Boneka Voodoo, Kakakku, dan Rahasia Terselubung di Balik Luka
VOXBLICK.COM - Aku masih ingat betul aroma kayu basah yang menyapa hidung ketika aku menginjakkan kaki di kamar kakakku malam itu. Hujan deras baru saja reda, dan suara tetesan air dari atap tua rumah kami membuat suasana semakin mencekam. Kakakku, Rena, duduk membelakangi jendela dengan kepala tertunduk, seolah sedang berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat. Di pangkuannya, sebuah boneka voodoo tua dengan benang merah melilit tubuhnya. Aku menahan napas, menahan suara gemetar yang hendak keluar dari tenggorokanku.
Hubungan kami memang tak pernah dekat, tapi sejak beberapa minggu terakhir, jarak itu makin terasa. Setiap malam, suara erangan pelan dan bisikan aneh sering terdengar dari kamarnya.
Ibu hanya menggeleng, berkata bahwa itu hanyalah mimpi buruk dari gadis remaja. Namun, aku tahu ini lebih dari sekadar mimpi buruk. Luka-luka aneh bermunculan di lengan Renaluka yang tak pernah aku lihat asalnya. Aku curiga boneka voodoo itu adalah penyebabnya, tapi siapa yang akan percaya pada cerita semacam ini?
Rahasia di Balik Boneka Voodoo
Suatu malam, aku memberanikan diri masuk ke kamar Rena tanpa izin. Lampu temaram membuat bayang-bayang boneka voodoo itu terlihat hidup. Benang merah di tubuhnya terlihat semakin kusut, penuh noda coklat kehitaman yang entah dari mana asalnya.
Rena menatapku dengan mata merah sembab, bibirnya bergetar, “Jangan sentuh boneka itu, Adi. Jangan pernah.”
Aku mengabaikan peringatannya. Dengan tangan gemetar, aku mencoba mengambil boneka voodoo itu. Tapi seketika, rasa sakit luar biasa menusuk lenganku, seperti jarum-jarum halus menembus kulit.
Aku mundur terhuyung, dan melihat satu luka kecil baru di lengan Renatepat di tempat aku merasa sakit. Rena menangis, memohon agar aku pergi. "Dia tidak suka orang asing, Adi. Dia hanya mau aku."
- Setiap kali Rena marah, luka baru muncul di tubuhnya dan di tubuh boneka itu.
- Di bawah tempat tidurnya, aku menemukan catatan kecil berisi mantra dan nama kami berdua.
- Semakin sering Rena bersama boneka voodoo itu, semakin pucat wajahnya, dan semakin gelap suasana rumah kami.
Kecanduan Mistis dan Ketegangan yang Membara
Hari-hari berlalu, dan aku mulai melihat perubahan pada diri Rena. Ia semakin pendiam, sering melamun, dan kehadiran boneka voodoo itu tak pernah terlepas dari pelukannya.
Ibu mulai memperhatikan luka-luka itu, tetapi setiap kali ditanya, Rena hanya menjawab, "Aku jatuh." Aku tahu ia berbohong. Ada sesuatu yang mengikatnya pada boneka iturahasia kelam yang tak mampu ia lepaskan.
Pada suatu malam, aku terbangun oleh suara bisikan yang memenuhi kamar. Aku berjalan pelan ke arah kamar Rena dan mengintip dari celah pintu. Di dalam, Rena duduk memeluk lutut, sementara boneka voodoo itu berdiri di depannyaya, berdiri.
Aku mengucek mata, memastikan aku tidak bermimpi. Benang-benang merah di boneka itu bergerak sendiri, merayap naik ke lengan Rena, mengikatnya perlahan. Rena menangis, tetapi tidak berani melawan. Aku terpaku, tubuhku membeku oleh ketakutan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Rahasia Terselubung Keluarga Kami
Esok paginya, aku menemukan secarik surat di bawah pintu kamar. Tulisan tangan Rena gemetar, “Maafkan aku, Adi. Aku tak bisa lepas dari boneka voodoo ini. Dia tahu semua rahasia kita, semua luka yang pernah kita sembunyikan dari Ibu.
Jangan pernah mencari tahu lebih jauh, atau kau akan bernasib sama sepertiku.”
Sejak malam itu, Rena semakin jarang keluar kamar.
Ibu mulai gelisah, tapi setiap kali aku mencoba membuka pintu, Rena berteriak histeris, “Pergi! Jangan masuk!” Luka di tubuhnya makin banyak, dan boneka voodoo itu tampak semakin kusut, seolah menyerap kehidupan dari kakakku.
Aku mulai bertanya-tanya, dari mana asal boneka voodoo itu? Mengapa hanya Rena yang bisa “berkomunikasi” dengannya? Apakah rahasia keluarga kami jauh lebih gelap daripada yang pernah aku bayangkan?
Akhir yang Membekas: Luka Tak Pernah Sembuh
Seminggu kemudian, Rena menghilang tanpa jejak. Di atas ranjangnya, hanya tersisa boneka voodoo itu, tergeletak dengan benang merah dan noda darah yang kini menghitam.
Ibu menangis sepanjang malam, sementara aku hanya bisa menatap boneka itu dengan ngeri. Entah mengapa, aku merasa boneka voodoo itu menatap balik ke arahkudan untuk pertama kalinya, aku melihat benang merah itu mulai bergerak, merayap perlahan ke arahku.
Sampai hari ini, tidak ada yang tahu ke mana perginya Rena. Tapi setiap malam, aku masih mendengar bisikan dari balik lemari: “Jangan pernah lepaskan aku, Adi… Atau luka yang sama akan terulang kembali.”
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0