Kisah Kamera Misterius di Acara TV Lokal Membawa Teror
VOXBLICK.COM - Hujan baru saja reda ketika aku melangkahkan kaki ke studio tua di pinggiran kota. Malam itu, akuRizal, seorang kameramen untuk acara TV lokalditugaskan merekam segmen khusus bertema urban legend. Gedungnya suram, lampu neon berkelip redup, dan hanya suara langkah kami yang terdengar di lorong sempit. Produserku, Pak Joni, mengingatkan bahwa episode ini harus tampil otentik, jadi kami memilih lokasi yang konon penuh cerita aneh.
Begitu masuk ruang utama, aku melihat kamera tua yang diletakkan di atas tripod tua di pojok ruangan. “Coba pakai kamera itu saja, Zal,” ujar Pak Joni setengah bercanda, menunjuk pada kamera yang tampak seperti peninggalan tahun 80-an.
Aku mengangkat kamera itu, berat dan dingin seperti batu nisan. Ada goresan aneh di bodinya, tapi aku terlalu sibuk memeriksa baterai dan lensa untuk peduli.
Segalanya berjalan normal saat aku mulai merekam. Host kami, Dita, membacakan naskah di tengah ruangan gelap. Namun, aku mulai merasakan hawa dingin menjalar dari kamera ke tanganku.
Setiap kali aku mengarahkan lensa ke sudut ruangan, bayangan hitam seperti melintas cepat. Aku pikir itu hanya efek cahaya, tapi monitor pada kamera menampilkan sesuatu yang berbeda dari kenyataan di depanku.
Bayangan di Balik Lensa
Beberapa kali aku mengedipkan mata, mencoba menepis ilusi. Namun, setiap kali aku menyorotkan kamera ke Dita, sosok bayangan tinggi tampak berdiri di belakangnya di layar, padahal ruangan nyata benar-benar kosong.
Aku berhenti merekam sejenak, menatap Pak Joni, “Pak, tadi ada yang lewat di belakang Dita, lihat nggak?”
Pak Joni menggeleng, wajahnya mulai berubah pucat. “Ini cuma kita bertiga, kok. Sudah, lanjut saja.” Tapi aku tahu, yang kulihat tadi bukan hal biasa. Rekaman pada kamera memperlihatkan:
- Sosok bayangan tinggi dan kurus menempel pada dinding, bergerak tidak wajar.
- Sekilas, seolah matanya menatap lurus ke lensa, menembus tubuhku.
- Audio menangkap suara bisikan samar, padahal ruangan sunyi.
Mimpi Buruk Terekam Malam Itu
Waktu berlalu lambat. Setiap kali aku menekan tombol rekam, udara di sekitarku semakin dingin. Dita tampak gelisah, suaranya bergetar saat membaca naskah. “Zal, di belakangku ada siapa?” bisiknya pelan. Aku tak sanggup menjawab.
Aku hanya menatap monitor, berharap bayangan itu menghilang. Namun, kini bukan hanya satu, melainkan tiga sosok bayangan berdiri mengelilinginya.
Pak Joni mendadak berteriak, “Stop! Matikan kamera itu!” Aku buru-buru menekan tombol off. Namun, layar monitor tetap menyala, memperlihatkan ruangan yang tiba-tiba berubah gelap pekat.
Dita menghilang dari layar, digantikan oleh bayangan-bayangan itu yang kini mendekat ke arah lensa, seolah hendak menembus kaca monitor.
Akhir yang Tak Pernah Sampai
Kami bertiga berlari keluar studio malam itu, meninggalkan kamera tua yang masih menyala, menyorot ke pojok ruangan. Suara bisikan samar tetap terdengar di telinga, meski sudah jauh dari lokasi.
Ketika kami memeriksa hasil rekaman keesokan harinya, hanya ada gambar kosongsemua footage gelap, kecuali satu frame terakhir: sebuah wajah pucat dengan mata hitam menatap langsung ke arahku, seolah menungguku kembali.
Sejak malam itu, studio kosong. Kamera tua tetap tertinggal di pojok, menyala setiap malam tanpa ada yang menyentuh.
Dan kadang, di tengah malam, aku masih mendengar bisikan samar dari balik layar monitormemanggil namaku, meminta aku untuk kembali merekam kisah yang belum selesai...
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0