Saudariku Hilang dan Muncul di Jendela Rumah Tetangga Malam Itu

Oleh VOXBLICK

Senin, 10 November 2025 - 04.40 WIB
Saudariku Hilang dan Muncul di Jendela Rumah Tetangga Malam Itu
Saudariku muncul di jendela tetangga (Foto oleh Artem Podrez)

VOXBLICK.COM - Malam itu, angin berhembus lebih kencang dari biasanya, membawa bisikan-bisikan aneh yang seolah memanggil dari balik pepohonan. Aku duduk di ruang tamu, menatap jam dinding yang terus berdetak seolah mengejek kesedihanku. Sudah tiga hari berlalu sejak saudariku, Rina, menghilang tanpa jejak. Rumah kami berubah sunyi, sepi, dan penuh kecemasan. Setiap sudut terasa dingin, seolah-olah kehadiran Rina telah diambil bersama kehangatan rumah ini.

Kami sudah mencari ke mana-mana: lapor ke polisi, membagikan selebaran, bahkan bertanya ke orang pintar. Namun malam itu, yang awalnya hanya diisi keputusasaan dan penantian, mendadak berubah menjadi awal dari mimpi buruk yang tak pernah kubayangkan.

Saudariku Hilang dan Muncul di Jendela Rumah Tetangga Malam Itu
Saudariku Hilang dan Muncul di Jendela Rumah Tetangga Malam Itu (Foto oleh KoolShooters)

Malam yang Menjadi Awal Ketakutan

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat. Ibu tertidur di sofa dengan air mata yang belum kering di pipinya. Aku melirik ke luar jendela, sekadar mencari udara segaratau mungkin, berharap ada keajaiban.

Tapi justru di situlah aku melihat sesuatu yang membuat darahku berdesir dan kakiku membeku di tempat.

Di jendela rumah tetangga, tepat di seberang halaman, bayangan seseorang berdiri diam. Lampu di dalam rumah itu mati, hanya ditemani cahaya redup bulan. Tapi aku mengenali sosok itubaju tidurnya, rambut panjangnya yang kusutitu Rina.

Dia menatapku, matanya kosong, mulutnya seperti berbisik sesuatu yang tak terucap.

Bisikan dari Balik Jendela

Aku memaksa diriku untuk keluar, menembus dinginnya malam. Langkahku berat, tapi dorongan untuk memastikan kebenaran lebih besar dari rasa takutku. Setiap jejak kakiku di atas tanah seperti bergema, menambah ketegangan yang sudah menyesakkan dada.

  • Pintu rumah tetangga terkunci rapat.
  • Jendela tempat Rina berdiri tampak berembun, namun tak ada tanda kehidupan di dalamnya.
  • Tak ada suara, tak ada cahaya, hanya diam membatu.

Aku mengetuk pelan, lalu semakin keras. "Rina! Itu kamu? Jawab aku!" Tidak ada jawaban. Tapi dari dalam, samar-samar terdengar suara bisikan. Suara itu seperti memanggil namaku, namun berbeda... dingin, serak, dan berat.

Perlahan aku menempelkan wajahku ke kaca. Di balik tirai, Rina masih berdiri, namun kini ia tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali bukan miliknya.

Jejak yang Tak Pernah Hilang

Keesokan harinya, aku bercerita pada ibu dan tetangga. Mereka semua menyangkal pernah melihat Rina malam itu. Pemilik rumah berkeras semalam ia dan keluarganya tidur di luar kota.

Tapi di kaca jendela, masih tampak bekas telapak tangan kecil, seperti milik Rina, menempel samar di embun pagi.

Setiap malam sejak itu, aku selalu melihat sosok Rina berdiri di jendela yang sama. Kadang ia menangis, kadang tertawa, namun lebih sering hanya menatapku dengan tatapan kosong menembus malam. Tidak ada yang percaya selain aku.

Tidak ada yang berani mendekat ke rumah itu lagi.

Aku mulai mencatat hal-hal aneh yang kutemui:

  • Burung-burung tak pernah hinggap di atap rumah tetangga.
  • Bau anyir kerap tercium menjelang subuh dari arah jendela itu.
  • Setiap kali aku berani menatap lebih lama, aku merasa seperti ada yang menarikku ke dalam kegelapan rumah itu.

Akhir yang Membeku di Tengah Malam

Suatu malam, aku memberanikan diri mendekat lagi. Tapi kali ini, jendela itu terbuka sedikit. Dari dalam, suara Rina terdengar jelas, memanggil namaku, memohon agar aku masuk dan menemaninya.

Tanganku gemetar, namun langkahku melangkah pelan ke ambang jendela.

Angin malam berhembus lebih dingin. Aku memejamkan mata, menahan nafas, lalu…

Seseorangatau sesuatumenyentuh bahuku dari belakang. Aku menoleh cepat, tapi yang kulihat hanya bayangan hitam melewati sudut mataku. Saat aku kembali menatap ke dalam jendela, Rina sudah tak ada.

Hanya gelap, dan pantulan wajahku sendiri yang kini berubah pucat pasi.

Malam itu, bisikan Rina tak pernah terdengar lagi. Tapi setiap kali aku melewati rumah tetangga, aku merasa ada sepasang mata mengawasiku dari balik tirai, menunggu… menunggu sesuatu yang bahkan aku sendiri tak tahu apa.

Dan sejak malam itu, aku tak pernah benar-benar tidur nyenyak lagi.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0