Jurnal Misterius di Pantai dan Malam yang Menghantui
VOXBLICK.COM - Malam itu, angin pantai meniup rambutku seperti bisikan dari dunia lain. Aku berjalan sendirian di pasir yang dingin, membiarkan jejak kaki tenggelam pelan sebelum akhirnya dihapus ombak. Tidak ada suara selain debur ombak dan detak jantungku sendiri. Di sela-sela gelap, mataku menangkap sesuatu yang aneh di antara gulungan rumput laut dan pecahan kerangsebuah buku usang, terkena air laut, bersampul hitam dan tanpa judul. Aku membungkuk, meraihnya, dan saat tanganku menyentuh permukaan kulitnya yang lembab, hawa dingin menjalar dari jari ke tengkuk.
Jurnal itu terasa berat, seolah menyimpan rahasia yang tak seharusnya dibaca manusia. Di balik halaman pertamanya, ada noda pasir, tulisan tangan miring dengan tinta yang mulai luntur.
Aku membaca, perlahan, merasa seperti mengintip sesuatu yang terlarang. Kata-kata pertama membuat bulu kudukku berdiri: “Jika kau membaca ini, jangan pernah kembali ke pantai saat bulan menguning.”
Fragmen Kisah yang Tersembunyi
Semakin dalam aku membaca, semakin aneh isinya. Jurnal itu mencatat pengalaman seseorang yang kerap bermimpi didatangi sosok berambut basah dan bermata kosong setiap malam.
Sosok itu selalu berdiri di bibir pantai, memanggil-manggil dengan suara seraknamun tidak ada satu manusia pun yang mendengar, kecuali sang penulis jurnal. Terkadang, penulis menulis:
- “Malam ini, ia lebih dekat. Jejak kakinya menembus pasir, meninggalkan bekas air.”
- “Tangannya dingin saat menyentuh pundakku dalam mimpi.”
- “Aku terjaga dengan pasir basah di bawah tempat tidurku.”
Aku tertegun, menutup jurnal sejenak dan menoleh ke sekitar. Pantai itu kini terasa lebih sunyi, seolah menunggu sesuatu.
Aku mencoba menenangkan diri, mengingatkan bahwa ini hanya tulisan, namun setiap embusan angin membawa aroma laut yang sama dengan cerita dalam jurnal itu.
Malam-malam yang Menghantui
Rasa penasaran mengalahkan ketakutanku. Aku memutuskan untuk membawa pulang jurnal misterius itu. Malam-malam berikutnya, aku mulai mengalami hal-hal aneh.
Setiap kali memejamkan mata, aku bermimpi berada di pantai yang sama, namun dalam suasana yang berbedalangit merah kehitaman, air laut seperti tinta, dan suara lirih perempuan menangis. Aku mencoba mengabaikannya, tapi setiap pagi, pasir basah mulai muncul di lantai kamarku. Aku yakin tidak membawanya dari luar.
Suatu malam, aku tidak tahan. Aku membuka jurnal itu di hadapan cermin, berharap bisa menemukan akhir dari kisah penulis sebelumnya.
Namun, halaman-halaman berikutnya kosong, hanya ada satu kalimat di tepi halaman terakhir: “Jika kau membaca sampai sini, maka kau telah menjadi bagian dari kisah ini.”
Tanda-tanda Kehadiran yang Tak Terlihat
Setelah membaca kalimat terakhir itu, aku mulai memperhatikan perubahan kecil di sekitarku:
- Bayangan di sudut kamar sering bergerak sendiri.
- Suara langkah kaki di lorong, padahal rumahku kosong.
- Lampu sering berkedip saat malam mencapai puncaknya.
- Setiap malam, suara ombak terdengar semakin dekat, seolah-olah pantai itu sendiri berpindah ke depan rumahku.
Teman-temanku mulai menjauh, mengatakan bahwa aku sering bicara sendiri, mataku selalu tampak kosong.
Mereka tidak tahu, aku hanya berusaha melawan suara dari jurnal itusuara yang kini berbisik, mengajakku kembali ke pantai, malam-malam saat bulan menguning sempurna.
Bisikan Terakhir di Pantai
Pada malam keempat belas, aku menyerah pada panggilan itu. Aku berjalan ke pantai, membawa jurnal yang kini selalu terasa hangat di genggaman. Bulan di atas laut tampak lebih besar, cahayanya kuning pudar.
Di bibir pantai, aku melihat sosok perempuan dengan rambut terurai, basah kuyup, menungguku. Ia tersenyum samar, matanya kosong seperti lubang hitam, dan aku tahuaku sudah melihatnya di mimpi-mimpi burukku.
Ia mengulurkan tangan, dan tanpa sadar aku menggapainya. Ombak naik, menelan kakiku, lalu lutut, lalu pinggang. Suara ombak berubah menjadi bisikan: “Kini kau penulis berikutnya.
” Saat air menutup mataku, aku sempat melihat jurnal itu tenggelam bersama kami, terbuka di halaman kosong lain, siap menunggu penemu berikutnya.
Beberapa hari kemudian, di pantai yang sama, seseorang menemukan sebuah jurnal usang bersampul hitam, tanpa judul, di antara rumput laut dan pecahan kerang. Dan malam kembali menunggu korban berikutnya.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0