Wajah Berbeda Lewati Rumahku Malam Itu Membekas di Ingatan
VOXBLICK.COM - Suara detik jam dinding di ruang tamu terdengar lebih nyaring dari biasanya malam itu. Aku duduk di sofa, menatap layar ponsel kosong yang cahayanya mulai redup. Hujan gerimis turun ragu-ragu, menyisakan aroma tanah basah yang menyelinap dari celah jendela. Rumahku berada di ujung jalan kecil yang sepi, jauh dari keramaian. Tidak biasanya aku merasa gelisah, tapi malam itu, udara terasa berat dan aneh.
Pukul menunjukkan hampir tengah malam ketika aku mendengar langkah kaki di luar pagar. Langkah pelan, seolah sengaja mempermainkan sunyi. Awalnya kupikir itu suara hewan liar, tapi iramanya terlalu teratur.
Aku mengintip dari balik tirai tipis, menahan napas. Di bawah temaram lampu jalan, sesosok tubuh tinggi tegak berdiri di depan gerbangmembelakangiku. Rambutnya panjang berantakan, gaun putih lusuh melambai ditiup angin. Aku menahan desah, berharap sosok itu hanyalah bayangan mataku yang lelah.
Bayangan di Bawah Lampu
Jantungku berdegup liar. Sosok itu diam saja, lama sekali, seolah tahu aku mengawasinya dari balik tirai. Ketika akhirnya ia bergerak, tubuhnya melangkah pelan, menyusuri depan rumahku. Aku berusaha menahan diri untuk tidak berteriak.
Setiap langkahnya meninggalkan suara gesekan sepatu di aspal basah, dan aku perhatikan sesuatu yang aneh: setiap kali ia melewati cahaya lampu, wajahnya berubah. Sesekali tampak wajah perempuan tua keriput dengan tatapan kosong, lalu berubah menjadi wajah anak kecil tersenyum, lalu menjadi wajah pria muda dengan mata merah menyala. Setiap perubahan itu seperti riak air di permukaan cermin, cepat namun jelas.
Ketakutan mengunci tubuhku. Aku ingin memalingkan muka, tapi rasa ingin tahu menahan mataku pada sosok tersebut. Ia berhenti tepat di depan jendela ruang tamu. Aku membeku, hanya terpisah beberapa meter dengan kaca jendela tipis.
Wajahnya kali ini menyerupai seorang wanita muda yang pernah kulihat di lingkunganku, namun matanya hitam legam tanpa bola mata. Ia menatap lurus ke arahku, atau mungkin hanya menatap bayangan dirinya sendiri.
Bisikan Malam dan Wajah yang Tak Pernah Sama
Rumahku terasa semakin mencekam. Lampu-lampu di sekitar tiba-tiba meredup, menambah ketegangan. Udara di dalam rumah menjadi dingin menggigit. Aku mendengar bisikan samar, seolah-olah suara-suara itu berasal dari luar jendela.
Tidak ada kata yang jelas, hanya desau aneh seperti ribuan mulut membisikkan rahasia yang tak ingin didengar.
- Wajah berbeda-beda itu tampak begitu nyata, seolah-olah setiap wajah membawa cerita dan kematian masing-masing.
- Sosok itu bergerak perlahan, lalu wajahnya berubah menjadi sangat familiarwajahku sendiri, namun pucat dan membiru, seakan baru diangkat dari liang kubur.
- Pandangan kami bertemu. Di sana, di balik kaca, aku melihat diriku sendiri menatap diriku dengan senyum tipis yang menakutkan.
Tanpa sadar aku mundur, terjatuh di lantai. Ketika aku membangkitkan tubuh, sosok itu telah berlalu, menghilang di sudut jalan. Namun dinginnya masih tertinggal, dan suara bisikan tak juga mereda.
Akhir Malam yang Tak Pernah Usai
Hujan akhirnya berhenti. Aku duduk terdiam di lantai, menatap jendela yang kini hanya memantulkan bayangan ruang tamu kosong. Keesokan paginya, aku mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu hanyalah mimpi buruk akibat terlalu lelah.
Namun ada noda samar di kaca jendelabekas tangan, lima jari yang tercetak jelas, seolah ada seseorang yang menempelkan wajahnya di sana semalam.
Sejak malam itu, setiap kali aku melewati cermin atau permukaan gelap, aku melihat bayangan wajah berbeda-beda menatapku balik. Kadang-kadang tersenyum, kadang menangis, kadang menjerit tanpa suara.
Aku tak pernah benar-benar sendiri lagi, dan setiap malam, aku menunggujangan-jangan, malam ini, sosok itu akan kembali lewat di depan rumahku, dengan wajah yang tak pernah sama.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0