Malam Mencekam di SMA Upstate New York yang Tak Pernah Tidur

Oleh VOXBLICK

Jumat, 19 Desember 2025 - 04.30 WIB
Malam Mencekam di SMA Upstate New York yang Tak Pernah Tidur
Sekolah mencekam di malam hari (Foto oleh CHEN)

VOXBLICK.COM - Angin malam di Upstate New York selalu membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Namun, malam itu terasa berbeda. Aku, seorang guru sejarah di SMA yang terletak di pinggiran kota kecil, sama sekali tidak menduga bahwa malam-malamku akan berubah menjadi parade teror yang seolah tak pernah berakhir. Sekolah itu selama ini dikenal sebagai tempat yang “tak pernah tidur”begitu kata siswa-siswi yang suka bercanda soal lampu aula yang selalu menyala, bahkan setelah tengah malam.

Pertama kali aku menyadari keanehan itu terjadi di minggu kedua bulan November. Aku sedang lembur, menyiapkan ujian akhir semester di ruang guru.

Jam sudah menunjukkan pukul 23.15, dan satu-satunya suara yang kudengar hanyalah hembusan AC tua yang merengek. Tiba-tiba, lampu mulai berkedip, lalu padam selama beberapa detik. Dalam gelap, aku mendengar suara derit kursi dari ruang kelas di lantai dua. Padahal, aku yakin tidak ada siapa pun di sana. Aku menahan napas, berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya angin.

Malam Mencekam di SMA Upstate New York yang Tak Pernah Tidur
Malam Mencekam di SMA Upstate New York yang Tak Pernah Tidur (Foto oleh Caleb Oquendo)

Suara-Suara Tanpa Sumber

Setelah beberapa menit dalam kebisuan, aku memberanikan diri untuk naik ke lantai dua. Setiap langkah yang kuambil terasa berat, seolah-olah lantai kayu tua itu menahan keengganan untuk mengantarku menuju sumber ketakutan.

Ketika aku tiba di depan ruang kelas 2B, aku melihat pintunya sedikit terbuka. Ada suara tawa lirih, seperti bisikan anak-anak yang bermain petak umpet. Jantungku berdebar tak karuan. Kubuka pintu perlahan dan mendapati ruang kelas itu kosong, kecuali papan tulis yang tiba-tiba penuh coretan: “Jangan pergi, Mr. Evans.” Aku menelan ludah. Aku sendiri tak pernah menulis kalimat itu, dan setahuku, tidak ada siswa yang tahu kode sandi yang biasa kupakai di papan tulis.

  • Lampu aula yang selalu menyala tanpa sebab jelas.
  • Suara kursi yang diseret padahal ruangan kosong.
  • Coretan aneh di papan tulis yang muncul setiap malam.
  • Bisikan samar-samar di lorong sekolah.

Bayangan di Lorong Panjang

Malam-malam berikutnya, kejadian serupa terus berulang. Setiap aku lembur, selalu saja ada suara-suara aneh, bisikan yang terlalu jelas untuk disebut ilusi, dan bayangan yang bergerak cepat di ujung lorong.

Aku pernah melihat sesosok anak perempuan berdiri di depan ruang laboratorium. Rambutnya panjang menutupi wajah, seragam putihnya lusuh. Ketika aku memanggilnya, dia membalikkan badan lalu menghilang begitu saja, seperti asap yang tertiup angin. Aku sempat bertanya pada penjaga sekolah, namun ia hanya menggeleng dengan ekspresi kosong, seolah takut untuk berbicara lebih jauh.

Sekolah itu memang punya banyak cerita. Ada yang bilang gedung tua itu pernah menjadi rumah sakit jiwa sebelum diubah menjadi SMA.

Tapi aku tak pernah percaya sebelum mengalami sendiri bagaimana lorong-lorong itu seolah hidup, mengintai, dan menunggu kesempatan untuk menerkam mereka yang berani bertahan hingga larut malam.

Teror di Ruang Guru

Puncaknya terjadi pada malam Jumat, ketika aku menemukan semua meja di ruang guru berpindah posisi membentuk lingkaran. Di tengah-tengah lingkaran, ada sebuah boneka kain usang dengan kertas bertuliskan namaku.

Lampu padam tiba-tiba, dan aku mendengar suara pintu terkunci dari luar. Ketika aku coba menelepon, sinyal ponsel menghilang total. Dalam kegelapan, suara tawa anak-anak itu semakin jelas, diselingi bisikan: “Jangan pergi, jangan tidur.” Aku berusaha membuka jendela, tetapi semuanya terkunci rapat. Waktu seakan berjalan lambat, dan aku hanya bisa menunggu hingga fajar menyingkirkan kegelapan itu.

Setiap malam setelahnya, aku selalu merasa diawasi. Sering kali aku menemukan barang-barang pribadiku berpindah tempat, atau pesan-pesan aneh di buku catatan.

Teman-teman sesama guru mulai mengeluh tentang mimpi buruk yang sama: lorong sekolah yang tak berujung, suara tangis di ruang kelas kosong, dan bayangan hitam yang mengintai dari balik pintu. Tidak ada yang berani membicarakannya secara terbuka, seolah-olah mengucapkannya saja sudah cukup untuk memancing teror itu datang.

Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

Sekolah ini benar-benar tak pernah tidur. Setiap suara kecil di malam hari, setiap bayangan yang melintas, dan setiap bisikan yang kudengar, seolah mengingatkanku bahwa ada sesuatu yang tidak ingin dilupakan di sini.

Aku masih mengajar, masih bertahan, meski tiap malam harus berjuang melawan ketakutan yang semakin nyata. Ada kalanya aku berpikir untuk pergi, tapi entah mengapa, kaki ini selalu kembali melangkah ke lorong-lorong gelap itu.

Malam ini, ketika aku menulis catatan ini, suara tawa anak-anak kembali terdengar dari lantai atas. Pintu ruang kelas berderit pelan, dan aku melihat bayangan seseorang berdiri di ujung lorong, menatap lurus ke arahku.

Lampu mulai berkedip, dan hawa dingin semakin menusuk. Aku ingin beranjak, tapi langkahku terasa berat. Di papan tulis, coretan baru muncul: “Kini giliranmu.”

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0