Rumah Berhantu: Kutukan Keturunan dan Arwah Penunggu Malam
VOXBLICK.COM - Sejak kecil, aku tahu rumah ini berbeda. Bukan sekadar tua dengan cat yang mengelupas dan jendela yang selalu berembun, tapi dihuni oleh sesuatu yang lebih kuno, lebih gelap. Udara di dalamnya selalu terasa berat, dingin yang menusuk tulang bahkan di tengah teriknya siang. Bisikan di dinding, seperti desah napas panjang atau rintihan yang tertahan, adalah melodi pengantar tidurku. Bayangan melintas di sudut mata, sekilas sosok tinggi atau anak kecil yang berlari, menjadi pemandangan yang lebih akrab daripada wajah ibuku sendiri. Itu semua adalah bagian dari warisan kami, sebuah anugerah yang mematikan, sebuah kutukan yang mengalir dalam darah.
Keluargaku, para penghuni terakhir dari garis keturunan panjang yang terikat pada fondasi batu ini, selalu bicara tentang mereka dengan suara pelan, mata memandang kosong ke kejauhan.
Nenek sering mengatakan bahwa arwah leluhur takkan membiarkan kami tidur nyenyak, bahwa mereka menuntut sesuatu yang tak pernah bisa kami berikan. Aku tak pernah mengerti, sampai malam itu, saat aku beranjak dewasa dan tirai tipis antara duniaku dan dunia mereka terkoyak sepenuhnya.
Bisikan dari Masa Lalu
Suatu malam, aku terbangun oleh suara isakan. Bukan suara tangisan anak kecil yang biasa kudengar, melainkan isakan seorang wanita dewasa, penuh keputusasaan, datang dari lorong lantai atas. Jantungku berdebar tak karuan.
Aku tahu ini bukan ibuku, yang tidur pulas di kamar sebelah. Rasa dingin yang menusuk tulang itu semakin pekat, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram leherku. Aku meraih senter kecil di samping tempat tidur dan memberanikan diri melangkah keluar.
Lorong itu gelap gulita, hanya diterangi oleh sedikit cahaya bulan yang menyusup dari jendela di ujung. Isakan itu semakin jelas, seolah tepat di depanku. Aku menyinari senter ke depan, tapi tak ada siapa-siapa.
Namun, saat cahaya itu menyapu dinding, aku melihatnya: jejak tangan berlumur cairan merah kehitaman, seolah seseorang telah menyeretnya ke bawah. Darah. Darah yang sudah mengering. Dan jejak itu tidak berhenti di satu titik, melainkan terus berlanjut, membentuk sebuah pola aneh yang mengarah ke kamar nenek yang sudah lama kosong.
Aku tahu aku seharusnya tidak masuk. Nenek selalu melarang kami mendekati kamar itu, mengatakan ada sesuatu yang tidak boleh diganggu. Tapi rasa penasaran, atau mungkin dorongan dari mereka, menarikku masuk.
Begitu kakiku melangkah melewati ambang pintu, bau anyir dan debu tua menyergap. Suhu di dalam ruangan itu jauh lebih dingin daripada di lorong. Sebuah cermin besar, yang selalu tertutup kain hitam, kini terbuka sedikit, memperlihatkan pantulan samar dari kegelapan di belakangku.
Bayangan di Cermin Tua
Aku mendekat ke cermin itu, menyibakkan kain yang melindunginya. Permukaannya buram, seolah telah melihat terlalu banyak kesedihan. Saat aku menatap pantulanku, di belakangku, di antara bayangan perabot tua yang tertutup terpal, ada sesuatu.
Sebuah sosok. Wanita berambut panjang, dengan mata cekung dan pakaian compang-camping, berdiri diam. Dia tidak bergerak. Dia hanya menatapku dari pantulan cermin, wajahnya penuh kesedihan yang tak terhingga.
Aku tidak berteriak. Aku tidak bisa. Suaraku tercekat di tenggorokan. Kakiku terpaku di lantai. Aku hanya bisa menatapnya, dan dia menatapku balik. Perlahan, bibirnya bergerak, membentuk kata-kata tanpa suara.
Aku mencoba membaca gerakannya, berusaha memahami pesan yang ingin dia sampaikan. Lalu, tangannya terangkat, menunjuk ke arahku, ke dadaku. Dan di sana, di pantulan cermin, aku melihatnya: sebuah tanda lahir kecil di bahu kiriku, yang selalu aku anggap biasa, kini bersinar samar dengan cahaya kebiruan.
