Misteri Malam Menghitung Domba yang Tak Pernah Berakhir

Oleh VOXBLICK

Jumat, 16 Januari 2026 - 02.30 WIB
Misteri Malam Menghitung Domba yang Tak Pernah Berakhir
Misteri menghitung domba (Foto oleh Ángel Rubio)

VOXBLICK.COM - Malam itu, sunyi merambati dinding kamar seperti selimut tipis yang dingin. Aku menatap kosong ke langit-langit, mencoba memejamkan mata, mencari celah di antara gelap dan sepi agar tidur datang menjemput. Tapi, sama seperti malam-malam sebelumnya, aku gagal. Saran klasik menghitung domba melintas di benakku. Dengan enggan, aku menuruti: satu domba melompat di padang rumput imajiner, dua domba, tiga, empat… Namun, semakin aku menghitung, semakin aneh rasanya. Ada sesuatu yang berubah.

Awal Malam yang Tak Wajar

Pada lompatan ke-25, aku merasa ruangan mengerut. Dinding seolah beringsut mendekat, cahaya lampu tidur meredup, dan suara napasku sendiri terdengar seperti gema dalam gua kosong. Aku menahan napas, merasakan bulu kudukku meremang.

Tapi aku tetap menghitung, seolah-olah ada kekuatan tak kasat mata yang memaksaku untuk terus melanjutkan. Domba ke-40, ke-41… lalu tiba-tibadi tengah antah-berantah pikiranaku mendengar suara bulu-bulu halus menggesek lantai kayu tepat di bawah tempat tidurku.

Misteri Malam Menghitung Domba yang Tak Pernah Berakhir
Misteri Malam Menghitung Domba yang Tak Pernah Berakhir (Foto oleh cottonbro studio)

Domba-domba yang Tak Pernah Usai

Ketika mataku terpejam, aku mulai melihat mereka lebih jelas. Bukan domba putih lucu seperti di buku cerita, tapi siluet gelap dengan mata kosong menatap balik ke arahku.

Mereka melompat dalam diam, bulunya basah dan berlumuran lumpur, bau anyir memenuhi hidungku. Aku ingin berhenti menghitung, namun angka-angka itu mengalir begitu saja dari bibirku, seperti mantra tanpa akhir.

  • Pada domba ke-66, salah satu dari mereka berhenti di tengah lompatan, menoleh ke arahku dan tersenyum. Senyuman yang tak seharusnya ada di wajah seekor domba.
  • Pada domba ke-78, suara gemeretak pelan terdengar dari sudut kamar. Rasanya seperti kuku-kuku kecil menggores lantai, mencari jalan keluar atau… masuk?
  • Pada domba ke-100, aku sudah tak bisa merasakan tubuhku. Semua yang tersisa hanya hitungan, dan kehadiran mereka yang merayap makin dekat.

Setiap aku mencoba membuka mata dan keluar dari lingkaran hitungan, suara di telingaku berbisik, “Jangan berhenti. Jangan pernah berhenti.”

Dialog di Antara Bayangan

Pada suatu malam, aku mendengar suara lirih, seperti seorang anak kecil menangis di balik dinding. “Kamu juga terjebak?” bisiknya.

Aku tak menjawab, hanya bisa menghitung dan menghitung, sementara suara itu semakin dekat, merayap di antara sela-sela angka yang kian tak masuk akal. Lalu, dari sudut gelap kamar, dua mata merah menyala muncul, diikuti suara berat yang tak mungkin berasal dari makhluk hidup: “Kau belum menghitunku.”

Hatiku bergetar. Setiap malam, aku sadar ada satu domba yang selalu tertinggal, berdiri di belakang kawanan, menatapku dengan tatapan lapar. Apakah jika aku menghitungnya juga, semua ini akan berakhir… atau justru baru dimulai?

Malam yang Tak Pernah Benar-benar Usai

Semakin lama, aku kehilangan batas antara nyata dan ilusi. Setiap malam, domba-domba itu datang, menghitung bersamaku, menggerogoti waktu dan kewarasan. Dinding kamarku kini dipenuhi bayang-bayang mereka, menari di antara cahaya dan gelap.

Kadang, aku mendengar suara napas mereka yang berat, kadang suara bisikan mereka di telinga, “Teruskan, teruskan. Sampai pagi tak pernah datang.”

  • Jika aku berhenti, mereka mendekat, menempelkan moncong dingin ke wajahku.
  • Jika aku terus menghitung, mereka bertambah banyak… dan semakin nyata.
  • Jika aku berani menoleh, mungkin aku akan melihat siapa yang sebenarnya menghitung siapa.

Dan malam ini, saat aku menulis kisah ini, kudengar suara langkah-langkah kecil di lorong kamarku. Satu demi satu, mereka datangdan aku tahu, malam ini, aku tidak akan pernah selesai menghitung.

Tepat sebelum aku memejamkan mata lagi, aku menyadari: domba ke-999 itu berdiri di sudut kamar, menunggu gilirannya. Ia tersenyum, dan untuk pertama kalinya, aku dengar suaranya“Sekarang giliranmu untuk melompat…”

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0