Badai Es Tanpa Peringatan Datang Membawa Teror Mencekam

Oleh VOXBLICK

Kamis, 27 November 2025 - 04.40 WIB
Badai Es Tanpa Peringatan Datang Membawa Teror Mencekam
Badai es membawa teror (Foto oleh Artem Balashevsky)

VOXBLICK.COM - Malam itu, aku baru saja menutup pintu rumah setelah perjalanan panjang menembus dinginnya angin musim dingin. Tidak ada ramalan cuaca buruk, tidak ada pesan darurat di ponsel. Kota kecil kami, yang biasanya tenang, tiba-tiba diselimuti keheningan yang tak biasa. Hanya suara derit angin yang menyeruak, membisikkan sesuatu yang sulit kuterjemahkan. Lampu-lampu jalanan meredup, seolah-olah ikut bersembunyi dari sesuatu yang akan datang.

Di luar, hujan berubah perlahan menjadi butiran es sebesar kelereng, menghantam jendela dengan irama mengerikan. Aku menempelkan kening ke kaca, memandangi fatamorgana putih yang menelan segala.

Setiap pohon, atap rumah, hingga jalanan mulai membeku dalam diam. Aku merasakan udara di dalam rumah seolah-olah menjadi lebih berat, penuh ketakutan yang belum sempat kuberi nama.

Badai Es Tanpa Peringatan Datang Membawa Teror Mencekam
Badai Es Tanpa Peringatan Datang Membawa Teror Mencekam (Foto oleh Suzy Hazelwood)

Suara di Balik Hembusan Angin

Badai es tanpa peringatan menyelimuti kota dalam waktu kurang dari dua jam. Aku mencoba menghubungi ibuku yang tinggal hanya dua blok dari rumah, namun sinyal sudah hilang.

Listrik padam seketika, dan hanya cahaya redup dari lilin yang menari di dinding. Di tengah keheningan, ada suara ketukan lembut di pintu belakang. Awalnya kupikir hanya ranting yang terbawa angin. Tapi ketukan itu berulang, ritmenya teratur, seperti ada yang meniru denyut jantungku sendiri.

“Jangan buka pintu malam ini, apapun yang terjadi,” pesan ibuku yang selalu terngiang di kepala. Tapi rasa penasaran mengalahkan ketakutan. Aku mendekat dengan langkah pelan, napas menahan di dada.

Di sela-sela suara badai es yang menggila, samar-samar terdengar bisikanatau mungkin suara seseorang yang memanggil namaku dengan nada ratapan.

Bayangan di Tengah Badai

Aku berusaha mengintip melalui lubang kecil di jendela dapur. Di luar, di antara butiran es yang berjatuhan seperti peluru, kulihat sosok hitam berdiri diam. Tidak bergerak, tidak juga berlindung dari dingin yang mematikan.

Matanyajika itu bisa disebut matabercahaya merah samar, menatap lurus ke arahku. Aku merasakan bulu kudukku berdiri, keringat dingin mengalir di pelipis meskipun suhu di dalam sudah hampir membeku.

  • Badai es tanpa peringatan telah mengisolasi setiap rumah di kota kecil ini.
  • Telepon, listrik, dan semua bentuk komunikasi terputus seketika.
  • Sosok asing muncul di tengah badai, menebar teror yang tak kasat mata.
  • Ketakutan mulai menyusup ke setiap sudut pikiran, menelusup ke dalam mimpi-mimpi buruk.

Detik berlalu seperti abadi. Sosok itu masih berdiri, dan setiap beberapa menit, ia mengetuk kaca jendela dengan kuku panjangnya. Bukan mengetuk minta izin masuk, tapi lebih seperti menandai keberadaanku. Aku mundur perlahan, berusaha menahan isak.

Namun, tiba-tiba suara ketukan itu berpindahke jendela ruang tamu, lalu ke pintu depan, lalu ke atap. Seolah-olah sosok itu bergerak menembus badai es, melingkari rumahku, mencari celah untuk masuk.

Mimpi Buruk Tanpa Akhir

Jam dinding telah berhenti berdetak. Aku tak tahu sudah berapa lama aku duduk membatu di bawah meja makan, lilin hampir habis. Badai di luar belum juga reda. Sekilas, aku mengintip ke arah jendela. Tak ada lagi sosok hitam itu.

Namun, di kaca beku yang buram, aku melihat sesuatu yang tak pernah kulupakanbekas telapak tangan dan jejak kuku yang memanjang, seperti pesan yang tertinggal bagiku.

Dengan tangan gemetar, aku menuliskan pesan terakhir di buku harian: “Jika kau membaca ini dan badai es tanpa peringatan kembali, jangan pernah buka pintu. Tidak peduli siapa yang memanggil namamu.”

Di luar sana, badai perlahan mereda. Jalanan kembali sunyi, hanya sisa es yang menumpuk seperti makam bisu.

Tapi ketika aku menoleh ke cermin di lorong, samar-samar kulihat pantulan mataku berubah merah, dan ketukan pelan kembali terdengarkali ini, dari dalam rumah.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0