Kisah Mencekam Antar Pizza Terakhirku di Malam Kelam
VOXBLICK.COM - Udara malam itu terasa berbeda. Aku baru saja mengunci pintu dapur belakang restoran pizza tempatku bekerja, berharap pesanan terakhir telah diantar oleh rekanku. Namun, suara ponselku bergetar pelanada satu orderan lagi. Alamatnya: Jalan Mawar 13, sebuah rumah tua di pinggiran kota yang konon angker. “Hanya sepuluh menit,” pikirku, mencoba menenangkan diri. Tapi, dalam hati kecilku, timbul rasa was-was yang sulit dijelaskan.
Di luar, hujan gerimis menambah suasana muram. Aku masukkan kotak pizza ke dalam tas thermal, lalu melajukan motor menembus kabut tipis yang menggantung di jalanan. Lampu-lampu jalan redup, seolah lelah menerangi malam yang semakin kelam.
Setiap bayangan pohon terasa seperti sosok yang mengintai, menunggu saat yang tepat untuk muncul.
Menjejak Jalan Mawar yang Terlupakan
Jalan Mawar 13 tampak lebih menyeramkan daripada yang kubayangkan. Rumah itu berdiri sendiri, remang-remang, dengan cat dinding yang mengelupas dan jendela tua yang berderit pelan tertiup angin.
Tak ada lampu teras, hanya cahaya samar dari sela tirai kusam di lantai dua. Aku menelan ludah, memastikan alamat di ponsel, lalu mengetuk pintu pelan.
Tak ada jawaban. Aku mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Daun pintu berderit terbuka dengan sendirinya, memperlihatkan lorong gelap dan aroma lembab yang seketika menusuk hidung.
“Permisi, pizza sudah sampai,” seruku, berusaha terdengar percaya diri. Dari dalam, samar-samar terdengar langkah kakipelan, menyeret, lalu berhenti di ambang pintu ruang tamu.
Pertemuan dengan Penghuni Rumah
Seorang wanita tua muncul, mengenakan gaun putih lusuh. Tatapannya kosong, kulitnya pucat hampir transparan. Ia mengulurkan tangan gemetar, mengambil pizza dari tanganku tanpa mengucapkan sepatah kata.
Aku menahan napas, berharap ia segera membayar dan membiarkanku pergi. Namun, ia hanya berdiri, menatapku lekat-lekat seolah menembus jiwaku.
- Matanya seakan menyimpan duka mendalam.
- Suara detik jam di ruang tamu terdengar sangat jelas.
- Rasa dingin merambat dari ujung kaki hingga tengkukku.
Aku memberanikan diri bertanya, “Maaf, Bu, pembayarannya?” Wanita itu tersenyum tipis, lalu berbisik pelan, “Tunggu sebentar.” Ia berjalan perlahan ke dalam rumah, menghilang di balik pintu tua yang mengelupas.
Aku menunggu, namun ia tak kunjung kembali. Suasana makin mencekam, hingga akhirnya aku putuskan masuk selangkah ke dalam, menahan napas, berharap menemukan tanda-tanda kehidupan lain.
Rahasia di Balik Pintu Tua
Di dalam, kulihat foto-foto keluarga tergantung miring di dinding, beberapa tertutup debu tebal. Salah satu foto membuatku tercekatseorang pemuda berseragam pengantar pizza, tersenyum bersama wanita tua yang tadi kutemui.
Di bawahnya tertulis: “Budi, 2010.” Aku mengenali seragam itu, sama persis denganku. Jantungku berdegup kencang. Tiba-tiba, suara pintu belakang berderit, diikuti bisikan pelan yang seolah memanggil namaku.
Kakiku gemetar, namun aku tak bisa bergerak. Sinar kilat sesaat menerangi ruangan, memperjelas sosok wanita tua berdiri di pojok, menatapku dengan senyum lebar yang kini tampak menakutkan.
“Sudah lama aku menunggumu,” bisiknya, suaranya serak seperti berasal dari dalam sumur yang dalam. Tanpa sadar, aku mundur, menabrak meja tua hingga lilin di atasnya jatuh dan padam. Rumah itu kini tenggelam dalam kegelapan total.
Malam yang Tak Pernah Usai
Dalam gelap, aku mendengar langkah kaki mendekat, lalu suara bisikan yang makin jelas di telingaku, “Kau yang berikutnya.” Aku berlari menuju pintu, namun terasa seperti berputar-putar di labirin tanpa ujung.
Setiap pintu yang kubuka, selalu membawaku kembali ke ruang tamu itubersama wanita tua dan senyumnya yang kini berubah menjadi seringai mengerikan.
Malam itu terasa abadi. Di luar, suara sirene samar terdengar, namun tak ada yang datang menolong. Ponselku tak bisa mendapatkan sinyal, dan setiap detik yang berlalu, bayangan di dinding semakin menari liar.
Aku hanya bisa berdoa dalam hati, berharap fajar segera datang dan membawaku keluar dari rumah terkutuk ini.
Namun, hingga kini, aku tak tahu apakah aku benar-benar berhasil keluar malam ituatau aku masih terjebak di dalam, bersama pizza terakhir dan rahasia kelam di Jalan Mawar 13.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0