bukan lagi imajinasi. Ini nyata.

Aku mencoba mencari penjelasan logis. Mungkin AC rusak? Tapi mengapa hanya di bagian ini? Mengapa ada bisikan? Mengapa ada bayangan? Aku tak bisa lagi menipu diriku sendiri. Aku tidak sendirian di rumah ini. Ada sesuatu bersamaku, sesuatu yang ingin keberadaannya diketahui. Aku merasakan:

  • Hawa dingin yang menusuk tulang.
  • Tekanan samar di dada, seolah dihimpit.
  • Aroma aneh, seperti bau tanah basah bercampur melati.
  • Rasa takut yang mencekik, melumpuhkan setiap ototku.
Aku memejamkan mata erat-erat, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir. Tapi suara itu datang lagi, lebih dekat, lebih jelas. Kali ini, bukan bisikan, melainkan suara napas berat, tepat di samping telingaku.

Bukan Lagi Kesendirian

Aku membuka mata, jantungku berdegup kencang seperti genderang perang. Di hadapanku, di kegelapan yang pekat, ada sepasang mata merah menyala. Mula-mula samar, lalu semakin jelas, menatapku tanpa berkedip. Mata itu bukan mata manusia.

Itu adalah mata yang penuh dengan kesedihan, kemarahan, dan entah mengapa, rasa ingin tahu. Aku mencoba berteriak, tapi suaraku tercekat. Aku mencoba bergerak, tapi tubuhku kaku, lumpuh karena teror yang begitu dalam. Aku hanya bisa menatap balik ke dalam jurang gelap itu, ke dalam tatapan mata merah yang kini semakin mendekat.

Wajah itu mulai terbentuk dari kegelapan, samar-samar, seperti kabut yang mengambil bentuk. Sebuah wajah yang tidak seharusnya ada. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat, dan aku tahu, pada saat itu, bahwa kesendirianku telah berakhir.

Aku tidak lagi sendirian di rumah ini. Dan entitas yang berbagi ruang denganku ini, tidak punya niat untuk pergi. Aku bisa merasakan jari-jari dinginnya menyentuh pipiku, dan bisikan itu berubah menjadi kalimat yang jelas, "Kau tidak akan pernah sendirian lagi..."

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0