Rahasia Fasilitas Terlarang dan Makhluk yang Kini Bebas
VOXBLICK.COM - Kabut tipis menyelimuti jalanan menuju fasilitas rahasia itu, menempel di kaca mobil tim tanggap darurat yang bergerak lamban menembus hening malam. Suara radio di dashboard hanya berisik statis, seolah menolak menyampaikan pesan apa pun dari dunia luar. Aku, sebagai salah satu anggota tim, tak pernah membayangkan malam itu akan menjadi awal dari sesuatu yang tak pernah kami pahamisesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi di balik pintu baja tebal, jauh dari jangkauan manusia.
Ekspedisi ke Dalam Fasilitas Terlarang
“Kita ulangi prosedur: masuk, evakuasi, jangan sentuh apapun yang tidak perlu,” perintah Letnan Dimas, suaranya bergetar samar meski berusaha tegas.
Kami mengenakan perlengkapan lengkaphelm, masker, lampu senterdan bersiap menembus pintu utama yang sudah terbuka sebagian, seolah seseorang atau sesuatu telah bergegas keluar sebelum kami tiba.
Bau logam dan bahan kimia menyergap hidung ketika kami melangkah masuk. Cahaya lampu senter menyoroti lorong berlapis baja, dindingnya dipenuhi goresan aneh. Ada suara samar, desahan nafas, atau mungkin hanya hembusan angin dari ventilasi yang rusak.
Tidak ada tanda-tanda manusia. Hanya jejak lumpur, bercak cairan gelapdan rasa dingin yang menusuk tulang.
Pintu Baja, dan Apa yang Bersembunyi di Baliknya
Kami berhenti di depan sebuah pintu baja dengan kode identifikasi yang sudah terkelupas, namun masih menggantung satu kata: “TERLARANG.
” Letnan Dimas merogoh saku, mengeluarkan kartu akses yang langsung retak saat ditempelkan ke pemindaientah karena usia atau sebab lain yang tak kasat mata.
"Ada sesuatu di balik ini... sesuatu yang tidak boleh keluar," bisik Rina, teknisi termuda kami, matanya membelalak menatap sesuatu di lantaisepotong kuku, terlalu panjang dan tajam untuk ukuran manusia.
- Jejak kaki dengan bentuk aneh, tiga jari, menuntun ke lorong gelap.
- Coretan di dinding: pola spiral, angka, dan kata-kata dalam bahasa yang asing.
- Pintu laboratorium yang terbuka paksa, berisi kandang baja besar, kini kosong.
Setiap langkah terasa berat. Suara samar seperti rintihan, kadang berubah jadi tawa melengking, berkumandang dari balik bayang-bayang.
Di layar monitor CCTV yang masih menyala, kami menangkap bayangansebuah sosok, tinggi, kurus, matanya seperti bara, melintas di ujung lorong. Sesuatu yang kini bebas setelah sekian lama dikurung.
Kengerian yang Tak Pernah Dijelaskan
“Apa yang mereka simpan di sini?” tanya Rama, suaranya tercekat saat kami menemukan dokumen berserakancatatan eksperimen, hasil penelitian, dan foto-foto kabur makhluk yang tak menyerupai manusia maupun binatang mana pun yang kami kenal.
Saat kami bergerak lebih dalam, suara langkah kaki bergema di belakang kamicepat, canggung, terlalu berat untuk ukuran manusia.
Lampu senter menyorot lorong panjang, dan sejenak kami melihat kilatan mata merah di sudut gelap, menghilang secepat munculnya.
“Jangan berpencar,” perintah Letnan Dimas. Tapi terlambatRina sudah tidak ada. Hanya helmnya yang tertinggal, berlumuran darah segar, di depan pintu menuju ruang penyimpanan terakhir.
- Suara alarm berbunyi sendiri, seolah menandakan sesuatu telah keluar dari kandangnya.
- Monitor keamanan menampilkan tulisan “PROTOKOL ABORTED”.
- Bau busuk makin pekat, udara makin dingin, dan tiap napas terasa berat.
Sesuatu Telah Lepas ke Luar
Kami berlari kembali ke luar, menuruni tangga darurat yang licin oleh darah dan cairan tak dikenal. Di luar, kabut sudah menebal, menelan suara dan cahaya.
Satu per satu, anggota tim menghilang dalam bayang-bayangentah diseret, entah bersembunyi, tak ada yang tahu.
Aku menoleh ke belakang, tepat sebelum pintu keluar tertutup otomatis. Di sela kabut, aku melihatnyamakhluk itu, tubuhnya membungkuk, kulitnya pucat, matanya menyorot langsung ke arahku.
Ia tersenyum, memperlihatkan deretan gigi yang tak seharusnya ada.
Malam itu, kami pikir ancaman telah selesai ketika pintu baja terkunci kembali. Tapi keesokan harinya, berita tentang anak-anak hilang di desa sekitar fasilitas mulai bermunculan, diikuti anjing-anjing yang melolong tanpa henti hingga pagi.
Dan sejak saat itu, setiap malam, aku mendengar bisikan di luar jendelabisikan yang memanggil namaku, seolah mengajak bermain. Sesuatu dari fasilitas terlarang itu kini bebas... dan ia belum selesai mencari mangsanya.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0