Jangan Pernah Sebut Namaku Atau Ia Akan Datang
VOXBLICK.COM - Malam itu, angin terasa lebih dingin dari biasanya. Aku duduk terpaku di sudut kamar, cahaya lampu temaram hanya mampu mengusir sebagian gelap yang merayap di setiap sudut. Sejak peristiwa aneh dua hari lalu, tidur bukan lagi pilihan yang mudah bagiku. Ada sesuatu yang terus mengintai, menunggu celahsesuatu yang tak boleh disebut namanya.
Aku masih ingat jelas bagaimana semuanya bermula. Anton, sahabatku, datang membawa cerita baru yang ia dengar dari internet. “Katanya, kalau kau sebut namanya dengan suara keras, ia akan datang. Dia tidak suka dipanggil.
Dan kalau kau tetap keras kepala, kau akan menyesal.” Aku menertawakan Anton waktu itu, menganggapnya hanya omong kosong urban legend yang sering beredar di forum remaja. Tapi malam itu, setelah terlalu banyak kopi dan candaan bodoh, aku melakukannya. Dengan lantang, kusebut nama yang katanya tabu itu. Anton menatapku dengan wajah tegang, tapi aku hanya tertawa sambil menyalakan rokok. Malam berlalu, tapi sejak saat itu, semuanya berubah.
Bayangan di Balik Jendela
Pada malam ketiga, suara ketukan terdengar dari jendela kamarku. Awalnya pelan, seperti ranting yang tertiup angin, tapi perlahan menjadi lebih keras dan teratur. Aku menahan napas, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya hembusan angin.
Tapi ketika kulihat ke arah jendela, ada sesuatu di sana. Bukan binatang, bukan pula bayangan pohon, tetapi siluet tinggi dan kurus dengan mata yang berpendar merah samar. Aku membeku. Wajahnya tak jelas, seolah-olah kabut pekat menutupi seluruh sosoknya.
Suara langkah-langkah berat mulai terdengar di lorong rumah. Setiap langkah membuat lantai berderit, dan aku bisa merasakan hawa dingin merayap di kulitku. Aku menatap pintu kamar, berharap semua ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir.
Tapi suara itu semakin dekat, dan bisikan lirih menggema di telingaku:
- “Jangan pernah sebut namaku…”
- “Aku tahu kau memanggilku…”
- “Aku sudah di sini.”
Malam Tanpa Akhir
Anton menelepon keesokan harinya, suaranya terdengar gemetar. “Lo juga diganggu, kan?” katanya tanpa basa-basi. Aku mengangguk, walau ia tak bisa melihatnya. Kami sepakat untuk saling menemani malam itu.
Ia datang ke rumah dengan wajah pucat, kantong hitam menggantung di bawah matanya. Kami duduk di ruang tamu, menunggu malam berlalu sambil menyalakan setiap lampu yang ada. Tapi entah kenapa, tepat pukul dua belas tengah malam, seluruh listrik padam. Gelap menelan kami, dan dari sudut ruangan, suara napas berat terdengar. Kami saling menggenggam tangan, berharap pagi akan segera datang.
Di tengah kegelapan, pintu depan mengayun terbuka perlahan. Dinginnya malam merambat masuk, membawa bau tanah basah dan sesuatu yang membusuk. Sosok itu berdiri di ambang pintu, lebih jelas dari sebelumnya.
Kali ini, aku bisa melihat senyum tipis di wajahnyasenyum yang penuh ancaman.
Peringatan yang Terlambat
Anton berbisik, “Kita harus keluar dari sini.” Tapi setiap kali kami bergerak, bayangan itu semakin mendekat. Langkah kami terasa berat, seperti ada tangan tak kasatmata yang menahan. Aku mencoba membaca doa, tapi lidahku kelu.
Sosok itu kini berdiri tepat di depan kami. Matanya yang merah menatap tajam, dan suara bisikan itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas:
- “Sudah kubilang, jangan sebut namaku.”
Anton berteriak, tapi suaranya tenggelam dalam keheningan pekat. Aku memejamkan mata, berharap semuanya hilang. Tapi ketika kubuka mata, aku sendirian. Anton sudah tidak ada. Hanya sisa bau tanah dan hawa dingin yang tersisa.
Di lantai, samar-samar kulihat bekas jejak kaki berlumpur, mengarah ke sudut tergelap rumahku.
Sampai Hari Ini
Setiap malam, aku masih mendengar suara langkah itu. Ketukan di jendela, bisikan yang memenuhi mimpi burukku, dan bayangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Aku menulis kisah ini sebagai peringatanbukan untuk mencari belas kasihan, tapi agar kau tidak melakukan kesalahan yang sama. Jika kau membaca ini di malam hari, pastikan kau tidak sendirian. Dan yang terpenting, jangan pernah sebut namaku.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0