Permainan Tengah Malam Berujung Teror Misterius di Rumah Tua

Oleh VOXBLICK

Senin, 22 Desember 2025 - 04.40 WIB
Permainan Tengah Malam Berujung Teror Misterius di Rumah Tua
Permainan Tengah Malam Berujung Teror (Foto oleh Mike Ralph)

VOXBLICK.COM - Malam itu, suara jangkrik bersahut-sahutan di halaman belakang rumah tua di ujung jalan. Aku, Dito, bersama tiga temankuRama, Naya, dan Sariberdiri mematung di depan pintu kayu yang catnya sudah mengelupas. Kami semua tahu rumor tentang rumah ini, tapi malam itu keberanian kami mendadak seperti membuncah, ditambah dengan tantangan permainan tengah malam yang viral di internet. Katanya, jika kami mengikuti aturannya, kami akan membuktikan apakah legenda itu hanya bualan belaka atau ada sesuatu yang benar-benar mengintai di dalam gelap.

Angin malam menusuk tulang. Lampu jalan mati entah sejak kapan. Satu-satunya cahaya berasal dari senter ponsel kami yang bergetar dalam genggaman.

Peraturan permainan sudah kami hafal: masuk tepat tengah malam, jangan menyalakan lampu apa pun, jangan bicara terlalu keras, danini yang terpentingjangan keluar sebelum jam tiga pagi, apapun yang terjadi. Sari, yang biasanya paling penakut, malam itu malah tampak paling berani. Ia melangkah pertama kali, mengajak kami masuk lewat pintu samping yang sudah lapuk.

Permainan Tengah Malam Berujung Teror Misterius di Rumah Tua
Permainan Tengah Malam Berujung Teror Misterius di Rumah Tua (Foto oleh Calwyn Ace)

Langkah-Langkah Terlarang

Rumah itu sepi, seolah menanti. Kami mengambil posisi di ruang tengah, duduk melingkar di lantai berdebu. Senter kami redup-redup, diselubungi kabut tipis yang entah dari mana datangnya.

Suara kami berbisik, membicarakan perasaan aneh yang mulai merambat di kulit. Setiap suara kecilpapan kayu yang berderit, angin yang menerpa jendelamembuat jantungku berdetak lebih keras. Tapi, Rama yang selalu berlagak sok berani, tiba-tiba berdiri dan berkata, “Kalian pengecut! Aku mau keliling lantai atas, siapa ikut?”

Naya menahannya, tapi Rama tetap bersikeras. Ia naik sendiri, meninggalkan kami bertiga di bawah. Beberapa menit berlalu, sunyi. Lalu, suara teriakan lirih terdengar dari atas. Kami saling pandang, panik.

Sari langsung berdiri, berlari ke arah tangga tanpa berpikir panjang. Aku dan Naya mengikuti, melupakan satu aturan utama permainan: jangan terpisah, jangan panik.

Titik Balik Tengah Malam

Di lantai atas, lorong terasa lebih panjang dari yang seharusnya. Suara Rama tak terdengar lagi. Sari berlari ke kamar paling ujung, pintunya setengah terbuka. Kami mengintiptak ada siapa pun di dalam. Dingin semakin menusuk.

Lalu, tiba-tiba, pintu menutup sendiri dengan keras di belakang kami. Kami bertiga terjebak dalam kegelapan total. Ponsel kami, yang tadinya menyala, kini mati serentak. Jantungku seakan berhenti berdetak.

  • Jendela tertutup rapat, tidak bisa dibuka.
  • Suara langkah kaki berat di lorong, mendekat perlahan.
  • Bisikan samar di telinga kami, “Keluar... jika bisa.”
  • Tidak ada sinyal, tidak ada cahaya, hanya napas kami yang memburu.

Sari mulai menangis. Naya berusaha menenangkan, tapi tangannya gemetar. Aku, entah kenapa, merasa seperti ada yang mengawasi dari balik lemari tua di sudut ruangan. Padahal, kami yakin kamar itu kosong.

Pintu yang Tidak Pernah Terbuka

Detik-detik terasa seperti jam. Kami mencoba menenangkan diri, menunggu hingga jam tiga pagi seperti aturan.

Tapi rasa takut berubah menjadi teror saat suara Rama terdengar dari luar kamar, memanggil-manggil minta tolong, suaranya berat dan parau, tidak seperti suara manusia. Kami berteriak memanggil namanya, tapi tak ada jawaban. Satu-satunya cara keluar adalah memaksa pintu, padahal dalam aturan permainan, itu dilarang keras.

Namun, Sari tak tahan lagi. Ia mendorong pintu sekuat tenaga. Tiba-tiba, angin dingin menyapu ruangan, membanting pintu terbuka. Kami berhamburan keluar, lorong terasa tak berujung.

Setiap langkah seperti menenggelamkan kami lebih dalam ke dalam rumah itu. Suara langkah kaki lain terdengar mengikuti kami, kadang di depan, kadang di belakang. Aku menolehdan untuk sepersekian detik, kulihat bayangan tinggi, hitam, tanpa wajah, berdiri di ujung lorong, tepat di tempat Rama terakhir terlihat.

Apakah Kami Benar-Benar Keluar?

Entah bagaimana, kami akhirnya berhasil keluar dari rumah itu. Nafas kami memburu, baju basah oleh keringat dingin. Tapi Ramadia tidak pernah keluar bersama kami. Sampai hari ini, tidak ada yang tahu di mana dia.

Setiap malam, aku masih sering bermimpi berada di kamar itu, mendengar bisikan lirih yang sama. Kadang-kadang, aku merasa ada yang berdiri di sudut kamarku, mengawasi, menunggu aku tidur untuk membisikkan satu kalimat yang sama:

“Permainan belum selesai.”

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0