Hobi Rahasiaku Hampir Membuka Gerbang Neraka Malam Itu
VOXBLICK.COM - Aku selalu punya satu hobi rahasia yang tak pernah benar-benar kuceritakan pada siapa pun. Sebuah kebiasaan aneh di tengah malam, saat semua orang sudah terlelap, dan hanya suara detak jam tua di ruang tamu yang menemani. Hobi itu sederhana: menulis kata-kata asing, simbol-simbol aneh, dan mantra-mantra kuno di lembaran kertas bekas. Awalnya, hanya untuk iseng, sekadar mengusir rasa bosan dan rasa penasaran terhadap hal-hal yang tak bisa dijelaskan logika. Tetapi malam itu, segalanya berubah. Hobi rahasiaku hampir membuka gerbang neraka.
Simbol-Simbol dari Kegelapan
Saat jarum jam menunjukkan pukul 2 dini hari, udara di kamar terasa lebih dingin dari biasanya. Aku menyalakan lilin kecil di pojok meja, satu-satunya sumber cahaya di antara bayangan yang menari di dinding.
Di atas meja berserakan catatan-catatan lama, rautan pensil, dan sebuah buku kulit tua yang kutemukan di pasar loak beberapa minggu lalu. Buku itu tak punya judul, hanya ukiran aneh di sampulnyaseperti lingkaran dengan mata di tengah.
Dengan ujung pensil, aku mulai menyalin simbol dari halaman pertama buku. Jari-jariku gemetar, entah karena dingin atau karena firasat aneh yang diam-diam merayap ke dadaku.
Tiba-tiba, suara di luar kamarseperti langkah kaki, berat dan menyeretmembuatku menahan napas. Aku menoleh, tapi tak ada apa-apa. Semua pintu terkunci. Hanya aku, buku itu, dan malam yang terlalu sunyi.
Mantra yang Tak Pernah Seharusnya Dibaca
Tidak tahu apa yang mendorongku, aku mulai membaca mantra yang tertulis di halaman itu. Kata-kata asing terasa aneh di lidahku, seperti menari di udara dan berputar mengelilingi lilin.
Udara di dalam kamar tiba-tiba menjadi berat, seolah waktu melambat. Bayangan di dinding menebal, bergerak sendiri tanpa sumber.
- Suara berbisik seperti berasal dari balik dinding, memanggil namaku perlahan-lahan.
- Lilin kecil di meja berkedip, lalu apinya membesar dan berubah warna menjadi merah darah.
- Udara dipenuhi aroma besi panas dan tanah basah, menusuk hidung hingga membuatku mual.
Jantungku berdegup liar, dan aku ingin berhenti. Tapi seakan ada sesuatu yang menahan tanganku, memaksaku menuliskan simbol terakhir di kertas. Saat ujung pensil menyentuh garis terakhir, seluruh ruangan bergetar.
Suara pintu kamar berderitpadahal aku tahu pasti tadi sudah kukunci rapat.
Gerbang yang Hampir Terbuka
Dengan perlahan, udara di depanku menghitam, seperti pusaran asap pekat yang muncul dari balik lantai kayu. Dari kegelapan itu, muncul suarabukan suara manusia, tapi lebih seperti erangan makhluk yang sudah lama terkubur.
Aku terpaku, tubuhku kaku, hanya mataku yang bisa bergerak menatap lubang hitam itu. Sebuah tangan kurus, panjang, dan bersisik menggapai keluar, mencakar udara, seolah mencari sesuatu untuk dipegang.
Kepanikan membuatku menjatuhkan pensil ke lantai. Saat itulah, lilin di meja padam tiba-tiba. Dalam kegelapan total, aku masih bisa mendengar napas berat dari sesuatu yang kini ada di ruangan bersamaku.
Tak ada yang bisa kulakukan selain menahan napas dan berharap ini hanyalah mimpi buruk.
- Suara desir kuku di lantai kayu, menggores perlahan mendekat ke arahku.
- Bisikan di telinga, "Kau sudah memanggilku. Sekarang aku di sini."
- Sesuatu yang dingin menyentuh pergelangan kakiku, membuat darahku membeku seketika.
Malam Tak Pernah Benar-Benar Usai
Entah berapa lama aku terdiam dalam gelap, menahan tangis dan menunggu pagi yang tak kunjung datang. Tiba-tiba, cahaya fajar menyelinap lewat celah jendela.
Semua aroma besi dan tanah basah hilang, suara aneh lenyap, dan ruangan kembali seperti biasa. Tapi di lantai, tepat di bawah meja, ada bekas cakarantiga garis hitam yang membekas dalam di kayu. Buku tua itu terbuka di halaman terakhir, dengan simbol yang kini menghitam seperti terbakar.
Sampai hari ini, aku masih tak berani menulis apapun di malam hari. Tapi kadang, saat malam benar-benar sunyi, aku mendengar suara kuku menggores lantai dari balik lemari. Mungkin, gerbang itu belum benar-benar tertutup.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0