Wanita itu tersenyum. Senyum yang bukan senyum bahagia, melainkan senyum putus asa, senyum yang mengatakan, "Ini dia. Kamu adalah dia."
Kutukan Keturunan
Sejak malam itu, bisikan di dinding menjadi lebih jelas, bayangan melintas lebih sering, dan rasa dingin itu tak pernah pergi. Aku mulai melihatnya di mana-mana: di sudut tangga, di balik tirai jendela, bahkan di pantulan genangan air di halaman.
Mereka bukan lagi sekadar arwah penunggu malam, mereka adalah keluargaku. Leluhur yang tak bisa pergi, terikat pada rumah ini oleh sebuah perjanjian kuno, sebuah kutukan keturunan yang menuntut penjaga.
Aku mencari buku-buku lama di perpustakaan tersembunyi yang hanya bisa dibuka dengan kunci yang kucuri dari nenek.
Di sana, aku menemukan jurnal-jurnal kuno, tulisan tangan yang memudar, menceritakan tentang seorang wanita di garis keturunan kami yang melakukan perjanjian dengan entitas tak dikenal untuk menyelamatkan desanya dari wabah. Sebagai gantinya, setiap generasi akan ada satu penjaga yang harus tinggal di rumah ini, menjadi jembatan antara dunia hidup dan mati, dan pada akhirnya, menjadi salah satu dari mereka.
Wanita di cermin itu, aku yakin, adalah salah satu penjaga sebelumnya. Dan tanda lahir di bahuku, yang kini terasa panas dan berdenyut, adalah segelnya. Ibuku, dengan mata kosongnya, dengan bisikan-bisikan pelannya tentang mereka, dia tahu.
Dia tahu aku adalah yang berikutnya. Dia tahu aku tidak bisa lari dari siklus teror ini.
Malam Penentuan
Malam ini, bulan purnama bersinar terang, cahayanya membanjiri kamarku yang gelap. Aku bisa merasakan mereka di sekelilingku. Bukan lagi bisikan, melainkan gumaman yang tak terhitung jumlahnya, memanggil namaku. Penjaga. Penjaga. Selamat datang.
Aku berdiri di depan cermin tua di kamar nenek, yang kini tak lagi buram. Pantulanku tampak lebih pucat, lebih kurus, dan di mataku, ada bayangan kegelapan yang sama seperti yang kulihat pada wanita itu.
Tanda lahir di bahuku bersinar terang, dan rasa dingin yang menusuk tulang kini terasa seperti pelukan. Aku mendengar langkah kaki mendekat dari lorong.
Bukan langkah kaki manusia, melainkan suara gesekan kain tua di lantai, suara napas yang terengah-engah, dan isakan yang kini terdengar seperti nyanyian. Mereka datang menjemputku. Mereka datang untuk menyempurnakan perjanjian. Aku tidak takut lagi. Hanya ada rasa lelah yang mendalam, dan penerimaan.
Pintu kamar nenek terbuka perlahan, memperlihatkan kegelapan yang pekat. Dari dalamnya, muncul siluet-siluet tak berbentuk, mengambang, menari-nari. Mereka mengulurkan tangan-tangan transparan ke arahku, mengundangku untuk bergabung.
Aku menatap pantulanku sekali lagi. Wajahku perlahan berubah, mataku semakin cekung, rambutku memutih, dan senyum di bibirku adalah senyum yang sama dengan wanita di cermin itu. Senyum putus asa, senyum yang mengatakan, "Ini dia. Aku adalah dia."
Aku melangkah maju, menuju kegelapan yang menanti. Lalu, sebuah suara, suara yang sangat aku kenal, berbisik tepat di telingaku, "Selamat datang di rumah, Nak. Kamu tidak akan pernah bisa pergi." Aku menoleh, tapi tak ada siapa-siapa.
Hanya pantulan diriku yang kini tak lagi sepenuhnya manusia, dan di belakangku, di ambang pintu yang terbuka lebar, berdiri ibuku, dengan tatapan kosong yang sama seperti nenek, memegang lilin yang apinya berkedip-kedip, menerangi jejak kaki basah yang baru saja kutinggalkan di lantai kayu. Jejak kaki yang kini mulai memudar, seolah tak pernah ada.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0