Aku Membuntuti Temanku yang Meminta Difilmkan Tapi Menyembunyikan Sesuatu

Oleh VOXBLICK

Jumat, 16 Januari 2026 - 00.30 WIB
Aku Membuntuti Temanku yang Meminta Difilmkan Tapi Menyembunyikan Sesuatu
Teman misterius difilmkan (Foto oleh Kaique Rocha)

VOXBLICK.COM - Langit malam itu kelabu, dan aku masih bisa merasakan dinginnya angin menusuk tulang saat mengingat kejadian itu. Semua bermula dari permintaan sederhana: temanku, Rani, memintaku untuk mengikutinya sambil merekam dengan kamera ponsel. Katanya, ia sedang membuat proyek film pendek untuk tugas kuliah. Aku tak pernah menaruh curiga, sampai akhirnya aku menyadari ada sesuatu yang janggal dengan permintaannya malam itu. Sejak awal, sorot matanya tampak gelisah, seolah-olah ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku.

Aku dan Kamera: Awal yang Biasa Saja

Kami berjalan menyusuri gang sempit di belakang perumahan lama, di mana lampu jalan lebih sering mati daripada menyala. Rani berjalan cepat, sesekali menoleh dan memastikan aku tetap merekam setiap gerakannya. "Pastikan jangan berhenti merekam, ya.

Apapun yang terjadi," bisiknya pelan. Aku mengangguk, meski dalam hati mulai merasa aneh. Biasanya, ia selalu ceria dan penuh canda, tapi malam itu wajahnya tegang dan kaku.

Aku Membuntuti Temanku yang Meminta Difilmkan Tapi Menyembunyikan Sesuatu
Aku Membuntuti Temanku yang Meminta Difilmkan Tapi Menyembunyikan Sesuatu (Foto oleh KoolShooters)

Langkah kami semakin menjauh dari keramaian. Suara anjing menggonggong dari kejauhan, bercampur dengan desir angin yang mengusik dedaunan tua. Aku terus menahan napas, sementara tanganku menggenggam ponsel erat-erat.

Ada perasaan tak nyaman yang tumbuh setiap kali Rani melirik ke arahku, seolah-olah ia ingin mengatakan sesuatu tapi menahan diri.

Rahasia yang Mulai Terbuka

Kami sampai di sebuah rumah tua yang konon sudah lama kosong. Catnya mengelupas, jendela-jendelanya ditutupi tirai kusam. Tanpa berkata apa-apa, Rani melangkah masuk, dan aku mengikutinyakameraku tetap merekam, seperti permintaannya.

Di dalam, hawa dingin langsung menyergap. Aroma tanah basah dan kayu lapuk memenuhi udara.

Rani berhenti di depan sebuah pintu kamar yang setengah terbuka. Ia menatap pintu itu lama, lalu berbalik ke arahku. "Apapun yang kau lihat nanti, jangan berhenti merekam," katanya dengan suara bergetar.

Aku menelan ludah, mulai merasakan bulu kudukku berdiri.

  • Rani tampak menyembunyikan sesuatu yang berat di pundaknya.
  • Setiap langkah terasa diawasi, seolah ada yang memperhatikan dari balik kegelapan.
  • Suara-suara aneh mulai terdengar: bisikan samar, ketukan pelan di dinding, dan desahan napas yang bukan milik kami.

Teror di Balik Lensa

Ketika Rani mendorong pintu kamar itu pelan-pelan, aku mengarahkan kamera, berusaha tetap fokus meski tangan bergetar. Di dalam ruangan, cahaya bulan menyorotkan bayangan aneh di lantai.

Di sudut ruangan, aku melihat sosok samarseperti bayangan manusia, tapi tidak jelas bentuknya. Rani menunduk, berlutut di depan bayangan itu. Ia mulai berbicara lirih, dengan bahasa yang tak pernah kudengar sebelumnya.

Tiba-tiba, suhu ruangan turun drastis. Napasku membeku di udara. Sosok bayangan itu bergerak, perlahan menegakkan diri, mendekat ke arah kami.

Aku ingin lari, ingin berhenti merekam, tapi suara Rani menggema di kepalaku: "Jangan berhenti merekam, apapun yang terjadi."

Bayangan itu kini sudah berdiri tepat di belakang Rani. Ia menoleh padaku, matanya kosong, senyumnya aneh. "Maafkan aku," bisiknya. Lalu semuanya berubah gelap. Kamera di tanganku tiba-tiba mati, layar menjadi hitam.

Aku terjatuh, dan suara-suara aneh memenuhi telingakutangisan, tawa, dan bisikan yang saling bertumpuk.

Jejak yang Tak Pernah Hilang

Aku terbangun di luar rumah tua itu, sendirian. Ponselku masih di genggaman, tapi videonya hanya menampilkan gambar buram dan suara statis. Rani? Ia menghilang tanpa jejak. Sampai hari ini, tak ada yang tahu ke mana ia pergi.

Setiap malam, aku masih bermimpi didatangi sosok bayangan itu, dan suara Rani yang berbisik di telingaku, "Jangan berhenti merekam."

Sejak malam itu, ada sesuatu yang berbeda dengan kamerakusetiap kali aku mencoba merekam, kadang muncul sosok samar di sudut video.

Aku tak pernah punya keberanian untuk kembali ke rumah tua itu, atau mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan Rani. Tapi satu hal yang selalu menghantui: dalam setiap rekaman, bayangan itu semakin jelas, seolah mendekat... dan menungguku untuk merekam sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0