Jangan Pernah Menatap Para Pelantun Lagu Natal Itu

Oleh VOXBLICK

Kamis, 15 Januari 2026 - 02.30 WIB
Jangan Pernah Menatap Para Pelantun Lagu Natal Itu
Horor pelantun lagu Natal (Foto oleh RDNE Stock project)

VOXBLICK.COM - Malam Natal selalu membawa nuansa yang berbeda di lingkungan perumahanku. Udara terasa lebih dingin, lampu-lampu kecil berkelap-kelip di sepanjang jalan, dan aroma kayu bakar samar-samar menguar dari cerobong rumah tetangga. Namun tahun itu, ada sesuatu yang mengusik sejak senja turun. Jendela-jendela terlihat lebih gelap, dan suara tawa anak-anak yang biasa meriah kini lenyap entah ke mana. Aku sendiri di rumah, menunggu malam bergulir dengan segelas cokelat panas, ketika ketukan perlahan terdengar di pintu depan.

Aku mengintip dari balik tirai, berharap hanya ilusi akibat angin yang kian kencang. Tapi tidak. Di halaman depan, bayangan-bayangan berdiri rapat, membentuk siluet yang tak biasa. Mereka mengenakan jubah panjang, topi merah, dan syal tebal.

Tangan mereka menggenggam buku nyanyian, dan dari mulut-mulut mereka, terdengar lantunan lagu Natallembut, tapi dengan nada yang ganjil, rendah, seolah-olah gema dari dunia lain.

Jangan Pernah Menatap Para Pelantun Lagu Natal Itu
Jangan Pernah Menatap Para Pelantun Lagu Natal Itu (Foto oleh Andrea De Santis)

Ketukan di Malam Sunyi

Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih keras. Aku menenangkan diri, berusaha meyakinkan bahwa mereka hanyalah pelantun lagu Natal seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi hatiku menolak tenang.

Ada sesuatu yang aneh pada cara mereka berdiriterlalu tegak, terlalu rapat, dan bayangan mereka seakan-akan meluber ke tanah, melengkung seperti tumpahan tinta hitam.

Dengan ragu, aku membuka pintu beberapa senti. Suara lagu mereka langsung menyerbu telingaku, namun bukan lirik yang kukenal. Bait-baitnya terdengar seperti mantra dalam bahasa asing, melingkar-lingkar di kepalaku hingga membuat pusing.

Salah satu dari mereka, seorang wanita dengan wajah hampir seluruhnya tertutup syal, melangkah maju.

“Selamat malam Natal,” bisiknya, suaranya serak dan berat. Jemarinya menekan buku lagu hingga kertasnya hampir robek. Aku ingin menatap wajahnya, mencari ketulusan di matanya, tapi entah kenapa, tubuhku menolak.

Ada dorongan kuat di dalam hati untuk tidak menatap wajah siapa pun di antara mereka.

Rahasia di Balik Senyuman

Mereka terus bernyanyi, semakin lama semakin keras. Suaranya menggema ke dalam rumah, memantul di dinding-dinding, dan seolah-olah menarikku keluar.

Aku merasa kesadaranku mulai melayang, tetapi tetap menundukkan kepala, menahan diri agar tidak melihat wajah mereka. Namun, dari sela-sela rambut yang menutupi wajah, aku menangkap sesuatusegurat senyum yang terlalu lebar, terlalu gelap, seperti celah ke dalam lubang tak berdasar.

  • Bibir mereka bergerak tak seirama dengan lagu
  • Mata mereka selalu tertutup, atau mungkin… sudah tak ada lagi di balik kelopak itu
  • Udara di sekitar mereka mendingin hingga embun menempel di kaca jendela

Getaran aneh menjalar ke telapak kakiku. Aku mundur, menutup pintu perlahan, tetapi mereka tetap bernyanyi. Suaranya kini berubah menjadi bisikan, mengalir menembus dinding, dan mengisi ruang tamu dengan aroma lilin yang terbakar habis.

Lagu Natal yang Tak Pernah Usai

Jam menunjuk tengah malam. Lagu mereka tak juga selesai. Aku berlari ke kamar, membenamkan diri di bawah selimut, menutup telinga erat-erat. Tapi suara itu tetap ada. Menyelinap masuk lewat celah pintu, menari di sekeliling tempat tidurku.

Aku menyesal telah membuka pintu, walau hanya sebentar.

Pagi harinya, aku memberanikan diri mengintip ke luar. Tak ada jejak siapa pun. Tidak ada tapak kaki di salju, tidak ada bekas lilin di teras. Tapi di depan pintu, tergeletak sebuah buku nyanyian tua.

Sampulnya hitam, dan di halaman pertama, tertulis dengan tinta merah: “Jangan Pernah Menatap Para Pelantun Lagu Natal Itu.”

Malam Natal Tahun Depan

Sejak malam itu, aku tak pernah lagi membuka pintu saat lagu Natal berkumandang di luar. Setiap tahun, di malam yang sama, suara itu kembalilebih dekat, lebih lantang, dan lebih memaksa. Aku tahu, suatu saat aku mungkin tergoda untuk menatap mereka.

Tapi sampai hari itu tiba, aku hanya bisa berdoa, berharap pintuku cukup kuat untuk menahan mereka di luar. Dan kalau kau mendengar suara mereka malam ini, kuharap kau ingat satu hal: jangan pernah menatap para pelantun lagu Natal itu.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0