Aku Naik Bus untuk Orang Mati dan Tak Pernah Kembali
VOXBLICK.COM - Hujan malam itu turun tanpa suara, seperti jubah tipis yang menyelimuti seluruh kota. Lampu jalan berpendar samar, memantulkan genangan air di trotoar yang sepi. Aku berdiri di halte tua yang nyaris tak terlihat, jam di ponsel sudah lewat tengah malam. Entah mengapa, langkah kakiku membawaku ke sana, seperti ada sesuatu yang menuntunku menunggu bus yang jarang sekali lewat rute ini.
Udara begitu dingin menusuk, dan bau tanah basah bercampur aroma logam samar memenuhi hidungku. Saat aku mulai meragukan keputusan menunggu, lampu kendaraan muncul di kejauhan.
Bus tua itu meluncur pelan, lampu depannya redup, catnya mengelupas, dan suara mesinnya seperti geraman makhluk purba. Pintu terbuka perlahan dengan derit menyayat telinga. Tanpa pikir panjang, aku naik, membayar ongkos pada sopir yang menunduk dalam bayang-bayang, hanya sepasang mata kosong yang memandangku.
Penumpang Tanpa Suara
Di dalam bus, suasananya jauh lebih ganjil. Kursi-kursi tua berderet, sebagian kosong, namun di beberapa kursi duduk penumpang membisu. Wajah mereka pucat, mata menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.
Ada yang mengenakan pakaian lusuh, ada pula yang tampak seperti pekerja kantor dengan jas basah. Namun satu persamaan mereka: tidak ada yang bergerak atau berbicara, bahkan tidak ada yang berkedip.
- Aroma bus bukan sekadar apek, melainkan bercampur bau tanah basah dan bunga melati layu.
- Setiap jendela berkabut, dan di baliknya hanya tampak kegelapan pekat tanpa lampu kota.
- Angin dingin serasa menembus kulit, menusuk tulang.
Perjalanan terasa begitu lama. Tak ada suara selain deru mesin dan napas berat para penumpang. Sesekali, aku mencoba menegur seorang wanita tua di sampingku, tetapi dia hanya menoleh perlahanmatanya kosong, bibirnya mengatup rapat.
Ada sesuatu yang salah, sangat salah, tapi aku tak mampu menggerakkan tubuhku untuk turun. Bus melaju terus, seolah menembus batas dunia yang kukenal.
Rute yang Tak Pernah Ada
Lampu jalan satu per satu menghilang. Pemandangan luar berubah menjadi hutan hitam, pepohonan tinggi merunduk di bawah langit kelam. Tak ada halte, tak ada tanda pemberhentian. Keringat dingin mengalir di pelipisku.
Aku ingin menekan tombol berhenti, namun tombol itu berkarat dan tak bergeming.
Di ujung lorong, suara sopir terdengar serak, “Turun hanya bagi yang sudah waktunya.” Kata-kata itu membuat bulu kudukku meremang. Aku menoleh ke penumpang lain, mereka masih menatap kosong, namun kini satu per satu menoleh padaku.
Tatapan mereka hampa, namun ada senyum samar penuh duka di wajah mereka.
- Telepon genggamku kehilangan sinyal, layar membeku dengan jam yang tak bergerak.
- Bayangan di jendela berkelebat, membentuk wajah-wajah asing yang menempel dari luar.
- Bus terus melaju, seolah tanpa tujuan, namun aku tahu, ini adalah perjalanan sekali jalan.
Pemberhentian Terakhir
Bus akhirnya melambat di tengah kegelapan. Di luar, kabut tebal menggulung, menelan segala bentuk. Pintu terbuka perlahan, dan satu per satu penumpang berdiri dan berjalan ke luar, tubuh mereka seakan melayang.
Aku berusaha menahan diri, namun kakiku bergerak sendiri, seperti ditarik kekuatan tak kasat mata. Di luar sana, hanya ada jalan tanah berlumpur, dikelilingi pepohonan bisu dan bisikan angin yang membawa suara tangis samar.
Sopir menoleh padaku, matanya kini tampak lebih jelashitam legam tanpa putih, dalam dan tak berdasar. “Kau sudah sampai, Nak,” bisiknya. Aku mencoba menolak, namun tubuhku terasa kosong, ringan, dan dingin.
Di kejauhan, samar-samar kulihat siluet orang-orang menunggu, beberapa di antaranya tersenyum menyeringai, seolah menantikan kedatanganku.
Sekejap sebelum aku benar-benar melangkah keluar, aku menoleh ke dalam bus. Kursi tempatku duduk kini kosong, dan di cermin belakang, aku melihat bayangan dirikupucat, mataku kosong, dan bibirku bergetar.
Lalu, pintu bus tertutup dengan bunyi dentuman berat, dan suara mesin kembali meraung, membawa kursi-kursi kosong ke malam yang tak pernah berakhir.
Aku naik bus untuk orang matidan tak pernah kembali.
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0