Malam Mencekam di Penn Hills Pocono Mountains

Oleh VOXBLICK

Kamis, 15 Januari 2026 - 23.00 WIB
Malam Mencekam di Penn Hills Pocono Mountains
Kisah horor Penn Hills Pocono (Foto oleh Osman Arabacı)

VOXBLICK.COM - Angin malam itu terasa lebih dingin dari biasanya, menelusup masuk ke balik jaketku yang tipis. Aku berdiri mematung di depan gerbang tua berkarat bertuliskan "Penn Hills Resort" di kaki Pocono Mountains, Pennsylvania. Udara terasa berat, seolah-olah hutan di sekelilingku menahan napas, menunggu sesuatu untuk terjadi. Teman-temanku, Nina dan Josh, sudah lebih dulu menembus pagar rusak itu, menantangku untuk ikut masuk. Lampu senter mereka berkedip-kedip, menari di antara bayangan reruntuhan yang sudah lama ditelan waktu.

Jejak Langkah di Antara Reruntuhan

Aku akhirnya memutuskan menyusul mereka, menginjakkan kaki di jalan setapak yang dipenuhi dedaunan lembap dan pecahan kaca. Setiap langkah terasa seperti mengusik sesuatu yang seharusnya tetap tidur.

Penn Hillstempat yang dulu ramai oleh tawa para pasangan bulan madu, kini hanya menyisakan bangunan kosong dengan jendela menganga seperti mulut yang siap menelan siapa saja. Angin berdesir membawa suara samar-samar, entah dari pepohonan atau dari sesuatu yang lain.

Malam Mencekam di Penn Hills Pocono Mountains
Malam Mencekam di Penn Hills Pocono Mountains (Foto oleh Hao Chen)

Nina menggandeng lenganku. "Kau dengar itu?" bisiknya. Aku menajamkan telinga. Suara derak kayu, bunyi langkah kaki entah dari siapa. Josh mengangkat senter, menyorot ke arah ballroom tua yang pintunya terbuka sedikit.

Di balik celah, sejenak aku melihat bayangan bergerak cepat. Jantungku berdetak lebih kencang. "Mungkin itu tikus," gumamku, padahal aku sendiri tidak percaya.

Bayangan di Balik Jendela

Kami melanjutkan langkah, menelusuri lorong gelap penuh coretan dan cermin pecah. Aroma jamur dan debu memenuhi hidung. Di dinding, foto-foto lama pasangan tersenyum masih tergantung miring, matanya seakan mengawasi setiap gerak kami.

Tiba-tiba, suara tawa kecil terdengar dari lantai atasterdengar jelas, tapi tidak ada siapa pun di sana.

  • Nina memegang erat tanganku, matanya membelalak.
  • Josh menahan napas, mencoba menenangkan diri, namun tangannya gemetar.
  • Aku mencoba mengabaikan suara itu, tapi bulu kudukku berdiri.

"Ayo naik, kita lihat," bisik Josh, meski suaranya bergetar. Kami menuruti, menaiki tangga kayu yang berderit parah. Setiap anak tangga seperti mengeluh di bawah langkah kami. Di ujung lorong lantai dua, ada sebuah pintu kamar terbuka lebar.

Di dalamnya gelap, tapi di tengah ruangan, aku melihat sosok perempuan berdiri membelakangi kami, rambutnya terurai menutupi wajah. Gaunnya lusuh, kakinya telanjang, dan ia berdiri diam, nyaris tak bernapas.

Panggilan dari Kegelapan

"Permisi..." suara Nina nyaris tak terdengar. Sosok itu tiba-tiba bergerak pelan, memutar tubuhnya. Tapi sebelum wajahnya terlihat jelas, lampu senter Josh mati seketika. Ruangan langsung gelap gulita.

Aku panik, mencari-cari saklar, tapi tak menemukan apa-apa. Dari dalam kegelapan, terdengar bisikan pelan, suara perempuan, "Jangan pergi..."

Josh menjerit, lampu senternya kembali menyala. Tapi ruangan itu sudah kosong. Tak ada siapa-siapa, kecuali bayangan kami sendiri di cermin retak. Di lantai, tertulis dengan darah: “Selalu ada yang menunggu di Penn Hills saat malam mencekam.”

Kami berlari menuruni tangga, napas memburu, tak peduli lagi dengan suara kaca pecah yang kami injak. Di luar, angin malam semakin kencang, membawa suara tawa yang kini terdengar di sekeliling kami.

Saat kami melintasi gerbang keluar, aku menoleh sekali lagi ke arah ballroom. Di balik jendela yang pecah, sosok perempuan itu berdiri, menatapku lekat-lekat, tersenyum samar seolah berkata, “Kau akan kembali.”

Sejak malam itu, tak ada satu pun dari kami yang berani menyebut nama Penn Hills, apalagi mendekati kawasan Pocono Mountains setelah matahari terbenam.

Tapi kadang, di malam-malam tertentu, aku masih bisa mendengar bisikan dari arah pegunungan, memanggil namakumeminta aku kembali. Dan entah kenapa, aku merasa suatu saat aku memang harus kembali ke sana…

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0