Kisah Mencekam Menjadi Penjaga Malam Sang Necromancer
VOXBLICK.COM - Langit malam itu pekat, seolah-olah semua cahaya dari bulan pun enggan menembus tebalnya awan di atas kompleks pemakaman tua tempat aku bekerja. Aku baru sebulan menjadi penjaga malam di sini, dan meski awalnya kusangka ini sekadar pekerjaan sederhana, aku mulai menyadari ada sesuatu yang jauh lebih gelap daripada sekadar gelapnya malam.
Setiap malam, aku berkeliling membawa senter, mengitari deretan nisan yang berjajar rapi namun terasa sepi. Tapi ketenangan itu semu.
Ada bisikan pada angin, bayangan yang menari di ujung mataku, dan bau tanah basah yang seolah-olah menguar dari liang kubur yang belum lama ditutup. Aku berusaha menepis rasa takut, menenangkan diri dengan berpikir ini hanya imajinasi. Tapi semua berubah sejak aku mengenal Pak Suryoatasanku, sang kepala penjaga pemakaman.
Pertemuan Pertama dengan Pak Suryo
Pertama kali aku bertemu Pak Suryo, aku langsung merasakan hawa yang berbeda. Tubuhnya kurus, kulitnya pucathampir seperti mayat hidup. Tatapan matanya tajam namun kosong.
Ia selalu datang saat malam sudah sangat larut, menenteng lentera tua, dan berjalan pelan di antara makam, seakan-akan sedang mencari sesuatu. Sering kali aku melihatnya berbicara sendiri di tengah gelap, seolah sedang mengobrol dengan penghuni makam yang tak kasat mata.
Pernah, suatu malam, aku mengintip dari balik dinding pos jaga. Kulihat Pak Suryo berdiri di depan nisan tua, mulutnya komat-kamit. Angin berhembus kencang, dan tiba-tiba tanah di depan nisan itu bergetar pelan.
Aku membeku ketakutan, yakin bahwa ada sesuatu yang sangat tidak wajar sedang terjadi. Aku baru sadar, pekerjaan ini lebih dari sekadar berjagaaku telah masuk ke dunia yang dipenuhi misteri dan kegelapan.
Suara-Suara dari Dalam Kubur
Malam berikutnya, ketakutanku semakin menjadi. Aku mulai mendengar suara-suara aneh dari balik liang kubur:
- Rintihan pelan yang menggema di antara nisan.
- Suara langkah kaki menyeret, padahal jelas tak ada siapa pun di sana.
- Bisikan nyaring yang menyebut-nyebut namaku, membuat bulu kudukku meremang.
Pernah sekali, saat aku memeriksa area barat, aku mendapati gundukan tanah yang bergerak sendiri. Ketika kudekati, aroma busuk menusuk hidungku, dan dari dalam tanah itu, terdengar suara tercekik memanggil, “Tolong…”.
Aku lari terbirit-birit kembali ke pos jaga, berusaha melupakan apa yang kulihat. Namun malam-malam berikutnya, suara itu selalu kembali, semakin jelas dan semakin memohon.
Rahasia Sang Necromancer Terbongkar
Rasa penasaran mengalahkan rasa takutku. Suatu malam, aku membuntuti Pak Suryo diam-diam. Ia berhenti di tengah kompleks makam, di bawah pohon beringin tua yang besar.
Ia menggali tanah dengan tangan kosong, menggumamkan mantra dalam bahasa yang tak kupahami. Dari dalam lubang, perlahan-lahan muncul tangan pucatmayat itu bangkit, matanya kosong, mulutnya menganga.
Pak Suryo tersenyumsenyuman yang tak akan pernah kulupakan. Ia menoleh ke arahku. “Kau sudah tahu rahasia kami, Nak,” bisiknya. Tubuhku membeku, tenggorokanku tercekat. Mayat-mayat di sekitarnya mulai bergerak, berdiri perlahan, mengelilingiku.
Aku ingin berteriak, tapi suara seolah hilang dari tenggorokan.
Malam yang Tak Pernah Usai
Sejak malam itu, aku tak pernah lagi bisa keluar dari kompleks pemakaman. Tiap malam, aku mendengar suara langkah kaki yang menyeret, suara rintihan dan bisikan di setiap sudut.
Pak Suryo selalu tersenyum padaku, seolah-olah menertawakan ketidakberdayaanku. Aku sadar, aku bukan lagi penjaga malamaku adalah bagian dari kisah mencekam ini, bagian dari ritual sang necromancer.
Hingga malam ini, aku menulis kisah ini di balik tembok pos jaga, dengan tangan gemetar. Jika kau membaca tulisanku dan mendengar bisikan namaku di antara rintik hujan malam, jangan pernah melangkah masuk ke pemakaman ini.
Sebab, mungkin saja aku atau Pak Suryo yang akan menyapamu dari balik bayangan nisan…
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0