Bus Misterius Itu Tak Pernah Berhenti untukku Lagi
VOXBLICK.COM - Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu jalan yang redup memantulkan bayangan panjang di trotoar yang basah oleh gerimis tak kunjung reda. Aku berdiri sendiri di halte bus tua, menatap jalanan lengang yang seolah menelan suara langkah kakiku sendiri. Sejak jam sebelas malam, belum ada satu pun kendaraan yang lewat. Aku mulai bertanya-tanya, apakah bus itu benar-benar akan datang malam ini?
Setiap malam, bus misterius itu selalu melintas. Kadang berhenti, kadang hanya melaju pelan seolah mengamati. Dulu, aku selalu bisa naik, pulang bersama penumpang lain yang wajahnya samar dalam remang lampu kabin.
Namun entah kenapa, sejak seminggu terakhir, bus itu tak pernah berhenti untukku lagi.
Menunggu dalam Bayangan
Jam di ponselku menunjukkan pukul 00:21. Angin malam membawa bau tanah basah dan sesuatu yang asing, anyir dan dingin, menusuk ke dalam jaketku yang tipis.
Aku menengok ke kanan dan ke kiri, berharap ada suara rem bus atau sekadar lampu jauh yang menyorot gelap. Namun, hanya keheningan yang membalas.
Malam semakin larut, dan aku mulai menyadari sesuatu yang janggal. Ada bayangan-bayangan aneh yang bergerak di balik pepohonan di seberang halte. Awalnya aku pikir itu hanya ranting yang tertiup angin.
Tapi semakin lama, seolah-olah bayangan itu menatapku, diam, menunggu sesuatu.
- Bunyi gesekan ranting memecah keheningan, kadang terdengar seperti bisikan.
- Langkah kaki samar, menghentak aspal basah lalu lenyap begitu saja.
- Kaca halte berembun, membentuk pola tangan menempel dari luar.
Bus yang Tak Pernah Berhenti
Tiba-tiba, dari kejauhan, lampu bus perlahan muncul, menembus kabut tipis. Hatiku berdebar, harapan yang nyaris padam kembali menyala. Aku berdiri lebih dekat ke tepi trotoar, melambaikan tangan ketika bus itu semakin mendekat.
Aku bisa melihat nomor rute yang pudar di kaca depan, sama seperti bus yang selalu aku naiki.
Tapi malam itu berbeda. Bus itu melaju sangat pelan, cukup dekat hingga aku bisa memandangi wajah-wajah penumpang di dalamnya. Mereka semua menatap lurus ke depan, wajah pucat tanpa ekspresi.
Sopirnya, sosok tua dengan topi lusuh, seolah menatapku sekilas melalui kaca spion, lalu mengalihkan pandangan. Bus itu tak mengurangi kecepatan, hanya berlalu di depanku, meninggalkan hembusan angin dingin dan aroma aneh yang menusuk hidung.
“Tunggu!” seruku, namun suara itu tenggelam dalam deru mesin yang berat. Aku berlari kecil, mengejar bayangan bus yang perlahan menghilang di tikungan. Namun tak satu pun pintu terbuka, tak ada suara rem, hanya pantulan lampu yang semakin menjauh.
Bayangan yang Mengintai
Ketika bus menghilang, aku kembali ke halte, napasku tersengal. Tapi suasana jadi semakin ganjil. Halte yang biasanya terang kini remang, lampu neon berkedip-kedip seperti hendak padam.
Dari balik kaca, aku melihat bayangan tubuh tinggi menjulang, berdiri di seberang jalan. Ia tak bergerak, hanya menatap lurus ke arahku. Aku menahan napas, tak berani berpaling.
Dalam sekejap, bayangan itu seolah berpindah lebih dekat, kini tepat di samping halte. Aku tak bisa melihat wajahnya, tapi aku bisa merasakan tatapannya menusuk ke dalam pikiranku.
Udara di sekelilingku menggigil, dan suara bisikan yang tadi samar kini terdengar jelas di telingaku, “Mengapa bus itu tak berhenti lagi untukmu?”
Penantian yang Tak Pernah Usai
Jam menunjukkan pukul 01:47. Bus berikutnya tak kunjung datang. Bayangan-bayangan itu semakin banyak, mengelilingi halte, bergerak dalam diam. Aku mulai merasa waktu berhenti di tempat ini, seolah malam tak mau berakhir.
Setiap kali aku menoleh ke arah jalan, hanya ada kegelapan. Setiap langkah mundur, bayangan itu mendekat.
Aku mencoba menelepon seseorang, tapi layar ponselku hanya menampilkan gambar bus dengan nomor rute yang sama, berulang-ulang, tanpa suara, tanpa sinyal.
Hening. Hanya suara detak jantung dan bisikan entah dari mana. Aku menutup mata, berharap ketika membukanya, bus itu akan berhenti dan membawaku pulang.
Tapi ketika aku membuka mata, halte sudah kosongdan aku berdiri sendirian di tengah jalan, menatap ke arah lampu bus yang perlahan mendekat. Namun kali ini, aku melihat diriku sendiri berdiri di pinggir jalan, menunggu bus yang tak pernah berhenti untukku lagi.
Malam belum berakhir. Dan penantian ini, entah kapan akan usai…
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0