Misteri Mengerikan Bangkai di Jalan Raya 33 yang Tak Wajar
VOXBLICK.COM - Angin malam itu terasa lebih tajam dari biasanya. Jarum jam di dasbor mobil tuaku menunjukkan pukul 00.53 saat aku melintasi Jalan Raya 33, jalanan sepi yang seakan ditelan pekatnya hutan di kanan kiri. Lampu depan menembus kabut tipis, tapi yang kurasakan bukan hanya udara dingin yang membelai kulit, melainkan kegelisahan samar yang merambat di sepanjang tulang punggungku. Aku pulang terlambat setelah lembur di kota sebelah, dan jalur ini selalu jadi rute pintas andalanku. Tapi entah kenapa, malam itu semuanya terasa… keliru.
Ketika ban melindas aspal kasar, aku memperlambat laju kendaraan. Ada sesuatu yang menghalangi jalur, tampak samar di tengah sorot lampu. Perlahan, aku menginjak rem. Di sana, tepat di tengah jalan yang lengang, tergolek sesosok bangkai.
Dari kejauhan, aku kira itu hanya seekor hewan liarmungkin sisa tabrakan truk pengangkut hasil ladang. Namun, semakin aku mendekat, bentuknya justru semakin aneh. Tubuhnya memanjang, bulunya acak-acakan, dan… ada sesuatu yang tak wajar pada cara ia tergeletak, seolah bukan hanya mati, tapi juga sengaja dibuang dan dibiarkan membusuk di sana.
Bayang-Bayang di Bawah Lampu Jalan
Kutatap sekeliling dengan gelisah. Jalan Raya 33, yang biasanya sunyi namun terasa aman, kini berubah jadi labirin ketakutan. Aku menurunkan kaca jendela sedikitbau anyir menusuk hidung, bercampur dengan aroma tanah basah.
Aku memutuskan keluar untuk memastikanbarangkali aku bisa menyingkirkan bangkai itu agar tak membahayakan pengendara lain.
Langkah kakiku berat. Setiap derit dedaunan yang terinjak, setiap desiran angin, seolah mengintai dari balik kegelapan. Saat aku menyorotkan senter ponsel ke arah bangkai, bulu kudukku meremang.
Bukan hanya bentuk yang aneh matanya terbuka, bening, menatap kosong ke langit. Rahangnya setengah ternganga, seolah ingin menjerit namun terputus di tengah napas terakhir.
Bisikan yang Tak Masuk Akal
Aku mencoba mengalihkan pandangan, tapi sesuatu menahan langkahku. Tiba-tiba, dari arah semak-semak di pinggir jalan, terdengar suara gemerisik. Aku terpaku. Suara itu, diikuti bisikan lirih yang seolah-olah berasal dari dalam kepala.
Kata-kata yang tak kupahami, namun menimbulkan rasa takut yang tak terdefinisi.
- Apakah itu hanya angin?
- Mungkinkah seseorang mengawasi dari balik bayang?
- Atau... ada sesuatu yang menunggu?
Peluh dingin menetes di pelipisku. Aku menoleh ke kiri, ke kanan, berharap ini hanyalah imajinasi yang dipermainkan gelap.
Namun, mataku tertumbuk pada sesuatu yang lebih mengerikanbekas cakaran memanjang di aspal, seolah bangkai itu diseret dari hutan dan dilempar begitu saja. Tidak ada jejak ban, hanya garis-garis dalam yang berakhir tepat di bawah tubuh tak bernyawa itu.
Malam yang Tak Pernah Sama
Dengan tangan gemetar, aku mundur perlahan. Namun, sebelum sempat berbalik, terdengar suara berderak dari balik pepohonan. Sepasang mata merah menyala menatapku dari kegelapan, seolah menantang untuk mendekat. Aku membeku, tak mampu bergerak.
Bangkai di depanku tiba-tiba bergeming, rahangnya mengatup perlahan. Suara lirihsetengah erangan, setengah tawamengisi udara, membuat jantungku nyaris melompat keluar dari dada.
“Pergi…” bisiknya, atau mungkin hanya suara angin yang berusaha memperingatkan. Tapi aku tahu, malam itu, di Jalan Raya 33, ada sesuatu yang telah menandai keberadaanku.
Jejak yang Tak Pernah Hilang
Aku akhirnya berhasil melangkah mundur, masuk ke dalam mobil, dan melajukan kendaraan secepat mungkin. Namun, sepanjang perjalanan pulang, aku merasa diperhatikan.
Setiap kali melihat kaca spion, aku yakin bisa melihat sekelebat bayangan menempel di ujung jalan. Sejak malam itu, suara bisikan dan tatapan kosong dari bangkai di Jalan Raya 33 terus menghantui tidurku. Bahkan kini, ketika menulis ini, aku merasa aroma anyir itu kembali memenuhi kamar. Apa yang sebenarnya kulihat malam itu? Atau... apa yang kini sedang memperhatikanku dari sudut gelap ruangan ini?
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0