Rahasia Kelam Nenek dan Bayi di Malam Berdarah Dua Dekade Lalu

Oleh VOXBLICK

Senin, 08 Desember 2025 - 02.10 WIB
Rahasia Kelam Nenek dan Bayi di Malam Berdarah Dua Dekade Lalu
Rahasia kelam keluarga berdarah (Foto oleh Mehmet Turgut Kirkgoz)

VOXBLICK.COM - Bayangkan malam yang begitu sunyi, hanya suara desir angin dan detak jam tua di ruang tengah yang terdengar. Dua puluh tahun lalu, malam seperti itulah yang mengubah hidupku selamanya. Aku masih kecil, belum cukup berumur untuk memahami bahwa keluarga kami menyimpan rahasia kelam yang bersemayam di balik senyum nenekku. Tapi, malam berdarah itumalam ketika permintaan mengerikan terlontar dari bibir keriputnyaterus menghantuiku hingga hari ini.

Permintaan Mengerikan di Balik Dinding Tua

Ayahku selalu berkata, “Rumah ini punya telinga.” Aku tidak mengerti maksudnya, hingga aku mendengar sendiri bisikan nenek di kamar belakang. Ia memanggilku pelan, matanya menatap temaram cahaya lampu minyak.

Tangannya yang gemetar menggenggam boneka bayi tua, matanya berkaca-kaca, dan saat ia bicara, suaranya nyaris seperti desahan angin dingin dari jendela yang bocor.

“Ambilkan aku bayi, sayang…,” bisiknya. Aku mengira ia hanya berhalusinasi, pikun di usia senja. Tapi malam itu, aku mendengar suara tangis bayi dari loteng. Tak ada bayi di rumah kami, hanya aku, ayah, dan nenek.

Tapi suara itu nyatamengiris malam, menembus dinding tipis kamar.

Rahasia Kelam Nenek dan Bayi di Malam Berdarah Dua Dekade Lalu
Rahasia Kelam Nenek dan Bayi di Malam Berdarah Dua Dekade Lalu (Foto oleh Erik Mclean)

Bayang-Bayang di Balik Pintu Loteng

Keesokan harinya, aku memberanikan diri naik ke loteng. Setiap anak tangga berderit di bawah kakiku, seolah menahan rahasia yang berat. Aroma apek menusuk hidung, dan di sudut ruangan, aku melihatnyasebuah boks bayi tua, tertutup kain putih usang.

Tangan mungil mengintip dari balik kain, bergerak pelan. Aku membeku. Tidak mungkin…

  • Suara tangis bayi itu semakin keras saat aku mendekat.
  • Cahaya remang-remang membuat bayangan di dinding menari-nari, membentuk wajah-wajah yang tak kukenal.
  • Di balik boks, ada bercak merah tua menodai lantai kayu. Aku menahan napas, mencoba menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerbu.

“Jangan buka…” bisik suara yang tak kukenal, entah dari mana. Tapi rasa penasaran mengalahkan ketakutanku. Aku tarik kain itudan hanya menemukan boneka bayi tua, matanya retak, pipinya bernoda merah yang tak jelas asalnya.

Malam Berdarah yang Tak Pernah Berakhir

Malam demi malam, suara tangis dan permintaan nenekku semakin menjadi-jadi. Ia makin sering terbangun, menatapku dengan mata kosong, kadang mulutnya komat-kamit menyebut nama yang tak pernah kudengar.

Suatu malam, aku terbangun karena suara gemuruh di bawah, suara kursi diseret dan bisikan-bisikan samar. Aku turun, dan kulihat nenek duduk di kursi goyang, menggendong boneka bayi itu, menimang dengan lembut. Tapi di lantai, terlihat jejak-jejak merah menuju pintu belakang.

Ayahku berdiri di ambang pintu, tangannya gemetar, menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi matanya dipenuhi air matadan ketakutan. Malam itu, tak ada yang tidur. Dan saat pagi tiba, jejak merah itu sudah menghilang.

Nenekku menatapku lekat-lekat, lalu berkata dengan suara yang nyaris bukan miliknya, “Sssst… Jangan bilang siapa-siapa. Dia sudah ada di sini.”

Kebenaran yang Lebih Mengerikan dari Kenangan

Waktu berlalu, rumah itu tetap berdiri, namun selalu terasa dingin meski siang terik. Aku tumbuh, mencoba melupakan malam-malam penuh misteri itu. Tapi suara tangis bayi dan permintaan nenekku tetap hadir dalam mimpiku.

Dua dekade berlalu, aku kembali ke sana, rumah tua yang kini sepi. Loteng masih sama, boks bayi tua di sudut, namun kini ada sesuatu yang berbeda.

Di bawah boks, aku menemukan secarik kaindan di baliknya, setumpuk foto hitam putih. Bayi-bayi dengan wajah kabur, dan di tiap sudut foto, tulisan tangan nenekku: “Untuk yang belum kembali.

Tiba-tiba, suara tangis bayi menggema lagi, lebih keras dari yang pernah kudengar. Aku menoleh ke arah suara, dan pintu loteng menutup sendiri dengan hentakan keras.

Aku berlari ke arah pintu, mencoba membukanya. Tapi suara nenek membisik di telingaku, meski ia sudah lama tiada, “Kamu sudah berjanji, kan, sayang? Jangan tinggalkan dia sendirian…”

Di belakangku, boks bayi itu kini berguncang sendiri. Tangis bayi berubah menjadi tawatawa yang tidak pernah terdengar dari mulut manusia mana pun.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0