Misteri Pria di Ujung Jalan Setapak yang Membekukan Nafas

Oleh VOXBLICK

Minggu, 09 November 2025 - 02.10 WIB
Misteri Pria di Ujung Jalan Setapak yang Membekukan Nafas
Pria misterius di jalan setapak (Foto oleh Vincent Santamaria)

VOXBLICK.COM - Malam itu, sunyi menggantung di udara seperti kabut tipis yang menelan seluruh kampung. Jalan setapak di belakang rumahku hanya diterangi redup lampu jalan yang seolah enggan memecah kegelapan. Aku masih ingat jelas, deru napasku sendiri terdengar begitu keras saat berjalan pulang melewati jalan itusendirian, dengan ponsel yang kehilangan sinyal dan langkah kaki yang berat oleh rasa was-was. Di ujung jalan setapak, samar-samar terlihat sesosok pria berdiri diam, membelakangi cahaya. Aku tak pernah mengira, hanya karena ingin memotong jalan, aku akan menyaksikan sesuatu yang tak pernah bisa kulupakan.

Langkah-langkah Sunyi di Malam Gelap

Udara malam semakin menusuk. Aku mempercepat langkah, berusaha menepis kegelisahan yang merayap. Sambil membungkus tubuh dengan jaket, aku memandang ke depanke arah pria itu.

Tubuhnya kurus, tinggi, mengenakan jaket panjang hitam yang ujungnya hampir menyapu tanah. Ia berdiri kaku, seolah menungguku mendekat. Aku menahan napas setiap detik terasa merangkak begitu lambat.

Misteri Pria di Ujung Jalan Setapak yang Membekukan Nafas
Misteri Pria di Ujung Jalan Setapak yang Membekukan Nafas (Foto oleh Anton Atanasov)

Setiap kali aku melangkah, suara kerikil yang tergilas terasa memekakkan telinga. Aku membatin, mungkin dia hanya warga sekitar yang hendak pulang. Namun, ada yang anehtak ada suara napas, tak ada gerakan.

Pria itu berdiri membeku, seolah menjadi bagian dari bayangan gelap yang menelannya. Aku berhenti beberapa meter darinya, mencoba menenangkan diri. Tapi seketika, ia memutar kepalanya perlahan. Mata hitam pekat tanpa cahaya menatap lurus ke arahku.

Suara yang Membekukan Nafas

Dalam hening, suara beratnya terdengar jelas, “Kamu tahu jalan pulang?” Aku terpaku. Suara itu pelan, nyaris seperti bisikan yang tertiup angin, namun setiap katanya menusuk hingga ke tulang.

Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, hanya siluet rahang tajam dan bibir tipis yang nyaris tak bergerak. Rasanya seolah seluruh tubuhku dibekukan oleh tatapan itu.

Beberapa detik berlalu. Jantungku berdegup liar, ingin berlari tapi kaki rasanya menancap ke tanah. Pria itu melangkah satu kali ke depan. Aku mundur spontan, hampir terjatuh.

Bayang-bayangnya semakin panjang, menelan cahaya kecil dari lampu jalan yang tersisa. “Jangan pernah berjalan sendirian di sini,” katanya lagi, kali ini suaranya seperti gema di dalam kepalaku.

Daftar Tanda-Tanda yang Tak Bisa Dilupakan

  • Siluet hitam yang berdiri diam di ujung jalan setapak, tak pernah bergerak kecuali saat kau menatapnya.
  • Mata gelap yang tak memantulkan cahaya, seolah menelan seluruh harapan.
  • Suara berat yang menggema di kepala, bukan di telinga.
  • Bau tanah basah bercampur dingin, seperti aroma liang kubur yang baru digali.

Bayangan yang Tak Pernah Pergi

Aku berbalik, berusaha berlari sekuat tenaga menjauh dari pria misterius itu. Namun, suara langkah kaki berat mengikutiku dari belakang, setiap detik semakin dekat. Aku tak berani menoleh.

Jalan setapak yang biasanya hanya sepanjang puluhan meter terasa tak berujung. Jantungku hampir meledak, paru-paruku terasa terbakar.

Sampai akhirnya, aku tiba di depan pintu rumah, mengunci diri di dalam dan menempelkan telinga ke daun pintu. Sunyi. Tak ada suara, tak ada bayangan.

Tapi saat aku menoleh ke jendela, di balik tirai tipis, samar-samar aku melihat siluet pria itu berdiri di ujung jalan setapak, persis di tempat aku bertemu dengannya. Ia masih menatap ke arahku, diammenunggu.

Sejak malam itu, aku tidak pernah lagi berani berjalan sendirian melewati jalan setapak itu. Namun, kadang, saat malam terlalu sunyi dan angin berembus pelan, aku masih bisa mendengar bisikan berat itu di telingaku: “Kamu tahu jalan pulang?”

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0