Misteri Nenek Tua di Hutan yang Tak Pernah Pulang

Oleh VOXBLICK

Minggu, 30 November 2025 - 03.50 WIB
Misteri Nenek Tua di Hutan yang Tak Pernah Pulang
Nenek tua misterius di hutan (Foto oleh Paul Kerby Genil)

VOXBLICK.COM - Malam itu, kabut turun lebih tebal dari biasanya. Aku dan dua temanku, Raka dan Intan, nekat menyusuri hutan tua di pinggiran desa. Lampu senter menari-nari di antara batang pohon yang menjulang, bayang-bayangnya membuat bulu kuduk kami berdiri. Katanya, ada sesuatu yang tinggal di dalam sanasesuatu yang tak pernah benar-benar pergi. Tapi siapa yang akan percaya cerita seperti itu, selain kami yang terlalu penasaran?

Langkah kaki kami terhenti saat mendengar suara ranting patah di antara semak. Jantungku berdegup lebih cepat. Udara malam membawa aroma tanah lembab dan sesuatu yang asingseperti bau kayu lapuk bercampur dupa.

Raka mencoba bercanda, tapi suaranya bergetar. “Paling cuma musang… atau mungkin nenek-nenek yang suka cari kayu bakar di sini,” katanya, mencoba menertawakan rasa takut yang perlahan menyusup.

Misteri Nenek Tua di Hutan yang Tak Pernah Pulang
Misteri Nenek Tua di Hutan yang Tak Pernah Pulang (Foto oleh KoolShooters)

Suara di Antara Pepohonan

Kami berjalan lebih dalam, melewati pohon besar yang akarnya mencuat di permukaan tanah seperti tangan-tangan tua. Lalu, dari balik gelap, terdengar suara lirihgemetar, nyaris seperti bisikan. “Tolong… tolong aku…”

Intan menggenggam tanganku erat. Raka menyorotkan senter ke arah suara, cahayanya menabrak sosok kecil membungkuk di bawah pohon beringin. Seorang nenek tua, rambutnya kusut memutih, kulitnya keriput seperti daun kering.

Bajunya kumal, lusuh dan tampak terlalu besar di tubuhnya yang kurus.

Ia menoleh perlahan, matanya kosong menatap ke arah kami. “Kalian… bisa bantu nenek pulang?” Suaranya serak, seperti butiran pasir yang digerus waktu.

Jejak yang Tak Pernah Kembali

Rasa iba bercampur takut. Kami mendekat, tapi setiap langkah terasa berat, seolah seluruh hutan menahan nafasnya. “Rumah nenek di mana?” tanya Raka, suara pelan.

Nenek itu menunjuk ke arah yang lebih gelap, ke jalur sempit yang tak pernah kami lewati sebelumnya.

  • Udara semakin dingin, seolah embusan angin membawa bisikan-bisikan aneh.
  • Setiap kali menoleh, aku merasa ada yang mengawasi kami dari kejauhan.
  • Langkah kaki nenek menyeret, namun ia selalu beberapa langkah di depan.

Semakin dalam kami mengikuti, suasana hutan berubah. Pepohonan terasa lebih rapat, suara burung malam menghilang, digantikan oleh keheningan menakutkan.

Intan mulai menangis pelan, tapi nenek itu terus berjalan, menoleh sesekali dengan tatapan kosong.

Pertemuan di Batas Cahaya

Setelah entah berapa lama, kami tiba di sebuah gubuk reyot, nyaris tersembunyi di balik semak belukar. Pintu kayunya terbuka sedikit, menganga seperti mulut yang mengundang. Nenek itu berhenti di depan pintu, lalu menoleh pada kami.

Senyumnya merekah, tapi matanya tetap kosong.

“Terima kasih sudah mengantarkan nenek pulang,” katanya pelan. Lalu, tanpa suara, ia masuk ke dalam kegelapan gubuk. Kami saling berpandangan, tidak ada yang berani melangkah lebih jauh. Raka menarik lenganku. “Ayo, kita pergi dari sini.”

Saat kami menoleh untuk pergi, terdengar suara pintu kayu berderit. Aku menengok ke belakanggubuk itu kosong.

Tidak ada nenek, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya, kecuali satu hal: di ambang pintu, tergantung kain lusuh yang sepertinya baru saja dipakai seseorang. Pintunya pun perlahan tertutup sendiri, menelan semua keheningan malam.

Tanda Tanya yang Tak Pernah Terjawab

Tak ada yang bicara sepanjang perjalanan pulang. Setiap langkah terasa berat, setiap kerikil seolah menahan kaki kami. Di jalan keluar hutan, kami berpapasan dengan seorang kakek tua yang membawa obor.

Ia menatap kami dengan heran, lalu bertanya, “Kalian lihat nenek tua pakai baju lusuh? Sudah tiga tahun dia hilang di hutan ini, tak pernah pulang…”

Sejak malam itu, tak ada dari kami yang berani bicara tentang pertemuan itu. Tapi kadang, di malam-malam tertentu, aku masih terjaga, mendengar suara serak memanggil dari balik jendela. “Tolong… tolong aku pulang…”

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0