Stillwater Farms: Malam Kelima, Bayangan Mengerikan Menghantui
VOXBLICK.COM - Bau tanah basah dan jerami masih melekat di hidungku, bahkan setelah matahari benar-benar tenggelam di balik pepohonan tua Stillwater Farms. Malam kelima telah datang, dan jantungku berdegup kencang menahan rasa takut yang tak pernah benar-benar surut sejak aku tiba di sini. Ada sesuatu yang salah dengan ladang ini udara dingin membawa bisikan yang tidak pernah aku pahami, dan setiap bayangan yang bergeser di antara batang jagung seolah memata-mataiku, menyimpan rahasia yang tak pernah ingin terbongkar.
Malam itu, aku duduk di ambang pintu gudang tua, menatap gelap yang menelan segala hal di sekitarku. Angin malam menggetarkan papan-papan kayu, menciptakan suara rintihan pelan yang membuat bulu kudukku meremang.
Senter di tanganku bergetar, bukan karena dingin, tapi karena tangan yang tak mampu menahan gemetar ketakutan. Di kejauhan, suara langkah samar terdengar, terhenti, lalu kembali berjalanseakan sesuatu bergerak perlahan, mengitari lahan, menunggu waktu yang tepat untuk menampakkan diri. Aku menahan napas, berharap makhluk itu hanya bayangan pikiranku saja.
Bisikan di Balik Ladang
Pada malam-malam sebelumnya, aku sempat berpikir bahwa rasa takutku hanyalah paranoia. Tapi malam ini berbeda.
Setiap kali aku mencoba menenangkan diri, suara bisikan itu semakin jelas, seolah-olah suara-suara itu berasal dari tanah basah di bawah kakiku. Aku ingat betul pesan Pak Tio, penjaga lama Stillwater Farms, “Jangan pernah keluar setelah tengah malam. Apapun yang terjadi, jangan menoleh ke belakang.”
Namun, rasa ingin tahuku selalu lebih besar dari rasa takut. Aku melangkah keluar, menelusuri jalan setapak yang hanya diterangi cahaya senter. Setiap langkah terasa berat, seakan tanah menarik telapak kakiku agar tidak pergi lebih jauh.
Di sekelilingku, pohon-pohon tua berbisik, menggigil diterpa angin. Aku mendengar sesuatu merayap di antara ilalang, suara yang semakin dekat, membuat napasku tercekat.
Bayangan yang Menghantui
Tiba-tiba, sosok gelap melintas di ujung pandangan. Refleks, aku mengarahkan senter, tapi cahaya hanya menyorot batang jagung yang bergerak pelan. Tidak ada apa-apa. Atau setidaknya begitulah yang aku harapkan.
Aku melanjutkan langkah, melewati bekas pondok tua yang dindingnya telah roboh sebagian. Di sana, aku mendengar suara tawa keciltawa anak kecil yang seharusnya tidak ada di ladang sunyi seperti ini.
- Bayangan panjang menyelinap di balik pohon ek tua.
- Suara napas berat terdengar di antara desir angin.
- Lampu senter tiba-tiba meredup, lalu mati sejenak.
Dalam kegelapan, aku merasakan sesuatu mengawasi dari balik semak. Aku memanggil nama adikku pelan, berharap itu hanya dia yang ingin menakutiku. Tapi tidak ada jawaban. Hanya gema bisikan, semakin dekat, menyelimuti pikiranku.
Aku berjalan mundur, kaki terantuk akar pohon, jatuh terduduk di tanah. Dalam sekejap, aku merasa seperti dijerat oleh bayangan sendiri.
Rahasia Masih Terkubur
Entah berapa lama aku berdiam di sana, membiarkan dingin menembus tulang, menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Tapi aku tahu, rahasia Stillwater Farms tidak ingin ditemukan.
Aku mengingat kembali cerita-cerita lama tentang sumur tua di ujung ladang, tentang suara-suara aneh yang hanya terdengar setiap malam kelima. Tiba-tiba, tanah di bawahku bergetar pelan, seperti ada sesuatu yang menggeliat dari dalam, mencari jalan keluar.
Ketika aku akhirnya berdiri dan menatap ke arah sumur, mataku menangkap sesuatu yang bergerak di dalam gelap. Sekilas, sosok itu tampak seperti manusiatapi terlalu tinggi, terlalu kurus, dan matanya menyala merah menembus pekat malam.
Aku membeku, hanya mampu menatap, tak bisa lari, tak bisa berteriak. Angin membawa suara lirih: “Jangan lihat ke belakang...”
Malam Kelima yang Tak Pernah Berakhir
Langit pekat, bulan tertutup awan, dan waktu seakan membeku di Stillwater Farms malam itu. Aku tak tahu berapa lama aku menahan napas, bersembunyi di balik batang jagung, menunggu fajar yang tak kunjung datang.
Suara langkah itu kini terdengar lebih dekat, berputar mengelilingiku, seolah menunggu aku lengah. Aku menunduk, mencoba berpikir jernih, tapi rasa takut menelan semua logika.
Ketika akhirnya aku mengumpulkan keberanian untuk bangkit dan berlari, suara bisikan itu kembali, kali ini lebih keras, nyaris seperti teriakan. Aku menolehmelanggar nasihat Pak Tiodan untuk sesaat, segalanya berubah menjadi hitam.
Dalam kegelapan, aku merasakan sesuatu menarikku ke dalam tanah, ke dalam rahasia yang selama ini mencoba kubongkar.
Sampai sekarang, tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi pada malam kelima di Stillwater Farms. Tapi jika Anda berjalan di sana saat malam tiba, dan mendengar namaku dipanggil dari tengah ladang, jangan pernah menoleh.
Karena malam kelima selalu menanti satu korban lagi.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0