Foto dan Ilustrasi yang Menghidupkan Teror Urban Legend
VOXBLICK.COM - Hujan turun deras sore itu, memantulkan cahaya lampu jalan yang temaram di aspal gelap. Aku menarik tudung jaket lebih erat, berusaha menahan rasa dingin yang merayap ke tulang. Di tangan, kamera tua yang selalu kubawa terasa berat, namun malam ini ada sesuatu yang berbeda. Ada bisikan samar di telingaku, seolah-olah malam ini kota menyimpan rahasiadan aku, tanpa sadar, telah menjadi bagian dari legenda yang selama ini hanya kudengar dari cerita-cerita sumbang di pojok warung kopi.
Aku berjalan menyusuri gang sempit yang terkenal angker. Kata orang, di sanalah sosok perempuan dengan gaun compang-camping kerap menampakkan diri.
Tetapi aku tak percaya, sampai malam itu, ketika aku mengangkat kamera, menekan tombol rana, dan lampu kilat menyambar kegelapan. Sekilas, sesuatu menampakkan diri di balik jendela rumah tuabayangan pucat dengan senyum menganga, matanya kosong menatap lurus ke arahku. Aku terpaku, tubuh kaku membatu, napas tercekat di kerongkongan.
Goresan Ilustrasi, Bayangan di Balik Dinding
Malam-malam berikutnya, aku tak bisa tidur. Di kamar, aku menyalakan lampu temaram dan menatap foto hasil bidikan malam itu. Aku memperbesar bagian jendela, dan di situjelas sekaliterpampang sosok yang mustahil ada.
Seolah-olah kamera menjadi jendela menuju dunia lain, tempat urban legend bukan lagi sekadar cerita, melainkan kenyataan yang menanti untuk diterkam.
Kegelisahan itu membawaku pada kebiasaan baru: menggambar. Setiap malam, tanganku bergerak sendiri di atas kertas, menciptakan ilustrasi yang semakin tidak masuk akal.
Wajah-wajah aneh, tubuh-tubuh yang seolah membusuk, dan mata-mata yang terus menatapku dari balik lembaran sketsa. Semakin lama aku menggambar, semakin nyata mereka terasa. Suara-suara lirih mengisi kamar, berbisik tentang rahasia yang tak boleh kubocorkan.
Ketegangan yang Tak Pernah Padam
- Setiap foto yang kuambil berubah, seolah-olah sosok dalam urban legend itu semakin mendekat.
- Ilustrasi yang kubuat tak pernah samasetiap malam, wajah mereka berubah, seperti hidup di atas kertas.
- Pintu kamarku kerap berderit sendiri, dan bau tanah basah selalu menguar di udara, meski tak hujan.
Pernah suatu malam, aku mendengar langkah kaki berat di luar jendela. Kuambil kamera, berharap sosok itu hanya imajinasi.
Namun begitu kilatan cahaya menyala, aku melihat dengan jelas: perempuan bergaun compang-camping berdiri di bawah cahaya bulan, menatap lurus ke arahku. Bibirnya bergerak, membisikkan namaku. Untuk pertama kalinya, aku percayaurban legend itu hidup, dan kini menuntut lebih dari sekadar gambaran di atas kertas.
Dialog dalam Kegelapan
Suara tangisan lirih kian sering terdengar setiap malam. Aku mencoba berbicara, berharap itu hanya khayalanku.
"Siapa kau?" bisikku pelan.
Sebuah suara serak menjawab dari balik cermin, "Aku adalah bayangan yang tak pernah kau percaya."
Jantungku berdegup kencang. Aku mencengkeram kamera, berharap bisa mengabadikan sosok itu lagi, namun lensa kamera hanya memperlihatkan bayanganku sendiridan, samar, sepasang mata lain yang menatapku dari balik bahuku.
Saat Foto dan Ilustrasi Menjadi Gerbang Teror
Semua yang kuabadikan berubah menjadi sesuatu yang hidup, sesuatu yang menuntut pengakuan. Foto-foto lama di album keluarga mulai berubah wajah-wajah di dalamnya menoleh, menatapku dengan tatapan hampa.
Ilustrasi yang kugantung di dinding kamar kerap jatuh sendiri, seolah-olah mereka ingin keluar dari bingkai, menuntut bagian mereka dalam dunia nyata.
- Urban legend bukan lagi sekadar ceritamereka adalah sosok yang menunggu dipanggil oleh lensa kamera dan pena ilustrator.
- Setiap gambar adalah portal, setiap sketsa adalah undangan bagi kegelapan untuk masuk.
Sampai malam ini, aku masih menulis, masih menggambar, dan masih memotret. Tetapi kadang, ketika aku menatap hasil foto atau ilustrasi di dinding, aku sadarada sesuatu yang berubah, sesuatu yang menunggu di balik gambar.
Dan saat aku berbalik, di sudut kamar, samar-samar, seseorang tersenyum lebar tanpa suara. Lampu tiba-tiba padam. Lalu, terdengar suara langkah mendekat, dan semuanya menjadi hitamkecuali kilatan kamera yang menyambar sekali lagi, menangkap teror urban legend yang kini tak lagi ingin sekadar diceritakan.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0