Aku Pulang untuk Mengubur Ibu Tapi Ia Masih Bernapas

Oleh VOXBLICK

Kamis, 06 November 2025 - 00.30 WIB
Aku Pulang untuk Mengubur Ibu Tapi Ia Masih Bernapas
Ibu hidup kembali (Foto oleh Plato Terentev)

VOXBLICK.COM - Malam itu, udara di desa terasa lebih dingin dari biasanya. Aku melangkah tergesa-gesa di jalan setapak yang gelap, ditemani suara gemerisik dedaunan dan bayangan pohon-pohon tua. Panggilan telepon dari adik membuatku pulang mendadakkabarnya Ibu telah pergi. Aku tak sempat menangis, bahkan tak sempat memproses apa-apa, selain dorongan untuk segera sampai ke rumah masa kecil yang kini terasa sangat jauh dan asing.

Sesampainya di depan rumah, lampu-lampu redup bersinar muram. Kerumunan tetangga dan kerabat menyambutku, beberapa menunduk, beberapa menepuk bahuku seolah ingin menenangkan. Aku hanya mengangguk, mataku mencari-cari sosok adik dan ayah.

Aroma bunga kamboja bercampur tanah basah menyengat hidungku, membawa ingatan akan kematian yang pernah kurasakan ketika kakek pergi bertahun-tahun lalu.

Aku Pulang untuk Mengubur Ibu Tapi Ia Masih Bernapas
Aku Pulang untuk Mengubur Ibu Tapi Ia Masih Bernapas (Foto oleh KoolShooters)

Petaka di Balik Selimut Putih

Pintu kamar dibuka, dan di sana, tubuh Ibu terbaring di atas dipan, diselimuti kain putih, wajahnya pucat namun damai. Kerabat dan tetangga berbisik lirih, menahan tangis. Aku duduk di sampingnya, menggenggam tangan Ibu yang terasa dingin dan berat.

Adik memandangiku, matanya sembab, suaranya serak, “Maaf, Kak, aku sudah berusaha. Ibu… sudah pergi ketika aku pulang tadi siang.”

Jam-jam berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Para lelaki bersiap-siap menggali liang lahat di pekarangan belakang, sementara ibu-ibu menyiapkan segala keperluan untuk pemakaman. Aku sendiri hampir tak sanggup beranjak dari sisi Ibu.

Setiap kali kulihat wajahnya, serasa ia hanya tidur. Tapi aku tahu, ia sudah tiada. Atau begitulah aku percayahingga suara itu terdengar.

Bisikan yang Tak Seharusnya Ada

Di tengah malam yang sunyi, ketika semua mata tertuju pada persiapan terakhir, aku mendengar sesuatulirih, nyaris tak terdengar, seperti bisikan angin. Tapi itu bukan angin. “Nak…” suara itu begitu familiar, parau, penuh rasa lelah. Aku membeku.

Tanganku gemetar saat perlahan membuka sedikit kain yang menutupi wajah Ibu. Jantungku hampir berhenti ketika melihat kelopak matanya bergerak, bibirnya bergetar.

  • Detik itu juga, aku yakin aku tidak berhalusinasi.
  • Adik yang duduk di pojok ruangan pun mendengarnya, matanya melebar penuh ketakutan.
  • Ibu mengerang, napasnya berat, pelan-pelan ia membuka matanya dan menatapku kosong.

Semua yang ada di ruangan menahan napas. Seseorang berteriak histeris, seisi rumah panik, beberapa jatuh pingsan.

Aku sendiri hanya bisa menatap Ibu yang kini seperti kembali dari kematian, tangannya perlahan terangkat, mencengkeram lenganku dengan kekuatan yang tak mungkin dimiliki seseorang yang baru saja “meninggal”.

Pulang yang Menjadi Mimpi Buruk

Seseorang berlari keluar memanggil dukun kampung. Suasana berubah kacau, sebagian menolak percaya bahwa Ibu hidup kembali, sebagian lagi yakin ini ulah makhluk halus.

Di tengah kegaduhan, Ibu mulai meracau, matanya tak berkedip, suaranya berubah serak dan berat. “Jangan kuburkan aku… Aku belum selesai…”

Wajahnya yang sebelumnya damai kini tampak aneh, seolah-olah ada sesuatu yang lain bersemayam di balik kulitnya.

Ayah yang baru saja datang dari luar hampir saja menjatuhkan baki berisi bunga, ia terpaku melihat Ibu yang kini duduk tegak di atas dipan, menatap kami satu per satu dengan pandangan kosong.

  • Beberapa tetangga mulai membaca ayat-ayat suci dengan suara terbata-bata.
  • Salah satu kerabat mencoba mendekati Ibu, namun mundur saat Ibu mengerang dan memelototinya.
  • Adik memelukku erat, tubuhnya gemetar hebat.

Di luar, suara anjing menggonggong, angin bertiup kencang, ranting-ranting pohon menampar jendela. Rasanya dunia runtuh di malam itu. Ibuatau makhluk yang menyerupai Ibuterus berbicara, mengucapkan kalimat yang hanya bisa kami dengar samar-samar.

“Aku belum selesai… Jangan… Jangan tutup mataku…”

Malam Tanpa Jawaban

Waktu berjalan lambat. Aku tak tahu harus berbuat apamembawa Ibu ke rumah sakit, atau menunggu dukun kampung datang. Namun, sebelum kami sempat mengambil keputusan, lampu-lampu di rumah tiba-tiba padam. Kegelapan menyelimuti kami.

Dalam gelap, suara Ibu semakin keras, berubah menjadi jeritan memilukan yang tak akan pernah kulupakan.

Ketika lampu kembali menyala, dipan itu sudah kosong. Tak ada siapa-siapa. Hanya kain kafan yang tergeletak, basah oleh keringat danentah apa lagi. Aku menoleh ke sekeliling, semua terdiam, tak ada yang berani bergerak.

Sampai hari ini, aku masih pulang ke rumah itu setiap tahun. Setiap kali malam tiba, aku mendengar suara lirih memanggil namaku dari kamar Ibu.

Dan setiap kali aku membuka pintu kamar itu, dipan selalu tertata rapi, selimut putih terlipat di ujung ranjang. Tapi tak pernah ada siapa-siapa di sana.

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0