Malam Mencekam di Kabin Hutan dan Tamu Tak Diundang
VOXBLICK.COM - Hujan turun deras malam itu, mengetuk atap kabin tua yang kami sewa di tengah hutan pegunungan. Aku, Raka, bersama tiga sahabatkuDina, Juno, dan Firaberniat melepas penat dari hiruk-pikuk kota. Awalnya, suasana terasa hangat. Api di perapian menyala lembut, denting gelas kopi saling bersahut, dan tawa kecil mengisi ruang sempit beraroma kayu pinus basah.
Namun, semua berubah seketika listrik padam. Lampu gantung yang sebelumnya bernyala temaram mendadak mati, meninggalkan kami dalam kegelapan pekat, hanya diterangi pendar api yang bergetar di perapian.
Di luar jendela, angin meniupkan ranting-ranting hingga menggaruk-garuk dinding, seolah ada sesuatu yang mencoba masuk. Kami saling pandang, meresapi kegelisahan yang perlahan merayap di antara canda yang mulai memudar.
Ketukan di Tengah Malam
Pukul dua dini hari, suara ketukan terdengar di pintu kayu kabin. Satu, dua, tiga kalipelan, lalu makin keras. Jantungku berdetak cepat.
Siapa yang datang di malam sepahit ini, di tengah hutan tanpa tetangga sejauh berkilometer? Juno menggenggam bahu Fira yang mulai menangis pelan. Dina mencoba menenangkan, meski wajahnya sendiri pucat pasi.
“Siapa… siapa di luar?” seruku dengan suara bergetar. Tak ada jawaban. Hanya ketukan, kini berpindah ke jendela di samping. Kami saling berpelukan, tak berani bergerak. Di luar, samar-samar kulihat siluet seseorang berdiri diam.
Tubuhnya tinggi, kepalanya menunduk, dan tangan panjangnya mengetuk kaca. Rasa takut menyelubungi ruangan, menekan napas kami hingga terasa sesak.
Tak Ada Jalan Keluar
Keputusan bulat kami: jangan buka pintu apa pun yang terjadi. Namun, ketika kutarik ponselku, layar hanya menunjukkan “No Signal”. Radio genggam yang kami bawa pun hanya menyisakan suara statis. Kami benar-benar terisolasi.
Raka berbisik, “Ada sesuatu yang aneh. Tadi aku bisa lihat lampu dari kabin penjaga, sekarang gelap total.”
- Tak ada sinyal telepon, tak bisa minta bantuan.
- Jendela dan pintu terkunci, tapi sosok di luar tetap mengetukbergantian dari satu sisi ke sisi lain.
- Hanya suara detak jam tua dan napas kami yang terdengar di dalam kabin.
Beberapa kali, ketukan berhenti. Namun, suara langkah berat di atas loteng menggantikan. “Mungkin itu hanya tupai…” Dina mencoba menenangkan. Tapi siapa yang bisa percaya, jika langkah itu terlalu berat, seperti sepatu bot menghantam papan kayu tua?
Undangan yang Tidak Pernah Diberikan
Saat kami melingkar di depan perapian, tiba-tiba pintu belakang terbuka sendiri, berderit pelan. Angin dingin menerobos masuk, membawa aroma tanah basah danentah kenapabau besi karat yang menusuk hidung. Kami membeku.
Di tengah kegelapan, suara seseorang berbisik dari luar, “Boleh aku masuk...?”
Tak ada yang menjawab. Tapi perlahan, langkah itu mendekat. Satu per satu, napas kami tercekat. Aku memejamkan mata, berharap semua ini hanya mimpi buruk.
Namun, bau aneh itu makin kuat, dan suara langkahyang kini terdengar lebih dari satuberputar mengelilingi kabin.
Malam Tak Pernah Usai
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Kami menunggu pagi, tapi kegelapan tak kunjung surut. Di luar, hujan deras masih mengguyur. Suara ketukan dan langkah-langkah itu terus bergema, seperti ritual tak berujung.
Satu hal yang pasti, malam di kabin hutan ini telah berubah menjadi mimpi buruk yang tak berkesudahan.
Dan di saat kami pikir sudah cukup kuat bertahan, tiba-tiba suara Fira menghilang. Ia duduk di pojok, matanya menatap kosong ke arah pintu yang entah sejak kapan kembali terbuka.
Di ambang pintu, siluet tinggi itu berdiri, kali ini dengan senyuman samar di wajahnya. Aku menahan napas, dan dunia seolah berhenti. Kami baru sadar, tidak ada seorang pun di antara kami yang benar-benar tahu siapa yang mengunci pintu dari dalam tadi malam.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0