Terjebak Malam Mencekam di Hotel Tua yang Terlarang
VOXBLICK.COM - Angin malam yang lembap menusuk kulit ketika aku dan tiga temanku menapaki anak tangga menuju teras hotel tua yang sudah lama ditinggalkan. Lampu senter kecil di tangan hanya mampu menerangi setengah langkah ke depan, sementara bayangan bangunan megah itu terasa seperti menelan kami bulat-bulat. Tak ada suara selain desis napas dan detak jantung yang terasa makin kencang. Kami datang bukan hanya untuk membuktikan keberanian, tetapi juga untuk memuaskan rasa penasaran pada legenda gelap yang membungkus Hotel Gadingbangunan yang katanya terlarang dimasuki siapa pun selepas senja.
Pintu utama hotel itu terbuka setengah, berderit pelan seolah menyambut tamu yang tak diundang. Aroma lembap, bercampur bau kayu lapuk dan debu, menguar menyergap hidung. Kami saling berpandangan, ragu, namun ego masing-masing menolak mundur.
Dengan langkah pelan, kami masuk. Karpet lusuh membentang, di atasnya jejak-jejak kaki samar entah milik siapa. Di sudut lobi, meja resepsionis berdiri angkuh, ditelan bayang-bayang. Tak ada tanda kehidupan, hanya suara jam tua berdetak pelan dari dinding yang penuh noda jamur.
Langkah Pertama Menuju Teror
Kami memutuskan untuk menjelajah lantai dua, tempat yang katanya paling angker. Tangga kayu tua berderit memprotes setiap langkah kami.
Suasana di atas semakin menyesakkan koridor panjang dihiasi pintu-pintu kamar yang tertutup rapat, seolah menyembunyikan rahasia yang tak ingin terungkap. Angin malam menyusup lewat jendela pecah, membawa bisikan samar yang membuat bulu kudukku meremang.
"Dengar itu?" bisik Saka, matanya membelalak menatap pintu kamar bernomor 207. Suara seperti langkah kaki seret terdengar samar dari sana. Kami saling merapat, menahan napas.
Aku mendekatkan senter ke pintu, mencoba mengintip lewat lubang kunci. Gelap. Namun tiba-tiba, suara tawa lirihentah perempuan, entah anak-anakmenggema dari balik pintu itu. Jantungku seolah berhenti. Saka mundur terburu-buru, hampir terjatuh menabrak Dini di belakangnya.
Rahasia di Balik Kamar Terlarang
Penasaran bercampur takut, kami memutuskan membuka pintu 207. Engsel pintu berkarat mengeluarkan suara nyaring saat dipaksa terbuka. Ruangan itu kosong, hanya ada ranjang tua dengan sprei robek dan cermin besar yang buram di dinding.
Namun, di tengah lantai, ada sesuatu: sebuah boneka kayu tua, berdiri tegak, menatap kosong ke arah kami. Di dadanya, tertulis angka: 12:07. Angka itu berulang kali terngiang di kepala, seolah mengingatkan pada sesuatu yang buruk.
- Udara di kamar itu terasa lebih dingin dibanding koridor luar.
- Embun tipis tampak di permukaan cermin, meski tak ada air di sekitar kami.
- Bayangan kami di cermin tidak bergerak, seolah terjebak di dimensi berbeda.
Dini menggenggam tanganku erat. "Kita harus keluar dari sini," bisiknya. Tapi sebelum kami melangkah, pintu kamar menutup sendiri dengan keras. Senter Saka tiba-tiba mati, ruangan tenggelam dalam kegelapan total.
Suara bisikan kini makin jelas, seperti banyak mulut berbisik di telinga kami.
Malam yang Tak Pernah Usai
Kami mencoba membuka pintu, tapi tak bergerak sedikit pun. Dari balik cermin, samar-samar muncul bayangan perempuan bergaun putih, wajahnya kabur, matanya hitam tak berdasar.
Ia perlahan berjalan mendekat, menembus cermin, dan berhenti tepat di depan boneka kayu. Tiba-tiba, jam dinding berdentang dua belas kali. Setiap dentang membuat ruang terasa berputar, seolah-olah waktu melambat, lalu membeku.
Dalam kepanikan, aku memejamkan mata. Saat kubuka kembali, kami sudah berada di lobi hotel, seperti baru saja masuk. Tak ada Saka, tak ada Dini, hanya aku dan boneka kayu di tangankuentah sejak kapan aku memegangnya.
Di dada boneka, angka 12:07 kini berubah menjadi 12:08.
Jejak yang Tak Terhapus
Udara di luar terasa berbeda saat akhirnya aku melangkah keluar dari hotel tua itu, sendiri. Cahaya pagi menyambutku, tapi bayangan hotel masih terpatri di benak. Tak ada jejak Saka dan Dini, seolah-olah mereka tak pernah masuk bersamaku.
Di saku jaketku, kutemukan kunci kamar hotel bernomor 207dingin dan berat. Saat menoleh ke belakang, pintu hotel menutup pelan, dan dari balik jendela lantai dua, aku melihat bayangan dua orang melambaikan tangan perlahan.
Sejak malam itu, setiap pukul 12:07, aku selalu terbangun oleh suara tawa lirih dan bisikan dari dalam cermin kamarku sendiri. Dan setiap kali aku menatap boneka kayu itu, angka di dadanya terus bertambah satu…
>Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0