Jangan Pergi ke Pantai Saat Malam Jika Tak Ingin Menyesal
VOXBLICK.COM - Langit malam di atas pantai selalu punya pesona tersendiri. Gelombang yang memantulkan cahaya bulan, pasir dingin yang menggeliat di sela-sela jari kaki, dan aroma asin laut yang menusuk hidung. Tapi, di balik keindahan itu, tersimpan sesuatu yang seharusnya tak pernah kucari. Aku tahu, larangan itu bukan sekadar cerita iseng, tapi malam itu, sesuatu dalam diriku mendorong untuk menantang batas.
Aku dan tiga temankuRisa, Bima, dan Ditomemutuskan untuk berkemah di tepi pantai kecil yang katanya jarang disentuh manusia. Sudah lewat tengah malam ketika kami duduk melingkar di sekitar api unggun.
Suara ombak terdengar lebih berat, seperti ada sesuatu yang mengintai dari balik kegelapan. Risa sempat berbisik, "Jangan pergi ke pantai saat malam jika tak ingin menyesal." Kalimat itu seharusnya cukup, tapi hasrat penasaran kami sudah terlalu besar.
Suara dari Laut yang Membeku
Malam itu, entah dari mana datangnya, udara tiba-tiba terasa sesak. Bima, yang biasanya paling berani, mendadak diam. Dito menoleh ke arah gelap, matanya menyipit menembus bayangan.
Aku mengikuti arah pandangannya, dan di kejauhan, samar-samar kulihat sosok putih bergelayut di bibir ombak. Tidak berjalan, tidak pula melayanghanya diam, seolah menanti kami mendekat.
Tanpa sadar, langkah kakiku membawaku lebih dekat ke air. Suara-suara aneh mulai terdengar, seperti bisikan yang menggema di dalam telinga. "Pulang... pulanglah..." Tapi kaki ini seperti tertarik oleh sesuatu yang tak terlihat.
Risa berteriak memanggil namaku, tapi suara ombak menelannya bulat-bulat.
Pilihan yang Membawa Penyesalan
Beberapa hal aneh mulai terjadi:
- Api unggun tiba-tiba padam, meninggalkan kami dalam gelap gulita.
- Ada aroma amis dan anyir menguar, menusuk lebih tajam dari biasanya.
- Bima mengaku melihat bayangan tangan muncul dari pasir, mencengkeram kakinya sebelum menghilang cepat.
- Dito mulai berteriak histeris dan mengaku mendengar suara ibu memanggilnya dari tengah lautpadahal ibunya sudah tiada.
Saat aku mencoba berbalik, pasir di bawah kakiku terasa licin, seolah ada sesuatu yang bergerak di bawah permukaan. Risa menggenggam tanganku erat, gemetar bukan main. "Kita harus pergi sekarang," bisiknya nyaris tanpa suara.
Rahasia yang Terkubur di Pantai
Kami berlari sekuat tenaga menuju tenda, meninggalkan semua barang. Tapi pantai itu seolah berubah menjadi labirin. Setiap kami menoleh ke belakang, sosok putih tadi makin jelaswajahnya tak berbentuk, hanya lubang hitam menganga, menatap tanpa mata.
Dingin menembus tulang, waktu terasa melambat.
Aku mencoba mengingat jalan pulang, tapi pasir, ombak, dan angin malam seakan menyesatkan kami. Langkah kaki kami tercekat ketika mendengar suara tawapelan, namun menyayat. Risa menutup telinga, menangis. Dito tak lagi bisa bicara.
Bima tersungkur, dan ketika aku mencoba menolongnya, tanganku menyentuh sesuatu yang dingin, berlendir, dan bergerak cepat menariknya ke dalam pasir.
Akhir yang Menggantung di Bawah Sinar Bulan
Pagi harinya, aku terbangun sendirian di tepi pantai. Tidak ada bekas tenda, tidak ada jejak api unggun, hanya aku dan jejak kaki yang mengarah ke lauttiga pasang, menghilang tepat di batas air.
Aku berteriak memanggil nama mereka, tapi hanya ombak yang menjawab, tenang seolah tak terjadi apa-apa semalam. Di ujung pasir, aku menemukan sesuatu yang tak seharusnya adasehelai pita rambut Risa, basah dan berlumuran pasir hitam.
Sejak malam itu, aku tak pernah lagi kembali ke pantai setelah matahari tenggelam.
Tapi kadang, di tengah malam, suara tawa dan bisikan itu masih menghantuiseolah memanggil, mengajak kembali ke tempat di mana rahasia gelap masih menunggu untuk ditemukan. Dan hingga kini, tak ada yang tahu apa yang benar-benar terjadi malam itu. Atau... mungkin pantai itu sendiri yang menelan mereka?
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0